Setelah sidang-sidang Ahok sebelumnya yang menghadirkan saksi pelapor, tim kuasa Ahok berhasil membuka satu demi satu keburukan FPI. Mulai dari saksi yang tidak jujur, sampai saksi yang dalam berita BAP sama persis dengan yang lain,bahkan sepatu yang dikenakan mereka.

Dengan kata lain,Tim Ahok berhasil membongkar kedunguan FPI. Angin segar berhembus, Ahok berhasil mendapat kepercayaan masayarakat kembali.  Masyarakat yang sebelumnya terlibat aksi bela Islam dan mendukung Rizieq Shihab sedekit demi sedikit tercerahkan, bahwa setidaknya mereka mendukung kelompok yang bukan berniat membela Islam tapi membela kelompoknya sendiri.

Namun sidang ke-8, sangat disayangkan, Ahok kurang bisa menahan diri. Ia melakukan politik bunuh diri. Saat itu saksi dari MUI yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum adalah KH. Ma’ruf Amin, yang menjabat sebagai ketua MUI sekaligus Ro’is Syuriah NU.

Entah kenapa yang dhadirkan bukannya Bachtiar Nasir, yang juga menjabat sebagai wakil sekretaris MUI sekaligus ketua GNPF-MUI, yang paling getol membuat aksi untuk menjatuhkan Ahok. Kesaksian Ma’ruf Amin di pengadilan tentu membuat sebagian pihak menjadi bingung, apakah  beliau mewakili NU atau karena kapasitasnya sebagai ketua MUI.

Hal yang paling sangat disayangkan adalah ketika Ahok menuding KH. Ma’ruf Amin mendapat telepon dari SBY untuk kemenangan paslon no 1, sebab itu artinya membawa Ahok pada kasus yang lebih besar. Sebagian warga NU yang awalnya sangat simpati menjadi kecewa.

Kok Ahok gak bisa jaga perkataan pada sesepuh NU? Demikian tudingan orang-orang NU. Bukannya selama ini para elite dan sebagian warga NU-lah yang dengan tegas menolak gerakan FPI untuk mengganyang Ahok? Lalu kenapa sekarang balik melaporkan kyai Ma’ruf yang nota bene petinggi NU juga pada polisi?

Memang, posisi Ahok sebagai tersangka membuatnya jadi semakin tak sabaran. Sidang demi sidang tak ada yang memuaskan. Ia terancam kurungan. Berbagai strategi ia lancarkan agar bisa menang di persidangan. Tapi trik Ahok kali ini gagal. Meskipun mungkin saja fatwa MUI ada sangkut pautnya dengan politik atau katakanlah ada pihak memaksa, tapi menyerang Kyai Ma’ruf Amin dianggap kurang beradab.

Masyarakat akan beranggapan, jika Ahok menyerang GNPF-MUI itu tak masalah. Beberapa pihak juga banyak yang antigerakan GNPF MUI. Para elite NU pun juga banyak yang tak setuju. Tapi menyerang salah satu ulama NU jelas salah besar. Meskipun sudah dijelaskan sejak awal bahwa Kyai Ma’ruf Amin bukan saksi dari NU, tapi dari MUI.  

Mendengar sikap Ahok dan tim kuasanya yang ingin menyudutkan salah satu elit NU, Banser dan GP Ansor berang. Mereka bahkan siap-siap mau demo jika memang Kyai Ma’ruf Amin dipolisikan. Hal ini pula yang kemudian membuat kelompok yang dari awal ingin kejatuhan Ahok tiba-tiba dengan semangat ingin mendekat pada NU. Dengan dalih ingin menyelamatkan Ma’ruf Amin dan dengan tagline gerakan bela ulama NU.

Media sosial ramai. Orang-orang yang tadinya sangat membenci ulama NU karena dianggap tidak mendukung FPI, lalu koar-koar siap ikut barisan BANSER dan GP Ansor. Orang-orang yang tadinya sering memfitnah ulama NU, semisal Gus Dur,Gus Mus, Quraish Shihab, dan Said Aqil Siradj, dengan tuduhan syiah, sesat,liberal dan sebagainya kemudian yang paling lantang mengambil sikap bela ulama.

Mereka bahkan siap demo besar-besaran, lebih besar dari tiga demo sebelumnya.

Tim kuasa Ahok kualahan. Mereka menyadari kesalahan. Meskipun memang awalnya mungkin tidak ada  niatan untuk mengadukan Ma’ruf Amin pada polisi, tapi masyarakat yang kadung marah tidak bisa dibisiki hanya dengan permintaan maaf lewat video. Kesalahan Ahok saat ini terlanjur fatal. Ia lantas juga harus berhadapan dengan SBY yang memang sangat menginginkan anaknya untuk menduduki jabatan.

Ahok pun harus makan buah simalakama. Ia jatuh lagi pada kubangan atas kecerobahannya sendiri.

Beruntung orang-orang yang menjabat di elite NU adalah orang-orang berilmu, beragama, dan berintegritas. Mereka menilai suasana seperti ini jelas akan dimanfaatkan oleh kaum radikal yang sejatinya ingin kejatuhan NU dan beberapa partai politik yang sangat  ingin mengambil alih pemerintahan Jokowi. Negara bisa semakin chaos jika elite NU membiarkan warganya untuk ikut demo.

Oleh karena itu, Said Aqil berusaha menenangkan warganya. Yenni Wahid mengajak Banser dan Ansor untuk menahan sikap. Bahkan Ma’ruf Amin sendiri menyatakan memaafkan Ahok dan mengajak semua orang islam untuk memaafkannya. Case Close. Masalah Selesai.

Jika masalah dianggap selesai oleh NU karena memang orang-orangnya penuh maaf, tapi tidak bagi SBY. Dia sangat menantikan situasi ini. Sebelum-sebelumnya SBY hanya bisa curhat melalui Twitter karena kurang dukungan dari masyarakat, maka kali ini dia mulai berani menampakkan diri. Konferensi pers digelar untuk menjawab tudingan tim Ahok beberapa menit setelah persidangan.

Dia bahkan mengatakan akan menggiring Ahok dan tim kuasanya ke penjara karena telah mematai-matai percakapannya. Mantan presiden ini pula beberapa kali menyinggung  jika banyak pihak yang telah membuat fitnah kepadanya dengan mengatakan bahwa aksi demo FPI dan GNPF MUI adalah hasil perbuatannya. Dia berharap Jokowi mengundangnya ke istana untuk menjawab tuduhan makar yang  sering dialamatkan padanya.

Ya, sayang sekali memang, Ahok yang jujur harus berhadapan dengan orang-orang yang mata duitan. Ahok yang pekerja keras dan ingin berbakti pada negeri harus berhadapan dengan kelompok rasis yang hanya mementingkan diri sendiri.

Ahok yang menentang keras koruptor, harus berhadapan dengan para petinggi yang gemar main uang kotor. Kerja keras nya telah membuat pembangunan Jakarta lebih berkembang, membuat jalan tak lagi dikelilingi air tergenang harus dibayar dengan fakta persidangan yang melelahkan.

Seandainya saat itu ia tetap pada pendirian, tetap maju sebagai calon indepeden. Tetap rendah hati menghadapi kelompok yang telah menganggu kredibitasnya, mungkin kejadian ini tak terjadi. Tapi tak mengapa, kejadian ini membuatnya harus introspeksi diri dan mulai belajar pada Jokowi, untuk cuek terhadap fitnah dan tetap bekerja keras, lalu menunjukkan pada masyarakat prestasinya.

Bagaimanapun kesalahan perkataan Ahok, saya masih melihat dedikasinya pada negeri. Jakarta di tangannya sudah jauh lebih baik dan berbenah diri. Dari lubuk hati yang dalam, saya masih berharap tahun ini ia tetap terpilih lagi untuk menjadi gubernur yang ikhlas mengabdi. 

Selanjutnya kita akan lihat, bagaimana sikap Jokowi pada SBY. Kasus Ahok ini memang seperti novel yang belum habis dibaca. Halamannya masih panjang dan alur ceritanya seringkali penuh teka teki dan sering tak terduga. Jika pemerintah tidak mampu meredam orang-orang haus kekuasaan yang sering membungkusnya atas nama agama, bukan tak mungkin Indonesia mengikuti negara Arab lain yang mati penuh derita karena gerakan Islam radikal merajalela.

Tapi saya berharap tidak, Indonesia masih punya ulama NU yang tetap berdiri tegak memperjuangkan agama dengan empat pilar: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal (moderat, seimbang, toleran, dan tegak).