1 bulan lalu · 199 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 45250_60568.jpg
Flickr

Politik, Cinta, dan Persahabatan

Laki-laki itu berkemeja merah dan berbadan tegap. Suara langkah kakinya menghampiriku yang tengah sendirian membaca buku “The Great Of Two Umars” di perpustakaan pusat kampus. “Layla.. Hai…” Sapaannya masih ramah seperti saat pertama malu-malu kenal.

Lalu dia duduk sejenak di kursi depanku. “Hai kok tumben disini, lama yah nggak ada kabar.” Semenjak aku tidak lanjut kepengurusan lembaga dakwah kampus, kami memang jarang saling memberi kabar karena kesibukan masing-masing, dia yang sibuk magang dan ketua LDK sedangkan aku fokus mengerjakan skripsi. “Iya nyari referensi jurnal kesehatan disini.” katanya.

Lalu dia ke rak buku mencari referensi jurnalnya. Dia memang aktivis dakwah kampus yang penuh semangat dan dedikasinya sangat tinggi.. Kajian-kajian tiap fakultas bertemakan motivasi dakwah tak jarang ialah dia yang mengisi. Barangkali semakin populer juga dia di lingkungan LDK ini terutama kalangan ukhtii-ukhtii yang stalking instagramnya. Hmmm…..

Pertemanan kita mulai akrab sejak aku menolak lamarannya setahun yang lalu. Yah waktu itu aku masih semester enam. Aku heran kenapa dia memilih aku. Aku pikir dia sudah mencenderungkan hatinya kepada salah satu akhwat yang satu fakultas dengannya dan bukan diriku yang dari fakultas sastra.

“Why did you choose me? kita kan teman”“Aku suka sikapmu, marahmu, dan terutama keramahanmu.” Hmmm… tapi aku tolak begitu saja saat itu. Bisa dibilang aku masih cuek masalah cinta-cintaan dan melawan baper semua hal tentang ajakan-ajakan nikah seperti yang lantang dijarkomkan postingan-postingan ajakan menyempurnakan separuh agama yang banyak diartikan sebagai nikah.


Yah aku ingat saat itu di situs Giri Kedaton. Waktu itu aku bersama teman-temanku mencari bahan tulisan situs sejarah dan ia menghampiriku sebentar katanya. Hah aku pikir dia bawain aku makanan ternyata dia mengungkapkan perasaannya. Tapi setelah penolakan itu dia tidak se-instens chat aku. Tapi ya sudahlah mungkin dia butuh waktu sendiri pikirku.

“Mari merapat ke situs Giri Kedaton, mengenal dan mencintai sejarah dan budaya adalah bagian dari cinta tanah air. Berbeda pilihan sudah biasa, tapi jangan sampai kebencian menutup nurani hingga kita lupa akan warisan nusantara yang perlu dilestarikan.” 

Ah masih sempat-sempatnya dia di rak buku buat story whatsapp apalagi tentang Giri Keraton yang buat aku ingat saat itu.

Lalu aku balas storynya, “Ji.. udah nemu buku referensimu?”. “Udah lay ini aku mau balik ke kost.” Jawabnya.

Aku melamun sebentar. Suasana usai pemilu ternyata masih ramai. Aku pikir usai pemilu terutama setelah pengumuman hasil rekapitulasi suasana akan lebih damai ditambah lagi dalam suasana bulan yang penuh mulia ini di bulan Ramadhan.

Maraknya narasi kebencian dibanding narasi perdamaian tidak mempengaruhi pertemanan antara aku dengan Jiana. Yah… meskipun pada masa kampanye dulu, story-story Jiana tentang 02 selalu rutin dikampanyekan. Ah kadang risih sih tapi ya lama-lama udah terbiasa. Eh mungkin dia saat lihat storyku tentang 01 juga risih. Ah sudahlah….

Aku heran dengan suasana sekarang. Narasi jihad atas nama Islam digelorakan oleh para demonstran. Apalagi di sosial media banyak sekali argument-argumen masing-masing pendukung 01 dan 02. Ah aku butuh ketenangan dari dunia maya ini.

Akhirnya aku memutuskan puasa media sosial terutama instagram. Eh Alhamdulillah lagi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengambil langkah membatasi akses media sosial untuk pengguna internet di Indonesia mulai Rabu (22/5/2019), untuk meredam pasca kericuhan seusai Pemilihan Umum (Pemilu). Ah ini mengingatkanku masa di pesantren dulu yang jauh dari media sosial.

“Layla, aku balik dulu ya.” Jiana lewat dan pamitan. “Hai.. Iya Ji hati-hati di jalan.” Sepertinya dia tergesa-gesa balik. Ah sudahlah aktivis memang selalu sibuk dan banyak jadwal wira-wiri kemana-kemana. Doaku untuknya, semoga dia tetap diberi kesehatan.

23 Mei 2019

Di kost aku masih melamun heran sambil menonton youtube. Ayat demi ayat Al-Quran digaungkan dan berkali-kali juga hadits nabi dilontarkan sebagai penguat orasi. Al-Quran dan Hadits menjadi barang murah untuk dijadikan tameng segelintir orang. Jika ini disamakan dengan perang badar, siapa yang sedang dilawan? Jikalau yang dilawan adalah pemerintahan Jokowi, sedzalim apa Jokowi sampai perlawanan terhadapnya seolah-olah disyariatkan agama?

Aksi-aksi yang dibalut dalam kemasan pernak-pernik politisasi agama Islam malah mencederai makna jihad itu sendiri. Aku jadi ingat perkataan Gus Mus di Youtube judulnya “Blak-blakan Gus Mus, Pemilu Bukan Perang Badar.”


Beliau mengatakan bahwa Allah melarang umatnya berlebih-lebihan dalam hal apapun “Berlebih-lebihan sampai ayat dibawalah, Tuhan dibawalah, dan segala macam. Sampeyan bayangkan, orang Islam tahu persis setiap saat mengatakan Allahu Akbar itu artinya Allah itu besar sekali, artinya kita itu kecil sekali.”

Gus Mus juga menambahkan, “Benci yang berlebih-lebihan, cinta yang berlebih-lebihan, mendukung yang berlebih-lebihan, itu dapat menghilangkan akal.”

Di tengah lamunanku dengan suasana sekarang. Tiba-tiba Jiana mengirim pesan whatsapp, “Layla, aku nanti malam berangkat ke Jakarta ikut aksi.” Hmmmm… Aku diam sejenak. Waw emang benar-benar aktivis yah dia, tapi kenapa juga dia memberi kabar atau pamit kepadaku. Ah sudahlah memang itu jalan yang dipilih ketua LDK itu. “Lay?” chatnya masuk lagi. Jadi bingung mau balas apa. “Hai iya, semangat Jiana.”

Surabaya, 22 Mei 2019

Artikel Terkait