Harus disadari bahwa dunia politik di Indonesia selama ini, hanya memberi ruang-ruang kecil bagi generasi muda untuk ikut mengambil peran, bergerak dan berakselerasi  dalam proses demokrasi. Generasi muda dengan jumlah pemilih muda yang begitu besar, selama ini hanya menjadi objek garapan partai politik untuk kepentingan mendulang suara dalam pemenangan pemilu.

Persoalan generasi muda dan politik sebenarnya bukan hanya sekedar persoalan apatisme dan minimnya aspirasi politik generasi muda. Sebab menurut Max Halupka, ukuran keterlibatan generasi muda di bidang politik sangat tergantung bagaimana mendefinisikannya. Jika keterlibatan politik hanya diukur dengan kegiatan tradisional seperti bergabung dengan partai politik, dan kegiatan politik praktis lainnya mungkin saja persentase keterlibatan generasi muda Indonesia saat ini belum begitu besar.

Namun, keterlibatan generasi muda dalam dinamika politik di Indonesia juga tidak bisa dikatakan minus sebab faktanya pada pemilu 2009, generasi muda cukup banyak yang mencoba ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. ada 38 partai politik nasional yang bertarung sebagai peserta pemilu dan sebagian besar dari partai baru yang ikut dalam pesta demokrasi tersebut lahir dan dibidani oleh generasi muda. Namun sayangnya, partai-partai tersebut akhirnya tumbang dan tidak mampu bertahan dalam kerasnya kompetisi politik konvensional di Indonesia.

Ada banyak faktor yang membuat eksistensi partai politik yang dinahkodai oleh generasi muda tidak mampu bertahan dalam politik konvensional di Indonesia seperti Kemapanan ideologis partai, kemampanan financial pemilik partai, penguasaan media elektronik seperti TV dan media massa yang lebih banyak dikuasai oleh para pemilik partai-partai besar, selain itu regulasi dan sistem demokrasi kita yang masih memberi ruang terjadinya Money Politic dan praktek KKN dalam proses demokrasi.

Pertanyaan yang muncul kemudian apakah generasi muda akan selalu menjadi objek politik..? jawabanya tentu tidak. Jika kita coba mencermati proses Pilpres 2014 tentu ada fenomena unik yang terjadi. Dimana pemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden lebih didominasi oleh Politik Digital bukan Politik Konvensional. Itu artinya mesin politik digital seperti media sosial dan pemberitaan online lebih signifikan mempengaruhi pemilih dibandingkan mesin partai yang selama ini bergerak secara konvensional.

Dalam era transformasi teknologi dan informasi, politik digital atau Cyberpoliticon telah menjelma menjadi sebuah kekuatan baru dalam dunia politik di Indonesia. Cyberspace (ruang digital) tak lagi hanya sebagai saluran komunikasi namun sudah sudah bertransformasi menjadi sarana baru bagi warga negara menginterupsi pemerintah, sarana menggalang aspirasi, media sosialisasi dan kampanye politik hingga menjadi sarana efektif dalam membangun citra diri maupun citra politis.

Pemegang kendali kekuatan dalam Cyberspace adalah generasi muda (generasi millennium dan generasi net), Menurut teori generasi, generasi milenium yang disebut sebagai generasi Y adalah generasi yang terlahir antara tahun 1981 sampai dengan 1994 dan generasi net atau disebut generasi Z adalah generasi yang terlahir antara tahun 1995–2010

Dua generasi itu memiliki perbedaan secara signifikan dalam pola komunikasi dan penguasaan teknologi informasi  jika dibandingkan dengan generasi baby boomer  yang terlahir antara tahun 1946 sampai dengan 1964 dan generasi X yang terlahir antara tahun 1965–1980 yang selama ini menjadi penguasa partai politik di Indonesia.

Digitalisasi politik akan menjadi ancaman serius bagi “pemain-pemain lama” dalam dunia politik konvensional. Sebab digitalisasi politik akan lebih mengarah pada pemberdayaan dan pencerdasan pemilih (terutama generasi muda) sebagai buah dari keterbukaan informasi. Politik digital juga dapat kita maknai sebagai sebuah pemberontakan terhadap politik konvensional yang selama ini mengakar kuat dalam sistem demokrasi di Indonesia.

Pertanyaan yang masih harus dijawab oleh generasi muda Indonesia adalah apakah digitalisasi politik ini hanya akan bergerak dalam ruang virtual, menggema dalam dunia maya. Namun tidak teraplikasikan dalam bentuk nyata..? karena betapapun besarnya energy yang mampu terserap oleh generasi muda dengan menggunakan ruang-ruang digital yang ada, tidak akan berati banyak jika generasi muda hanya menjadi pemain politik bayangan yang bersembunyi dibalik layar monitor dan bergerak hanya diatas Keyboard.

Generasi muda mustinya mampu membaca peluang besar dengan hadirnya  Cyberpoliticon sebagai alternatif ruang dalam berpolitik. Sebab dalam dunia digital efisiensi dan efektifitas penyebaran informasi akan lebih massif. Dengan adanya ruang digital biaya politik (cost politic) dapat ditekan sehingga generasi muda yang ingin menjadi pemain baru dalam dunia politik dapat tetap bersaing dengan pemain-pemain lama yang menguasai konsep politik secara konvensional.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana menghimpun energy-energy muda yang tersebar dalam ruang-ruang digital ini untuk berintegrasi membentuk sebuah kekuatan besar yang dapat merevolusi model demokrasi di Indonesia.

Untuk menjawab persoalan tersebut, harus ada “wadah pemberontakan” dalam bentuk partai politik baru yang mampu memberikan presfektif berbeda bagi masyarakat (khususnya generasi muda) sehingga kepercayaan generasi muda akan dunia politik (khususnya partai politik) yang selama ini menurun drastis dapat tumbuh kembali sebagai sebuah semangat perubahan.

Partai politik generasi muda dengan konsep kekinian yang mampu memainkan cyberspace (ruang digital) sebagai saluran politik, ideology, ide serta gagasan akan menjelma sebagai kekuatan baru dalam dunia demokrasi Indonesia. Kekuatan yang nantinya tidak hanya bermuara pada kepentingan kekuasaan tapi juga bermuara pada kepentingan pencerdasan bangsa.

Sekali lagi, jika kekuatan besar ini mampu dioptimalkan oleh generasi muda, tentu akan mampu merubah “kiblat politik di Indonesia” dan Ungkapan “Generasi Muda menjadi Garapan Partai Politik”, sepertinya akan berganti dengan ungkapan “Partai Politik Menjadi Garapan Generasi Muda”