Publik Tanah Air dihebohkan dengan kasus child grooming, modus penculikan anak lewat jejaring media sosial. Sebuah lembaga yang berupaya mencegah kekerasan terhadap anak-anak mengatakan bahwa platform Instagram jadi media sosial favorit bagi predator anak. 

Kasus membangun hubungan emosional dengan seorang anak untuk tujuan pelecehan seksual meningkat tiga kali lipat di Instagram selama 18 bulan terakhir (Sumber: Liputan6 2 Agustus 2019).

Masih dari sumber yang sama, disebutkan seorang pria asal Vandalia, Ohio Amerika Serikat mengaku bersalah lantaran telah menculik seorang anak di bawah umur. Pelaku menggunakan komunikasi secara online untuk menjerat dan membujuk korban. 

Pelaku merayu korban menggunakan media sosial untuk melakukan pelanggaran seksual dengan meminta remaja di bawah umur itu untuk mengirim gambar organ intimnya.

Dan, masih banyak lagi.

Meskipun kita sering mendengar tentang dampak negatif media sosial terhadap anak-anak, sebetulnya penggunaan situs-situs seperti Facebook, Twitter, dan Instagram bukanlah sebuah aktivitas yang bisa disamaratakan untuk semua orang. 

Baca Juga: Aktivis Virtual

Anak-anak dapat menggunakannya secara positif bahkan sebagian di antaranya memberi nilai tambah bagi kehidupan mereka. Untuk itu penting juga memahami beberapa value positif dalam media sosial dan bagaimana membimbing anak-anak untuk memperoleh yang terbaik saat mereka ber-online.

Media sosial adalah sebuah platform untuk berbagi ide, informasi dan sudut pandang. Media sosial menyampaikan informasi yang bisa diakses anak-anak muda sambil memberikan wawasan mereka tentang bagaimana cara memandang dan menggunakan informasi tersebut. 

Misalnya, sebuah gambar Instagram bisa memberi wawasan tentang bagaimana seorang artis masa kini atau banyak artis di seluruh dunia menafsirkan dan menerapkan teknik kubisme Picasso.

Wawasan ini mendukung pemahaman lebih mendalam tentang teknik-teknik serta apresiasi mendalam bahwa mempelajari Teknik Picasso layak dipelajari. Setelah trending topic, anak-anak bisa disodori pengetahuan tentang sesuatu yang baru dan mereka membutuhkan. Manfaat besar jika memadukan informasi faktual melalui diskusi kecil antara orang tua dan anak.

Keterpaduan ini bisa menghadirkan masukan berimbang, beragam, dan sesuai kebutuhan anak-anak. Media sosial bisa memberikan manfaat signifikan bagi anak-anak dengan kondisi medis tertentu. Hal ini sangat dibutuhkan mereka khususnya dalam memberikan rasa aman untuk berekspresi, selain peluang-peluang pemahaman dalam menangani kondisi mereka.

Media sosial juga dapat membangkitkan kesadaran masyarakat tentang permasalahan kesehatan tertentu. Gambar yang menggugah pikiran, akun Facebook milik seseorang sedang depresi, sklerosis ganda, dapat menyulut pemikiran seseorang tentang kondisi tersebut, dan secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang tersebut. Berbagi informasi kesehatan dengan cara ini dapat membantu memerangi stigma tentang kondisi-kondisi tersebut di masyarakat.

Manfaat lain menggunakan Snapchat atau Instagram adalah koneksi online reguler yang bisa membantu memperkuat persahabatan anak-anak muda di dunia nyata. 

Bagi anak-anak yang merasa tersisih dalam komunitas lokal mereka, media sosial bisa membantu mereka berhubungan dengan orang-orang yang memiliki minat atau pandangan hidup yang sama. Dalam beberapa kasus, remaja dengan problem kritis bisa mengandalkan jaringan sosial untuk mendapatkan dukungan dan bimbingan cepat.

Banyak kelompok yang menawarkan bantuan online semacam itu. Media sosial juga merupakan platform penting untuk mengarahkan isu-isu sosial, seperti isu-isu rasial, untuk mendapatkan perhatian Nasional dan Internasional. Misalnya, komunitas penulis online yang dibentuk oleh beberapa penulis media yang ingin menyemarakkan literasi menjadi sesuatu yang menyenangkan anak-anak, sekaligus mempromosikan perkembangan kesusastraan. Gerakan mengajak seluruh anak Indonesia turut mendukung dan memeriahkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dapat menjadi alternatif lainnya.

Berbagai acara inspiratif yang melibatkan anak, seperti webinar Panggung Anak Indonesia Merdeka, Bincang Pakar dan Pegiat PAUD, Gebyar Dongeng untuk Anak Indonesia, dan Kontes Kita Cinta Lagu Anak. 

Suatu kesadaran tentang manfaat media sosial bisa membantu orang dewasa memahami mengapa teknologi begitu memikat bagi anak muda, potensi penggunaan postif ruang-ruang online tersebut, dan bagaimana berbicara kepada anak-anak tentang penggunaan media sosial mereka. Ketika berdiskusi dengan anak-anak tentang media sosial, penting diperhatikan untuk tidak bersikap “kita versus mereka”.

Pemahaman dan penerimaan bahwa generasi-generasi yang berbeda menggunakan teknologi secara berbeda adalah awal yang bagus. Hal ini membuka peluang kita saling memahami sebagai sesama pengguna teknologi, juga lebih siap ketika masalah mulai muncul, memudahkan kita membimbing anak-anak menuju penggunaan teknologi secara positif dan memberdayakan.

Banyak keuntungan media sosial yang dapat dimanfaatkan anak-anak kita secara bijak sepanjang masih dalam pengawasan para orangtua.

Hingga disini, kita dapat melihat fenomena bahwa kemanfaatan media sosial setiap saat berubah permasalahan bagi anak-anak. Apalagi dihadapkan pada keadaan para orangtua tidak dapat memantau anaknya terus-menerus, serta kelabilan psikologis anak terhadap penyerapan dampak negatif media sosial. Untuk itu, diperlukan sistem polisi virtual untuk memadamkan api sebelum mengeluarkan asap.

Merujuk beberapa kasus penculikan anak, faktor “niat” pelaku memegang peranan penting. Bagaimana niat tersebut dapat terdeteksi sebelum aksi kejahatan dilakukan? Di titik ini peran polisi virtual semestinya dapat mengambil posisi. 

Secara berkelanjutan kita dorong evaluasi berkesinambungan agar berdaya dan berhasil guna. Dalam memverifikasi suatu konten, kepolisian perlu melibatkan perwakilan masyarakat sipil.

Tak kalah penting, kepolisian juga perlu memastikan polisi virtual diawasi dengan baik serta melibatkan internal dan eksternal masyarakat. Jika mereka menemukan unggahan yang mengandung unsur fitnah, SARA, atau ujaran kebencian, maka langkah edukasi dan sosialisasi lebih diprioritaskan agar masyarakat tidak selalu dikejutkan dengan hal-hal yang bersifat represif. 

Jika unggahan tersebut diputuskan sebagai sebuah pelanggaran, maka polisi akan menghubungi pelaku dan memberi peringatan untuk menurunkan unggahan.

 Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo