Mendengar kata kertas, hal yang lansung terbayang oleh kita adalah tak akan jauh beranjak selain tentang tulisan. Kertas adalah ladang permanen tulis-menulis.

Untuk saya pribadi saya mengunakan kertas sebagai wadah saya untuk mencatat catatan yang ada di papan tulis, tempat mengerjakan tugas-tugas saya, menulis buku harian, dan sebagai ajang menulis karya seperti puisi dan cerpen.

Menggunakan kertas sebagai medium langsung tulis-menulis sebetulnya tidak semudah menggunakan alat-alat elektronik waktu itu saya menulis dengan tangan. Saya harus berusaha keras dan ekstra hati-hati saat menulis tugas. 

Jika ada kosa kata yang tidak tepat, jelas tidak mungkin dihapus harus pakai kertas yang baru karena dalam aturan guru saya tidak diperbolehkan ada coretan dan tipex, melalui kertas dengan tulisan tangan, tugas tidak boleh salah walaupun sedikit. Untuk tidak mendapatkan kesalahan walau setitik itu, butuh konsentrasi penuh. Rata tengah atau paragraf diatur manual.

Beda ketika menggunakan alat-alat elektronik, salah ketik abjad dan salah spasi, atau bahkan salah kapitalisasi sudah bagian dari normalitas. Gagal fokus, salah fokus bisa diatasi dengan mudah. Rata tengah dan seterusnya bisa diatur. Font pun bisa dipilih sesuai nafsu si penulis. Setelah itu dicetak. Tulisan tangan, harus sejak awal hati-hati. Font tulisan sesuai kemampuan seadanya.

Jika keduanya diperbandingkan, menulis dengan alat elektronik membuat banyak penulis tidak perlu fokus berat. Jika salah, tinggal diedit. Sedangkan menulis dengan tangan memerlukan konsentrasi berat, sebab, apa yang ditulisnya langsung tercetak di kertas seketika itu pula. Nah, tepat di titik ini, masyarakat tanpa kertas bisa dianggap sebagai kumpulan masyarakat yang biasa membuat kesalahan ketik.

Namun, istemewanya dari menulis secara manual adalah secara sederhana, masyarakat yang tidak menggunakan kertas untuk menulis sudah pasti menyepelehkan kesalahan-kesalahan dalam proses menulis. 

Penyepelehan atas kesalahan ini mengakibatkan tidak stabilnya psikologi seseorang dalam bertindak. Hal itu berarti bahwa kecenderungan orang-orang berkonsentrasi yang tinggi adalah saat seseorang itu menulis dan bukan mengetik. 

Nah, satu lagi yang sangat aneh. Saat ini orang yang sedang mengetik naskah tetap dibilang sedang menulis. Hal ini menunjukkan kita kurang dapat membedakan mana yang menulis dan mengetik.

Namun, selain itu kertas juga memiliki fungsi yang lain. Di tempat tinggal saya salah satu fungsi dari kertas adalah kertas sangat sering digunakan untuk membungkus gorengan, cabe, bawang, dan masih banyak lagi. Uniknya, kertas yang digunakan untuk membungus itu bukan hanya kertas polos namun juga kertas yang sudah ada tulisannya seperti buku catatan yang tidak dipakai ataupun Koran.

Banyak artikel yang menyebutkan bahwasannya kertas itu berbahaya jika digunakan untuk membungkus makanan. Namun, anehnya sepertinya hal itu tidak dihiraukan oleh masyarakat.

Berdasarkan data dari  Kompas.com dalam artikelnya yang dilansir dari WebMD, Kurunthachalam Kannan, Ph.D., seorang ilmuwan riset di New York State Department of Health, menyatakan bahwa BPA juga terkandung pada kertas pembungkus makanan dengan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi. 

Kadar BPA tinggi pada umumnya terdapat dalam kertas pembungkus makanan yang merupakan hasil daur ulang. Bubuk BPA digunakan untuk melapisi kertas supaya lebih tahan terhadap panas. Selain pada kertas pembungkus makanan, BPA juga sering terdapat pada tisu toilet, kertas koran, kertas struk belanja, maupun tiket. 

Saat BPA masuk ke dalam tubuh, zat tersebut dapat meniru fungsi dan struktur hormon esterogen. Karena kemampuannya tersebut, BPA dapat memengaruhi proses dalam tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi dan reproduksi. Selain itu, BPA mungkin juga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan reseptor hormon lainnya, seperti reseptor hormon tiroid.

Sampai saat ini banyak pakar kesehatan yang masih mempertanyakan perihal keamanan BPA. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, China, Korea Selatan, dan negara lainnya sudah membatasi penggunaan BPA. 

Dilansir dari Healthline bahwa 92% penelitian independen menemukan dampak negatif penggunaan BPA pada kesehatan. Sejauh ini, para pakar kesehatan menduga bahwa BPA dapat memunculkan beragam efek negatif sebagai berikut: Risiko keguguran meningkat tiga kali lipat pada wanita hamil yang terpapar BPA. 

Selain itu, wanita usia subur yang terpapar BPA dilaporkan mengalami penurunan produksi sel telur sehat dan berisiko dua kali lebih tinggi untuk sulit hamil. Pada pasangan yang menjalani program bayi tabung, pria yang terpapar BPA berisiko hingga 30-46 persen untuk menghasilkan embrio berkualitas rendah karena jumlah sperma yang dimilikinya rendah. 

Pria pekerja pabrik manufaktur BPA di Cina mengalami sulit ereksi dan sulit orgasme hingga 4,5 kali lipat daripada pria yang tidak bekerja di pabrik BPA.

Anak yang lahir dari ibu dengan paparan BPA tinggi ditemukan lebih hiperaktif, agresif, serta rentan cemas dan depresi. Paparan BPA pada pria meningkatkan risiko kanker prostat dan kanker payudara pada wanita, karena BPA memengaruhi perkembangan prostat dan jaringan payudara. 

Meski begitu, kebanyakan studi mengenai keamanan BPA dan dampaknya terhadap tubuh belum benar-benar meyakinkan. Masih dibutuhkan lebih banyak penelitian terhadap manusia untuk dapat memastikan hal tersebut. Tetap saja, lebih baik mencegah daripada mengobati. 

Mengurangi penggunaan wadah yang mengandung BPA, khususnya juga kertas pembungkus makanan, adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan. Jika sudah terlanjur menggunakan kertas pembungkus makanan, maka jangan biarkan makanan Anda terlalu lama terbungkus di dalamnya. Segera pindahkan ke piring makan atau wadah lainnya.

Lalu apakah dampak lain yang dihasilkan dari produksi kertas itu sendiri? Secara umum pengetahuan yang kita tahu seputar kertas itu masih minim. Salah satunya adalah bahwasannya kertas itu berasal dari bubur kertas yang kemudian diolah. Hanya sebata itu. Kita jarang sekali memikirkan akibat dari terjadinya produksi kertas yang membeludak.

Salah satu yang terjadi saat kita memproduksi kertas adalah kelangsungan hidup pohon-pohon. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini banyak sekali penebangan hutan secara liar yang menyebabkan pohon sebagai paru-paru dunia semakin berkurang. 

Sebenarnya kita tidak apa-apa menebang pohon namun, ada baiknya bila kita segera menanamnya kembali. Namun, karakter manusia saat ini memang kurang baik. Orientasi pada laba mebuat para pengusaha gelap mata dan tidak memperhatikan sekitarnya.

Pembalakan liar masih banyak dilakukan oleh para pengusaha yang terlalu berorientasi pada laba. Uang memang dapat membawa ketenangan namun, sekaligus membawa bencana. Memang benar semua itu tergantung pada karakter manusianya.

Polemik antara kertas dan pohon ini masih terus berlanjut. Ketidaksadaran diri manusia dapat membawa petaka bagi diri manusia itu sendiri dan bahkan berdampak pula pada orang lain.

Intinya adalah kertas tidak bisa kita pisahkan dari keberadaan pohon. Maka seharusnya kita sadar dan tidak melakukan pembalakan liar. Pohon, selain sebagai bahan baku pembuatan kertas juga berperan sebagai paru-paru dunia. Jadikan kertas sebagai wahana yang dapat menjadikan kita berprestasi dan juga kurangilah merobek-robek kertas untuk sesuatu yang kurang dan tidak berguna.