Poligami adalah satu materi pembahasan sensitif tetapi menarik. Sensitif bagi kaum perempuan, menarik buat laki-laki. 

Sebetulnya jika ditempatkan pada hukum yang tepat, polemik soal pernikahan lebih dari satu istri akan selesai dan tidak dibahas berulang-ulang apalagi dikampanyekan seperti akhir-akhir ini.

Beberapa kali mendapati pemberitahuan adanya pengajian yang khusus membahas poligami. Sebagai perempuan, saya merasa kaget. Buat saya, poligami itu persoalan personal, yang merupakan reaksi sebuah keadaan. Tidak bisa disamaratakan dengan persoalan orang lain.

Masalah hukumnya jelas boleh. Dalam Alquran, terdapat ayat tentang poligami.

"Wa in khiftum allā tuqsiṭụ fil-yatāmā fangkiḥụ mā ṭāba lakum minan-nisā`i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā', fa in khiftum allā ta'dilụ fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta'ụlụ."

Arti: "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." — Surat An-Nisa Ayat 3.

Tetapi apakah tafsir ayat tersebut memang ada perintah berpoligami untuk laki-laki tanpa adanya kejadian tertentu?

Ternyata kampanye poligami juga melalui media sosial. Saya mendapati satu fanpage facebook "Sahabat Hijrah Poligami (Ta'addud)" yang isinya adalah diskusi seputar poligami dan bisa juga mencari perempuan yang mau dimadu atau laki-laki yang mau mempoligami.

Alasan yang dipegang untuk berpoligami adalah karena jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki, melindungi para janda, lelaki lebih bersemangat mencari nafkah ketika berpoligami, daripada zina lebih baik berpoligami, dan sebagainya.

Dalam FP tersebut, banyak membahas umur istri nabi yang masih muda meskipun janda, sehingga menyanggah pendapat bahwa poligami itu harus janda-janda tua. Dibahas juga bahwa muslim yang ragu atau tidak mau berpoligami belum benar imannya. 

Ungkapan tersebut sebenarnya hanya sebuah pendapat, tetapi kalau diulang-ulang bisa menggiring opini publik. Sedangkan kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Menurut Buya Syakur Yasin, seorang kiai dari Indramayu, ada beberapa alasan zaman Rasulullah banyak diterapkan praktik poligami. Nabi Muhammad melakukan poligami semata-mata untuk urusan kenabian beliau. Karena selama beristrikan Hadijah, beliau hanya mempunyai satu istri.

Semua ucapan dan perilaku nabi Muhammad merupakan hikmah. Nabi menikah bukan di usia muda, melainkan pada masa kenabian setelah istri beliau wafat. Hal ini menjelaskan bahwa pernikahan tersebut semata-mata untuk dakwah.

Beliau menikahi Aisyah r.a, di masa belia dengan hikmah bisa menjelaskan kepada kaum perempuan bagaimana seharusnya menyikapi masalah haid, adanya darah istihadah, bagaimana membedakannya, serta penarikan hukumnya. 

Rasulullah juga menikahi Zainab binti Jahsy, seorang perempuan yang giat bekerja. Pernikahan ini memberikan hikmah bahwa perempuan juga mempunyai hak untuk berkarier dengan aturan-aturan syar'i.

Pernikahan poligami pada masa kenabian bisa dikatakan salah satunya untuk kepentingan politis. Karena belum ada partai politik seperti sekarang, maka untuk menyatukan dua kepentingan politik dengan kabilah lain adalah dengan cara pernikahan.

Buya Syakur menjelaskan bahwa ayat poligami tidak bisa dipisahkan dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang wajibnya menyantuni anak yatim agar tidak terlantar. Pada zaman Nabi, dalam satu tahun, terdapat sampai 80 kali perang, yang berarti banyaknya syahid yang meninggalkan keluarga.

Karena belum ada lembaga sosial, maka diperintahkan menafkahi anak yatim yang salah satu caranya adalah dengan menikahi ibunya. Hal ini masuk ke dalam masalag sosial. Itu pun dengan syarat jika bisa adil. Kalau merasa tidak bisa adil, maka nikahilah satu saja dan mencari cara lain untuk menyantuni anak yatim.

Buya Syakur juga menjelaskan Rasulullah tidak menyuruh untuk berpoligami, namun menekankan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Ali bin Abi Thalib suatu ketika dengan alasan Nabi tidak menghendaki putrinya dimadu.

Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu.

Sehingga Ali r.a tidak pernah berpoligami sampai Fatimah wafat. Meskipun demikian, Nabi tidak melarang jika ada seorang muslim hendak berpoligami dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Meskipun menikah lagi tanpa persetujuan istri hukumnya sah, namun secara etika tetap tidak tepat. Bukankah keridaan istri merupakan salah satu kunci kebahagiaan keluarga? Lebih baik lagi jika niat poligami dimusyawarahkan dua keluarga besar.

Namun, sekali lagi, poligami merupakan masalah pribadi yang tidak perlu dikampanyekan. Tidak semua orang mempunyai penerimaan yang sama. Poligami juga bukan tolok ukur keimanan seseorang seperti yang disampaikan sekelompok orang dalam kampanye poligami.