15261_79283.jpg
Tribunnews.com
Budaya · 3 menit baca

Poligami dan Tanggung Jawab Sosial Ulama

Ini tema yang saya paling tidak suka bahas. Bukan apa-apa, lebih karena perkara poligami ini, khususnya bagi sebagian umat Islam, sangat sensitif--untuk tidak bilang memalukan. Selain itu, isu ini selalu berulang, memicu pro-kontra, dan tak pernah ada konklusi finalnya.

But anyway, saya merasa tetap perlu membahasnya. Karena bagaimanapun juga, perkara ini penting. Bukan karena poligaminya itu sendiri, atau figur pelakunya, namun efeknya terhadap persepsi publik luas atas umat Islam.

Ok, berawal dari pemberitaan masif tentang seorang figur 'ulama' yang kerap tampil di televisi menampilkan istri terbarunya. Iya, laki-laki yang kerap disapa ustaz ini awalnya memposting video di kanal social media-nya sambil ditemani oleh tak hanya satu, tak pula dua, namun tiga orang perempuan bercadar yang diakuinya sebagai istri-istrinya.

Media massa pun berlomba memberitakan praktik poligami ustaz tersebut dari berbagai angle. Serupa, netizen tanah air pun ramai berkomentar. Tak sedikit yang mendukung langkah sang ustaz menambah istri, memuji 'kemesraan' dan kerukunan yang ditampilkan ketiga perempuan yang disebut berasal dari 3 wilayah berbeda tersebut, namun banyak juga yang keras mengkritiknya.

Saya tidak akan ikut berpolemik soal dasar hukum syariah yang dipakai sang ustaz. Tak pula saya akan berdebat soal niatan beliau. Tak juga saya hendak berprasangka apakah kerukunan yang ditampilkan hanya konsumsi kamera semata ataukah riil adanya. Biarkan semua itu jadi bahasan orang lain.

Namun, saya ingin mengajak kita semua, khususnya yang mendukung praktik poligami ustaz tersebut, untuk bicara satu hal, yaitu tentang tanggung jawab sosial seorang ulama.

Seorang tokoh, figur publik, apalagi yang menyandang 'gelar' ulama, mempunyai dua sisi hidup, personal dan publik. Dikarenakan social standing-nya sebagai tokoh agama, yang bersangkutan mempunyai pengaruh terhadap masyarakat, khususnya para pengikutnya. Segala apa yang dipikirkan, diucapkan, dituliskan, dan ditindakkan, akan berdampak langsung maupun tidak kepada persepsi publik akan hal terkait.

Karenanya, tokoh agama tersebut memikul beban tanggung jawab sosial atas posisinya tersebut. Semakin tenar, semakin populer, semakin banyak pengikut, semakin berat pula ransel beban tanggung jawab sosial musti dipikulnya.

Balik lagi ke pilihan poligami sang ustaz di atas, secara personal saya tidak akan ambil pusing. Itu hak dia. Namun, sebagai tokoh publik, sebagai tokoh agama, sebagai orang dengan pengaruh sosial tak kecil, saya mempertanyakan tanggung jawab sosialnya atas tindakan tersebut.

Tentunya dia melakukan poligami secara sadar, dan saya berpikir dia mampu menalar bahwa tindakannya tersebut akan menimbulkan riak di masyarakat. Pro-kontra, perdebatan, bahkan mungkin perselisihan pendapat. Dan fakta sang ustaz mengunggah video poligaminya di social media mengindikasikan yang bersangkutan secara sengaja menyebarkannya ke publik.

Dengan alur logika semacam ini, ada beberapa hal yang bisa dimaknai publik. Bahwa dia sengaja menggelontorkan kembali isu poligami. Bisa juga dimaknai lebih jauh, dia mendukung bahkan sampai titik mengkampanyekan poligami.

Sebagian besar umat Islam Indonesia kemungkinan bisa menghargai pilihan sang ustaz sebagai bagian dari hak pribadinya. Namun, saya dan banyak dari kita mempertanyakan tanggung jawab sosial sang ustaz dengan mempublikasikan pilihan pribadi tersebut yang menimbulkan polemik di publik. Sementara, dalam pandangan umum, seorang ulama mustinya memelihara ketentraman, menjaga umat dari pertentangan, mengindari perdebatan yang tak perlu.

Saya pribadi menyayangkan tindakan sang ustaz. Mustinya dengan posisi sosial dan pengaruh yang dimilikinya, beliau bisa mengajak publik, khususnya umat Islam tanah air, untuk berdialektika di hal-hal yang lebih substansial dan lebih riil terkait kualitas hidup bangsa, alih-alih hanya kembali berdebat kusir soal perkara kawin-mengawini banyak wanita.

Bangsa kita, khususnya umat Islam tanah air, banyak menghadapi perkara besar. Sebut saja masih tingginya angka kemiskinan, besarnya ketimpangan sosial, kekerasan terhadap anak dan perempuan, kriminalitas, hingga isu-isu mutakhir seperti dampak teknologi terhadap kehidupan umat atau dampak infiltrasi paham radikal dari luar negeri yang dikampanyekan organisasi lokal maupun transnasional.

Dengan pengaruh yang dimiliki, sang ustaz, dalam hemat saya, akan lebih memaksimalkan fungsi keulamaannya jika menggelontorkan perkara-perkara tersebut. Tentunya akan lebih memberi pengaruh positif mengkampanyekan deradikaliasi dibanding memamerkan istri-istri.

Pastinya lebih bermanfaat bicara pemberdayaan dan kesetaraan hak perempuan dibanding show off kemesraan. Alangkah indahnya mengimbau publik soal perlindungan anak dibanding pro-kontra hasrat beranak-pinak.

PS. Please buat fans sang ustaz atau pendukung poligami, simpan pembenaran kalian soal mengikuti jejak nabi atau berlindung di surat An-Nisa.