Mahasiswa
3 tahun lalu · 548 view · 2 menit baca · Politik chessset.jpg
Foto: commons.wikimedia.org

Politik Itu Suci, Jangan Kau Nodai

Saya akan mengawali tulisan ini dengan satu postulat bahwa tidak ada satu pun manusia di jagat bumi ini yang tidak berpolitik. Hal tersebut bernilai benar selama politik dimaknai sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan tertentu. Ya, secara sederhana, politik adalah ‘cara’ untuk mencapai sesuatu, apa pun itu.

Ibarat sebuah perjalanan, politik adalah tali penghubung antara titik awal dan tujuan akhir, di mana tanpa tali penghubung tersebut, antara kedua titik tak mungkin terhubung antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia selalu berupaya untuk membuat jalannya masing-masing supaya apa yang ia tuju dapat terwujud.

Dalam sebuah organisasi misalnya, sudah menjadi keniscayaan secara konstitusional menetapkan suatu tujuan ideal yang hendak diwujudkan dalam realitas kehidupan. Tujuan itu biasanya didasarkan atas nilai-nilai ideologis yang nantinya secara praktis akan direalisasikan melalui langkah-langkah politik yang strategis.

Dari itu, kita dapat mengambil pemahaman bahwa secara fitrah, politik merupakan suatu hal yang baik dan mulia. Kebaikan dan kemuliaan politik tersebut seirama dengan fitrah manusia yang secara potensial ia adalah makhluk yang cenderung kepada kebaikan dan kebenaran (hanif). Mengerjakan amal saleh (kerja kemanusiaan) adalah politik seorang hamba untuk mendapatkan keridaan Tuhannya.

Syaikh al-Rais Ibn Sina menyatakan bahwa ilmu itu terbagi dalam dua kelompok: teoritis (alimah) dan praktis (amilah). Nah, ilmu praktis itu meliputi etika (akhlaq), ekonomi, dan politik (siyasah). Tujuan dari ilmu teoritis adalah untuk mencari kebenaran, sedangkan tujuan dasar dari ilmu praktis —yang di dalamnya politik— adalah untuk mewujudkan kebaikan.

Namun demikian, dalam perjalanannya, politik memiliki makna yang negatif dan dipersepsikan sebagai suatu ‘profesi yang menjijikkan’. Dampaknya, kita pun terbawa arus dan alergi dengan istilah ‘politik’. Sekalinya berpolitik, hanya dilakukan sebagai sarana untuk mencapai kekuasaan dengan menghalalkan berbagai macam cara.

Saat ini, kita akan banyak sekali jumpai proses politik yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang tidak etis. Satu sama lain saling serang, saling ‘bunuh’, tak ada kawan dan lawan yang abadi karena menurutnya, yang abadi adalah kepentingan. Semua berjalan di atas nilai-nilai kepentingan yang sesaat, parsial dan temporal. Politik yang demikian sungguh tidak berkarakter, tidak didasarkan atas nilai-nilai kebenaran, dan abai terhadap hati nurani.

Ketika keadaannya seperti demikian, dunia politik akhirnya hanya diisi oleh mayoritas manusia-manusia rakus yang hanya mengandalkan egonya sebagai dasar untuk mewujudkan kepentingannya. Sedangkan, orang-orang baik tersingkir atau terbuang dengan sendirinya atau ia lebih memilih diam dan menempuh jalan sunyi dalam menjalani kehidupannya.

Mengutip A. Bakir Ihsan, politik tidak identik dengan kekuasaan. Kekuasaan hanyalah raga dari politik yang memiliki jiwa. Jiwa politik adalah nilai, norma dan tata krama yang hadir untuk kebaikan bersama. Karena itu, politik sejatinya tak hanya menjelma dalam bentuk kekuasaan, tetapi juga kerja-kerja kemanusiaan (amal saleh). Politik tanpa jiwa akan menghalalkan segala cara, abai pada etika, dan rakyat hanya atas nama.

Alhasil, politik adalah keniscayaan dalam tata kehidupan ini. Marilah kita sama-sama kembalikan nilai dan citra politik pada fitrah asalnya, yaitu kebaikan. Janganlah ia kau nodai, karena kesuciannya adalah modal untuk mewujudkan kebaikan bersama.