Kabar dari pelantun lagu religi, Tombo Ati, yang akrab disapa Opick, berhasil menggegerkan jagat media. Sebab pasalnya, lewat kemerduan suaranya itu, ia berhasil membius seorang wanita untuk dijadikannya istri kedua. Ia berpoligami. Dan celakanya lagi adalah baru-baru ini ia kembali digosipkan tengah dekat dengan seorang wanita. Entahlah.

Tentu hal ini menjadi isu cukup “seksi” yang sekaligus menjadi bumerang untuk popularitasnya. Sebab mengapa, sama seperti Abdullah Gymanstiar atau yang lebih dikenal Aa Gym, seorang pendakwah yang beberapa tahun kebelakang terjerat nafsu untuk berpolgami. Maaf, saya sebut itu nafsu.

Tak tanggung-tanggung, panggung popularitas Aa Gym terperosok jatuh berantakan. Akibat dari itu adalah ia mesti merangkak tertatih-tatih. Kembali memulai semuanya dari nol yang tentunya jauh lebih sulit dibanding dengan kali pertama menuju karir popularitasnya itu, sebab ketokohannya sebagai seorang pendakwah terhadap publik, kasat hadir sungguh begitu mengecewakan.

Entah dapat dibenarkan atau tidak, bagi saya, poligami dewasa ini tumbuh mekar menyeruak sebab tuntutan hawa nafsu atau biologis belaka. Tidak lebih. Kalaupun ada yang membenarkan poligami adalah sebagai langkah menjejaki perilaku Rasul, pesuruh Allah SWT, maka sungguh tak elok ketika meng-amin-kan sebuah pemahaman terlalu awal tanpa memberi ruang terhadap akal untuk bekerja.

Tentu kita paham betul, bila mana ditinjau dari konteks sejarah, maka tidak disalahkan jika beliau, pesuruh Allah SWT. Muhammad SAW, disebut memiliki istri tidak hanya satu saja. Bahkan tidak keliru tatkala itu kita katakan banyak.

Namun, yang mendasari tergeraknya beliau untuk “menikah lagi” adalah situasi dan kondisi sosiologi di zaman kenabian yang ketika itu melanda kaum perempuan. Mereka terkoyak-koyak tak terurus. Struktur sosial pada masa itu sungguh memprihatinkan. Sangat syarat akan patriarki.

Sebut saja Zainab binti Khuzaimah ra., yang dituliskan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Perempuan, yang mesti menjanda ditinggal syahid suaminya dalam perang uhud. Atau Huriah binti Alharis ra.. Ia adalah seorang tawanan pasukan Islam, beliau menikahinya lalu memerdekakannya dengan harapan agar tawanan lainnya dapat dibebaskan dan pada akhirnya memeluk agama Islam.

Beliau menikahi perempuan-perempuan itu tidak dikarenakan atas keberadaan hawa nafsu ataukah sebagai legitimasi moral untuk menggugurkan kewajiban belaka, tetapi lebih jauh ialah untuk memuliakan istri-istri dari mereka yang dilumat syahid dalam perang, menjadi tawanan pasukan Islam, dan kecenderungan lainnya yang niscaya berakibat pada semakin terpuruknya kaum perempuan.

Dalam sejarah hidup beliau, diketahui bahwa barulah ia kemudian menikah lagi setelah istri pertamanya, Sayyidah Khadijah ra., wafat dilumat usia. Kemudian perempuan-perempuan yang beliau nikahi itu, selain Aisyah ra., adalah perempuan-perempuan yang telah menjanda dan menjejaki usia senja. Tak lagi menawarkan rupa yang menawan.

Jika demikian begitu, mengapa dari mereka yang hendak menjejaki Rasul, tidak mencontohkan sama persis? Alih-alih mereka terbuai dengan raut muda.

Oleh karenanya, maka sungguh tidak relevan lagi jika di masa ini seorang lelaki yang kebetulan sudah memiliki istri tetapi ketika malam tiba masih meraung meminta restu untuk menikah lagi. Parah. Apalagi sampai menyematkan alasan seolah itu risalah dari agama. Maka celaka bagi saya. Sebab, zaman sekarang ini tidak lagi seperti dulu di masa kenabian.

Tak untuk diperdebatkan bila pembolehan untuk berpoligami memang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Tetapi itu tadi, ada konteks yang menjadikannya turun. Ada sebab-sebab. Atau dalam istilah khusunya disebut Asbabun Nuzul. Dalam Qs. An-Nisa/4 : 3. menyebutkan :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Tentu menjadi catatan khusus, selain sebab-sebab ayat ini mengapa kemudian diturunkan, juga telah ada pernyataan yang tegas bagi mereka yang hendak berpoligami, yakni untuk berlaku adil. Sebab kenyataan yang memang nampak di permukaan publik adalah ketidakharmonisan melanda rumah tangga ketika telah tersusupi tindak poligami di dalamnya.

Berlaku adil, bagi pribadi siapa pun, tentu menilai dengan kadar ukurannya masing-masing. Bagimu itu telah adil, namun bisa saja tidak demikian dengan yang lain. Sebab itulah ayat di atas menegaskan untuk berlaku adil. Lalu dilanjutkan dengan anjuran untuk mengawini seorang saja, atau budak-budak yang dimiliki tatkala hadir ketakutan tak mampu untuk berlaku adil.

Terlepas dari Ayat di atas, bahwa pada hakikatnya, manusia adalah “binatang” yang tersemat naluri seks atau nafsu dalam dirinya yang begitu luar biasa besarnya. Ketika dewasa, naluri itu akan memaksa untuk dilampiaskan kapan dan di mana pun sebagai bentuk eksistensinya.

Oleh karenanya, dari yang Maha Pencipta menyematkan akal dan nurani sebagai media untuk pengendalian dari naluri seks tadi. Sebagai bekal pembeda antara manusia dan binatang yang melulu menggunakan nafsu, sebab akal adalah kodrati kepunyaan dari bukan laki-laki apalagi perempuan, melainkan manusia.

Sebagai pesan di akhir tulisan kepada yang hendak berpoligami, jangan lagi menjadikan agama sebagai alat membenarkan perilaku demikian. Cukup tampilkan dirimu bagaimana adanya, meski sebenarnya itu adalah nafsu yang menguasai. Jangan lagi agama kau eksploitasi dan bersembunyi di balik kemurnian ayat-ayat Tuhan.