Wartawan
2 tahun lalu · 673 view · 5 min baca menit baca · Politik jimi_hendrix.jpg
listenrecovery.wordpress.com

Politik Anak Muda dan Ideologi Rock

Ada satu predikat yang melekat pada diri Joko Widodo (Jokowi), dan itu membuatnya jadi istimewa-–mungkin juga unik–-dibandingkan seluruh figur pemimpin di negeri ini. Dia seorang metalhead, pecinta berat musik beraliran keras.

Tak hanya mengoleksi album-album Metalica, Black Sabath, Slayer, Megadeth, Lamb of God, Motorhead, Iron Maiden, Montley Crue, Sepultura, Napalm Death, Led Zeppelin, Deep Purple, dan lainnya, Jokowi juga mampu memainkan (terutama dengan bass) sejumlah track dari band-band ini. Di akhir masa SMA hingga di perguruan tinggi, dia berambut gondrong.

Rock bukan sekadar aliran musik. Rock mengandung banyak filosofi. Rock adalah ideologi. Tentu saja, kita tahu betapa yang disebut ideologi seringkali cuma sempurna dalam teori. Tidak ada yang betul-betul ideal. Bahkan tak sedikit yang sudah rusak dan gagal sebelum sempat dipraktikkan.

Dan kita juga sudah sama-sama tahu, para politisi, baik yang serius maupun yang dagelan, sama-sama menawarkan ideologi saat mereka memasuki panggung politik. Terlebih-lebih panggung politik menjelang pemilihan umum. Beragam ideologi dikedepankan. Mulai yang umum dan logis sampai yang ekstrem dan serba ngibul.

Namun terlepas dari nilai dan kehormatannya, di panggung politik, kadang kala keekstreman dan kengibulan seperti ini tetap saja bisa diterima. Umumnya disebabkan dua perkara. Pertama, kecenderungan pemikiran bahwa segala sesuatu yang ekstrem adalah keren. Kecenderungan model begini biasanya muncul pada anak-anak muda.

Pemilih-pemilih pemula dan mahasiswa yang masih buta politik, serta kalangan aktivis yang masih bersemangat mewujudkan cita-cita meletuskan revolusi. Ekstremitas akan membentuk perbedaan dan berbeda dipandang keren. Muda, beda, dan-–lantaran itu inginnya dianggap–-“berbahaya”.

Perkara kedua adalah kebosanan, yang pada puncaknya melahirkan sikap pesimis dan bahkan skeptis. Pada titik ini, pemilih akan mencari alternatif-alternatif baru. Dan mereka tidak peduli apakah alternatif tersebut menawarkan hal-hal ekstrem dan ngibul. Inilah yang terjadi pada Amerika Serikat sekarang. Satu kontradiksi yang sungguh-sungguh aduhai: Donald Trump maju sebagai calon presiden dari Partai Republik yang konservatif.

Politik Indonesia pascakemenangan Jokowi di Pemilu 2014 juga mengalami perubahan signifikan. Kemenangan yang sedikit banyak telah membuka mata banyak pihak bahwa memang sudah saatnya kepemimpinan bangsa diambilalih generasi yang lebih muda.

Apakah sesederhana itu? Tentu tidak. Politik anak muda tidak menjadikan usia sebagai tolok ukurnya. Melainkan semangat, pola pikir, dan cara pandang.

Jokowi seorang metalhead dan dia membawa ideologi rock ke panggung politik. Ekstrem dan ngibul seperti Trump? Rock terang berbeda. Rock mengalir dan itulah lentingan kejujuran, kata James Brown. Rock yang paling berhasil adalah kepolosan, dan ia hadir dari intuisi yang tidak dikemas supaya tampak canggih, sebut Kurt Cobain. Chord dan not sebatas patron, bukan untuk ditaati secara fanatik. Sebaliknya justru membuka ruang improvisasi.

Atas dasar inilah, misalnya, Jimi Hendrix menuliskan Little Wings. Dirilis 1 Desember 1967, track pendek namun kaya musikalitas ini telah di-cover ratusan kali oleh entah berapa banyak musisi di seluruh dunia –paling terkenal versi Skid Row.

Sejak era reformasi bergulir, rakyat Indonesia di segala lapisan berupaya memberi andil dalam kehidupan politik dengan melakukan berbagai improvisasi. Sempat mati suri selama 32 tahun di masa pemerintahan Soeharto, dua presiden setelahnya memutuskan mengambil langkah berbeda. Namun langkah-langkah ini agaknya kelewat maju. Terutama sekali Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ia tidak berhenti pada sekadar mengakomodir. Ia menggeber improvisasi sendiri, dengan terlalu cepat, dan orang-orang merasa gugup, jengah, lantas mulai tak nyaman karena tidak terbiasa. Bertahun-tahun musik di panggung perpolitikan Indonesia adalah keroncong, pop melankolis, dan dangdut. Gus Dur dalam sekejap hendak mengubahnya jadi Trash Metal dan Green Core.

Pascadilengserkannya Gus Dur, musik ingar-bingar dan kencang ini lesap. Megawati Soekarnoputri memimpin dengan gaya politik yang sangat bertolakbelakang dari Gus Dur. Gaya diam. The political of silence. Tak ada musik bahkan untuk sekadar dalam gumam.

Gaya ini membuat Megawati tak populer. Pada pemilihan umum berikut ia dikalahkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kemudian bertahan 10 tahun. Panggung politik  kembali riuh oleh musik. SBY musisi andal. Ia mampu memainkan pop, rock, blues, jazz, bossanova, soul, rap, sampai campur sari dan dangdut koplo.

Ia bisa sangar sekaligus melankolis. Dan ia adalah juga penyanyi yang mahir mengikuti irama. Dalam arti sesungguhnya, total selama dua periode kepemimpinannya, SBY menelurkan empat album yang seluruhnya bergenre pop. Lebih luar biasa, lagu-lagu dalam album ini sebagian besar ditulis SBY sendiri.

Keserbabisaan ini, ternyata, juga tidak ideal. Prestasi-prestasi SBY yang harus diakui cukup banyak, secara ironis, mengabur oleh reaksi-reaksinya yang kerap berlebihan atas persoalan yang seringkali justru sepele dan tak pantas ditanggapi seorang kepala negara. SBY juga kelewat kaku dalam menyikapi chord dan not, nyaris tanpa improvisasi, sehingga jadi sangat menjemukan.


Bukan Sekadar Slogan

Politik anak muda pada dasarnya bukan gerakan politik baru di Indonesia. Sejarah mencatat, kemerdekaan diperjuangkan oleh anak-anak muda dan Soekarno menjadi presiden di usia 44, lebih muda sembilan tahun dari Jokowi di tahun 2014.

Namun seiring waktu, politik anak muda digiring ke jalan sempit dan terjal, yang berakhir sebagai cul de sac (jalan buntu) di era Soeharto. Politik anak muda berhenti pada sekadar slogan. Cuma gagah disuarakan tapi nol besar dalam praktik. Anak-anak muda boleh berpolitik dengan syarat mesti sejalan dengan semangat, pola pikir, dan cara pandang pemerintah. Jangan coba-coba membangkang sebab akan kena terjang.

Hariman Siregar, seorang penggemar The Beatles garis keras, dijebloskan ke bui selama tiga tahun. Dua mahasiswa lain, Sjahrir dan Aini Chalid, turut dipenjara. Berselang 22 tahun pascaperistiwa yang sohor dengan sebutan Malari itu, sebanyak 12 anak muda lain yang juga coba-coba melenceng dari garis kebijakan politik pemerintah, termasuk di antaranya Budiman Sudjatmiko, juga dihadapkan pada palu hakim.

Mereka diseret ke pengadilan untuk kemudian dipaksa menerima vonis atas tudingan melakukan tindakan subversif, yakni pemicu kerusuhan di Jakarta, yang berawal dari penyerbuan kelompok tak dikenal (disebut-sebut dari kubu PDI pimpinan Soerjadi yang didukung pemerintah) ke kantor PDI pimpinan Megawati Soekarno Putri pada tanggal 27 Juli 1996.

Tumbangnya Soeharto di tahun 1998 semestinya berpotensi besar membuka keran yang tersumbat. Ternyata tidak. Anak muda, para aktivis dan mahasiswa, memang dicuatkan sebagai pahlawan reformasi. Namun panggung politik yang bermuara pada kekuasaan tetap menjadi milik elite-elite politik yang merupakan bagian dari “kaum tua”. Orde baru hanya berganti baju.

Kemenangan Jokowi, sekali lagi, telah mengubah panggung perpolitikan tanah air menjadi jauh lebih riuh dan semarak. Juga mengubah konstelasinya. Ideologi rock Jokowi kiranya dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mengambil peran lebih besar dalam politik.

Bisa lewat partai. Entah itu partai lama yang mengusung semangat baru atau partai baru yang komitmen melakukan perubahan. Bisa lewat penuangan-penuangan pikiran lewat media. Bisa lewat pendidikan. Bisa lewat pengawasan dan lain sebagainya.

Apa pun pilihannya tak jadi masalah. Kesempatan sekarang sudah terbuka. Anak-anak muda tidak boleh lagi sebatas menempatkan diri sebagai partisipan yang pasif, apalagi sekadar “tim hore-hore” yang tugasnya selesai di acara perayaan kemenangan.

Artikel Terkait