Penikmat kopi
3 tahun lalu · 1789 view · 2 min baca · Politik bhinneka_tunggal_ika_ok.jpg
Bhinneka Tunggal Ika

Politik Identitas

Saved Pemuda

Nyaris disemua momen politik kita temui beragam bentuk konflik yang cenderung anarkis dengan dalil identitas seperti suku dan agama serta ras. Realitas ini merupakan masalah terakut negeri kita yang masih meraba format ideal dalam ranah politik.

Kecenderungan politik identitas seolah menafikkan yang dalam nomenklatur Islam dinamakan Sunnatullah. Kemajemukan suku, agama dan ras yang sejatinya menjadi modal dalam membangun peradapan namun belakangan menjadi isu polarisasi dalam bernegara.

Pilkada sebagai salah satu arena politik lokal dalam memilih pemimpin lokal merupakan contoh momen politik yang didalamnya terjadi intoleransi dan kekerasan sebagai dampak politik identitas.

Bila kita kilas balik pilkada 2012 DKI dan pilpres 2014 yang lalu, akan kita temukan dengan jelas politik identitas yang melahirkan tokoh kafir dan tokoh etnis non-pribumi sebagai bagian dari kekerasan verbal dan bentuk intoleren dalam berbangsa.

Dalam kedua kasus tadi politik identitas dapat disimpulkan gagal walaupun ada didaerah lain yang menang dengan politik identitas seperti yang terjadi di Aceh. Poin tulisan bukan pada hasil pilkada namun pada bagaimana kita mampu meminimalisir politik identitas yang akhirnya hanya akan mengkotomi massa secara politik maupun kehidupan sosial pasca momen politik berlangsung.

Pada kenduri politik nasional 2014 kita ketahui ada dua pasang kandidat yang bertarung guna meraih kursi RI-1 dan 2. Kedua pendukung masing-masing kandidat masih sangat kentara menggunakan politik identitas dan dampaknya bahasa cacian dan makian menjadi pilihan guna mendiskreditkan lawan politik selain polarisasi rakyat Indonesia setelah kenduri politik nasional (pilpres) berakhir.

Jelang kenduri politik lokal 2017 mendatang terutama di DKI dengan adanya sosok dari kalangan minoritas namun mayoritas secara elektabilitas, telah menyebabkan politik identitas menjadi salah satu andalan guna memenangkan kompetisi

Adalah Ahok yang merupakan ujian berdemokrasi kita berjalan dengan benar sehingga menuju demokrasi yang aqil baligh atau politik identitas masih mewarnai demokrasi di DKI sebagai barometer politik nasional.

Selama ini melalui sosial media kita selalu disajikan tampilan pendiskreditan Ahok berdasarkan agama dan etnisnya, ada kelompok Islam yang masih mempersoalkan agama Ahok yang harusnya dihormati karena hal itu dilindungi dalam konstitusi negara

Tentu kita pun mencoba memahami pemahaman yang berbeda dalam melihat kandidat dalam sisi etnis dan agama namun demikian tidak boleh menjadi satu konsumsi serta menyebar karena dampaknya meluas. Perkara tersebut akan merusak mental rakyat yang kadang hanya mengambil sempalan dalil agama sehingga makin kabur mana boleh dan mana yang tidak.

Kita sering saksikan bagaimana seorang pencuri ayam bisa lumat dihajar massa padahal kesalahan pencuri tak sebanding dengan perlakuan massa terhadapnya. Demikian pula bila politik identitas yang dikedepankan oleh mayoritas maupun minoritas dalam kenduri politik lokal 2017 mendatang.

Pemuda dan Politik Identitas
Kalau kita melirik kelompok yang mudah terbakar semangatnya karena terkadang hanya melihat satu sisi sebuah persoalan, maka politik akan mempengaruhi pertumbuhan intelektual mereka. Kelompok pemuda adalah salah satu kelompok yang rawan dimasuki pikiran radikal anarkis karena masa muda adalah masa perlawanan, penuh semangat dan gelora.

Perjuangan bangsa ini tak lepas dari pemuda yang berjiwa nasionalis, tanpa melihat kesukuan dan agama mereka sama-sama bahu membangun memperjuangkan kemerdekaan. Jelang pergantian orde Soekarno-Soeharto, kelompok pemuda terutama mahasiswa sempat terjebak politik identitas antara lembaga internal dan eksternal kampus.

Belakangan ini gerakan mahasiswa dan pemuda juga mulai terpengaruh dengan politik identitas. Banyak mahasiswa dan pemuda belakangan ini terpengaruh dengan kelompok BOM bunuh diri dan sejenisnya untuk mengaktualisasikan paham yang mereka pahami dengan cara-cara yang menakutkan serta irasional.

Politik identitas yang salah akan membuat bangsa ini pecah berkeping sebagaimana sejarah lahirnya negara dalam negara, Politik identitas yang benar akan selalu saling menghargai perbedaan, tetap menampilkan identitas tanpa menggurui apalagi memaksa dalil, argumen, untuk menjustifikasi orang yang berbeda identitasnya. Berbeda-beda tetap satu jua.

Artikel Terkait