Seorang tua berjalan di pematang sawah, menenteng cangkul di pundaknya. Sementara itu, di tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan, anaknya tengah berjalan di taman kampus, menenteng buku ‘merah’ dengan peci di kepalanya. Ada relasi kuasa yang bersifat ekonomi-politik di balik cangkul sang Ayah dan buku merah sang Anak alam kisah ini.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika polarisasi politik dijelaskan secara apik dalam puisi. Penjelasan demikian ini bukanlah hal baru dalam tradisi politik tanah air. Sejak mula, kala Indonesia masih dikenal sebagai Nusantara, beragam literatur telah menunjukkan bagaimana estetika syair sebuah peradaban anak bangsa dijelaskan.

Sebut saja Hikayat Merong Mahawangsa dalam masyarakat Melayu, dan I Lagaligo dalam masyarakat Bugis.
Kedua karya sastra di atas menggambarkan bagaimana perjalanan anak manusia dalam membangun peradaban politiknya.

Kesemuanya dibingkai dalam bahasa sederhana, singkat namun memiliki kedalaman makna. Seperti itulah puisi merangkum sebuah episode sejarah manusia. Keduanya pun sangat jauh dari penyematan istilah ilmiah dalam tradisi akademik, namun setelah beberapa dekade bahkan abad, keduanya justru dijadikan sebagai rujukan bagi para peneliti.

Ibarat sebuah pusaka, di dalamnya mengandung kalimat sakti menerangkan kebingungan akan semua. Begitulah politik dan puisi, lahir dari kecakapan tajamnya akal dan beningnya hati. Dari situlah sebuah tatanan memulai ceritanya, merangkai awal ditutup oleh akhir.

Ada penderitaan, pengorbanan, perjuangan sampai pada kemenangan. Dari ‘0’ menjadi’1’, seperti kisah cangkul sang Ayah dan buku merah sang Anak di atas, menceritakan cucuran keringat sang Ayah, diusap oleh sang Anak dalam menggapai cita-citanya. Buku merah adalah alatnya mengurai realitas sosial dan peci merupakan identitas keagamaannya.

Puisi, sekiranya berbicara tentang makna kehidupan. Dimulai dari perkenalan kita terhadap aksara, pengamatan kita pada bahasa dan penyusunan sang maha makhluk dalam menulis. Menuliskannya ibarat membuar satu frame dari sesuatu yang dianggap keseluruhan, kitalah (penulis) yang memberinya gambaran.

Gambaran tersebut salah satunya bisa lahir dari pembacaan atas serakan data politik yang bertebaran, menyusun dan meringkasnya menjadi sederhana dan indah. 

Akhirnya, kehidupan politik pun semakin hidup dengan seluk beluk imjiner sang penulis. Kita seolah dibawa pada sebuah realita yang tak berpenghuni namun memiliki cerita dan sangat penting dipelajari. Dunia yang hanya diisi oleh kata dan kalimat, memberikan arti pada kebebasan berpikir dan melahirkan pemahaman baru.

Politik, lazimnya selalu bermula pada cita-cita besar. Muncul dari ragam kegelisahan akan ketertindasan (ekonomi, sosial, budaya dsb). Oleh karenya, jalan lain pun muncul sebagai akibat dari keinginan untuk perubahan.

Jika potret demikian ini dijelaskan melalui puisi, maka makna kegelisahan yang awalnya tunggal kemudian menjadi jamak, diekspresikan dalam ragam kosa kata sederhana dalam menemukan takdir perubahan.

Dalam tradisi sastra kita diperkenalkan dengan sebuah teori tentang “relaisme sosial”. Dalam pengertian ini, pusi menjadi corong dalam menyuarakan kritik atas realitas politik, di mana kita sedang melibatkan sebuah tokoh/keadaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Penjabaran sebuah puisi tentulah tidak memiliki tumpuan yang ‘sakral’ seperti dalam tradisi ilmiah. Namun, setidaknya kita bisa mendapatkan tipologi penjabaran sebuah puisi. Dalam tradisi yang telah dikemukakan di atas, potret kehidupan politik dapat diberikan gambaran dari sesuatu di luarnya, artinya muncul tema yang seolah menjadi patokan atas apa yang terjadi.

Patokan tersebut tersebut bisa berupa jeratan kemiskinan yang ingin dicarikan solusi melalui semangat realisme sosial, itulah perubahan. Sehingga narasi dari si penulis terus mengalami dialektika dengan pembaca, kisah-kisah dalam puisinya berupaya menginterpretasi takdir menjadi wujud perjungan yang lebih kongkrit.

Seperti itulah kiranya politik dan puisi dapat berkembang dari apa yang dianggap tradisional menjadi modern. Sebagaimana kisah sang Ayah di atas yang terus berjuang dengan realitas politik dan kemiskinannya, begitu juga sang Anak yang ingin terdidik.

Terdidik hanyalah kata benda yang hadir dari sebuah usaha, dia tidaklah akan menjadi menarik bila tidak dideskripsikan dengan menarik oleh penulisnya.

Sekali lagi dalam tradisi sastra, sebuah puisi yang menyuguhkan cerita politik meniscayakan munculnya tokoh/peristiwa yang tidak lagi mewakili sebuah esensi melainkan eksistensi. Dari sesuatu yang abstrak menjadi kongkrit, dari ketertindasan menjadi kemerdekaan.

Maka para tokoh seperti sang Ayah dan sang Anak sedang menjalani takdir mereka dalam tali yang disebut Imanen, dan ingin menurunkannya dalam skala yang lebih konkrit, menempuh pendidikan dan menjadi orang yang sukses.

Puisi sebagai sebuah karya sastra, terbukti memberikan banyak sumbangsih dalam laju kesejarahan Nusantara menjadi Indonesia. Hampir seluruh khasanah kepemimpinan dan pemerintahan, terangkum dalam ragam karya sastra (khususnya puisi, syair maupun sajak) di hampir seluruh kerajaan Nusantara masa lampau.

Kesemuanya tak lain dan tak bukan, memberikan informasi sejarah bagi kita generasi kini. Dari sanalah kita belajar bagaimana menjadi Indonesia yang lebih baik lagi. Ragam karya tersebut seolah menunjukkan perannya sebagai manuskrip yang tidak hanya memberikan kebanggaan bagi generasi kita, tetapi yang lebih penting lagi adalah bertambahnya wawasan politik yang lebih baik.

Puitisasi politik mewakili argumen realisme, memberikan makna dalam setiap lontaran kata yang dituliskannya. Sehingga sebagai pembaca seseorang terasa terlibat dalam alur kisah tersebut. Apa yang berarti baik dalam teks dan dalam kehidupan kita, haruslah memiliki makna, oleh karena makna itu sendiri akan hadir atau dihadirkan dalam kehidupan maupun teks.

Lepas dari semua itu, puisi ketika menceritakan politik membuat yang mustahil menjadi mungkin. Puisi mampu menggebrak nalar dan empati paling dasar dari manusia. Akhirnya, puisi pun menjadi makna untuk semua.

Meminjam istilah Henry James, sastra (termasuk puisi) berangkat dari realitas, dengan bentuknya yang merujuk pada kehadiran “air of reality”. Puisi pun menjadi sarana transformasi sosial dalam medan politik, di mana nalar imajiner mengepalkan sebuah kisah yang membebaskan manusia dari belenggu kebekuan kata menjadi aksi. #LombaEsaiPolitik