Sebagai musisi dan simpatisan politik, menarik atensi masyarakat adalah salah satu keahlian yang dimiliki Ahmad Dhani.

Salah satunya melalui video di YouTube yang menampilkan dirinya dengan judul Pengantar Ilmu Politik Part 1 “Politik Iblis” Membongkar Kekejaman Komunisme dan Pengantar Ilmu Politik Part 2 “Politik Manusia” Konspirasi di Balik Covid 19 yang diunggah akun Video Legend pada 11 dan 14 April 2020 lalu. Atau sampai tulisan ini dibuat.

Dalam video tersebut, Ahmad Dhani menyebut akan berbicara mengenai pengantar ilmu politik, atau politic for beginners. Bukan berdasarkan referensi bacaan ilmu politik, melainkan dengan pemikirannya sendiri dan caranya memandang politik, seperti klaim dirinya di awal video.

Dalam pembahasannya, ia menyebut ada tiga terminologi dalam politik: Politik Iblis, Politik Manusia, dan Politik Kenabian.

Politik Iblis dikatakannya sebagai politik yang tidak mengenal Tuhan dalam praktik politiknya, sedangkan Politik Manusia dikatakannya sebagai politik yang manusiawi. Tidak ada definisi lebih lanjut mengenai dua hal ini.

Tentu penulis menghargai betul hasil pemikiran Ahmad Dhani yang kemudian dituangkan dalam video tersebut. Oleh karena itu, tulisan ini tidak membicarakan kehidupan personal dan latar belakangnya, melainkan kepada apa yang disampaikan Ahmad Dhani dalam videonya.

Potensi Misleading dan Tendensius

Selain Politik Iblis dan Politik Manusia, pernyataan serupa juga pernah diucapkan oleh Amien Rais terkait dikotomi Partai Allah dan Partai Setan, atau simpatisan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan “orang baik pilih orang baik” dalam kampanye pilpres.

Terdengar biasa saja, namun istilah ini mempunyai makna yang cukup dalam. Terlebih jika ditujukan kepada orang awam yang minim pengetahuan politik.

Dengan akses pengetahuan yang terbatas, media sosial menjadi sarana alternatif dalam proses penyerapan informasi. Tentu dengan konsekuensi minimnya validitas atas informasi yang didapat.

Kedua istilah tersebut kemudian menciptakan kesan adanya binary opposition dalam politik. Memunculkan narasi orang jahat-orang baik, serta mendiskreditkan kelompok lain yang mempunyai cara pandang berbeda dalam memaknai politik. 

Akibatnya, politik dipandang sebagai sebuah proses yang kotor dan berfokus pada perebutan kekuasaan.

Padahal, mengutip dari buku Dasar-Dasar Ilmu Politik karya Prof. Miriam Budiardjo, politik merupakan sebuah proses atau usaha untuk menggapai kehidupan yang baik. Sederhananya, politik tidak hanya berfokus kepada merebut dan mempertahankan kekuasaan. Namun juga mencakup distribusi sumber daya yang adil kepada masyarakat.

Sekalipun dalih yang digunakan adalah asumsi pribadi. Namun bagaimanapun, hal ini tidak bisa menutupi fakta bahwa asumsi Ahmad Dhani telah menjadi konsumsi publik bersamaan dengan diunggahnya video tersebut.

Pada judul video pertamanya ditulis “Politik Iblis” yang kemudian dilanjutkan dengan “Membongkar Kekejaman Komunisme”. Kemudian pada video kedua menulis frasa “Konspirasi di Balik Covid 19” setelah frasa “Politik Manusia”. Cukup provokatif dan tendensius.

Kemudian pada menit 12 dalam video pertama juga muncul tuduhan serius terkait labeling Politik Iblis. Ahmad Dhani menyebut bahwa mereka yang berpolitik tidak menggunakan rasa kemanusiaan adalah komunis. Pernyataan ini merupakan tuduhan serius yang juga menggeneralisasi

Setidaknya harus ada pembuktian terlebih dahulu apakah komunisme benar masih ada atau tidak di Indonesia. Apabila tidak terbukti, maka tuduhan ini hanya akan makin memperkeruh suasana di tengah masyarakat yang memiliki fobia terhadap hantu komunis.

Selain itu, klaim ini juga memberikan kesan menyudutkan satu pihak. Terlepas dari ada atau tidaknya komunisme di Indonesia, mengaitkan perilaku politik seseorang berdasarkan ideologi yang dianutnya merupakan kesimpulan prematur. Ada beberapa variabel yang harus dikaji sebelum sampai kepada kesimpulan tersebut.

Tuduhan lain muncul dalam video keduanya yang membahas tentang Politik Manusia. Dalam pernyataannya bahwa Corona dicurigai merupakan hasil dari rekayasa politik. Ada kepentingan manusia di dalamnya untuk mendapatkan keuntungan dengan menyebarkan virus ke seluruh dunia.

Lagi-lagi tuduhan serius dan lemah akan pembuktian. Pun tuduhan ini berbahaya jika dikonsumsi masyarakat awam yang mudah termakan informasi yang tidak valid. Terlebih, saat ini masyarakat tengah panik akan bahaya pandemi Corona. 

Pengantar yang Tidak Mengantar

Kedua video yang diunggah akun Video Legend ini sudah mampu menarik atensi publik dengan judulnya. Frasa “Pengantar Ilmu Politik” menjadi daya tarik sendiri dan membuat kami berfantasi terkait penjelasan politik sebagai ilmu.

Ternyata harapan untuk mendapatkan penjelasan politik sebagai sebuah disiplin ilmu sudah dipatahkan jauh sebelum pembahasan dimulai. Harapan argumen ilmiah yang diperoleh dari literatur ilmu politik ternyata hanya argumen dengan dasar asumsi.

Jika video ini dikatakan sebagai pengantar ilmu, maka sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai pengantar. Bahkan ketika berbicara soal ilmu, tidak ada basis keilmuan yang dijadikan acuan dalam membangun argumen. Tidak ada yang bisa dijadikan bukti, atau dipertanggung-jawabkan.

Sangat disayangkan pula banyak asumsi dan prasangka yang muncul ketimbang argumen ilmiah yang diberikan. Dengan banyaknya orang yang menonton video ini, pernyataan di dalamnya sedikit banyak memberikan pengaruh kepada penonton untuk mempunyai pemikiran yang sama.

Dalam membuat terminologi Politik Iblis dan Politik Manusia misalnya, selain potensi terjadinya misleading dan tendensius, argumen yang dibangun dalam video tersebut juga sama sekali tidak bersifat saintifik.

Seperti yang disebutkan Ahmad Dhani dalam video yang sama, bahwa tidak ada satu pun referensi yang menyebutkan adanya terminologi tersebut dalam diskursus ilmu politik. Sejujurnya, pembahasan soal saintifik atau tidak sudah selesai sampai pada pernyataan ini.

Kemudian permasalahan double standard dan konsistensi dalam pembatasan terminologi. Dalam video keduanya, dikatakan bahwa Politik Manusia tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya jahat. Pun sama halnya Politik Iblis tidak hanya ada di rezim pemerintahan komunis, tapi juga ada di rezim pemerintahan kapitalis.

Pernyataan tersebut dengan sendirinya mematahkan pernyataan di video pertama, yang juga didukung dengan gambar pendukungnya, bahwa klaim Politik Iblis sama dengan komunis.

Sampai sini saya teringat ucapan Jean Marais kepada Minke dalam novel roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bahwa: seorang terpelajar haruslah berlaku adil sejak dalam pikiran.

Dalam membuat sebuah terminologi baru yang belum ada dalam diskursus ilmu politik, tentu bukan hal yang mudah. Ada indikator yang harus digunakan untuk mengoperasionalkan variabel Politik Iblis dan Politik Manusia seperti yang dimaksud, agar tidak ada tumpang tindih dalam penggunaannya.

Tentu tidak semua pernyataan perlu dikritisi, ada pula yang harus disepakati. Misal, benar bahwa politik sudah ada sejak manusia itu ada. Manusia adalah makhluk politik yang tidak bisa lepas dari aktivitas politik dalam keseharian kita.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kepekaan dalam politik harus terus diasah. Terlebih, politik banyak memainkan perannya dalam hal pengaruh.

Harus saya akui, video tersebut sudah cukup memberikan gambaran bagaimana politik bekerja.