Baru-baru ini masyarakat Indonesia tengah dihebohkan dengan sebuah disertasi yang ditulis oleh Abdul Aziz, salah seorang mahasiswa program doktoral di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Disertasi itu diujikan di depan beberapa orang penguji dengan hasil akhir bahwa disertasi itu diluluskan dengan berbagai macam catatan berupa kritikan, masukan, saran, dan revisi yang telah disampaikan oleh para penguji.

Disertasi itu berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital”. Pada kesimpulannya, Abdul Aziz menyatakan bahwa konsep milk al-yamin Muhammad Syahrur merupakan sebuah teori baru yang dapat dijadikan sebagai justifikasi terhadap keabsahan hubungan seksual non-marital.

Pada kesempatan kali ini, saya tidak akan menyorot dan mengomentari isi dari disertasi tersebut. Karena bukan kapasitas saya juga untuk mengkritik dan membahasnya. Biarlah itu menjadi bahasan tersendiri bagi mereka-mereka yang berkompeten untuk mengomentarinya. 

Dan juga, sudah banyak yang membahas isi dan mengomentari disertasi itu, tinggal dicari saja mau mencari dan membaca komentar dari siapa.

Kendati demikian, pada kesempatan kali ini, melalui tulisan yang singkat ini, saya ingin menyampaikan sebuah opini yang bisa jadi nanti pembaca setujui ataupun tidak disetujui.

Pertama, sebagai sebuah karya ilmiah, kita patut menghargai usaha dan perjuangan yang telah dilakukan oleh Abdul Aziz.

Kalau dipikir-dipikir, tentu tidak mudah untuk melangkah sejuah yang sudah dilakukannya. Kita pun tak pernah tahu pengorbanan apa dan perjuangan seperti apa yang sudah dilakukan dan dilaluinya.

Dengan beban tugas di tempatnya mengajar dan pekerjaan-pekerjaan lain yang dilakukan olehnya, maka di tengah-tengah itu semua ia menulis disertasi yang jumlah halamannya sampai ratusan. Belum lagi menghadapi pembimbing yang setiap waktu memberikan masukan, kritikan, dan menyuruh untuk merevisinya.

Bahkan kalau kita mau berpikir pula, sudah berapa kertas yang terbuang begitu saja hanya demi revisi, revisi, dan revisi. Saya kira semua yang pernah kuliah pasti sudah pernah pula merasakan hal yang sama.

Maka, menurut saya, sebagai sebuah karya ilmiah, kita patut berikan apresiasi kepada Abdul Aziz yang telah mampu menyelesaikan dan mempertahankan disertasinya tersebut.

Kedua, hendaknya diskusi-diskusi permasalahan kontroversial, seperti disertasi yang ditulis oleh Abdul Aziz ini, hanya boleh berlangsung di dalam dunia akademik.

Jika permasalahan-permasalahan seperti ini sampai di ruang publik dan menyebar ke seluruh penjuru masyarakat, tentu hal ini akan menimbulkan polemik baru lagi. Pembaca semuanya tentu memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda, bahkan ada mereka yang masih awam terhadapnya.

Maka hal yang demikian akan memunculkan persepsi-persepsi yang beragam pula. Oleh karena itu, seharusnya diskusi-diskusi permasalahan kontroversial semacam ini hanya boleh dilangsungkan di dunia akademik, seperti kampus dan sebagainya.

Ketiga, kampus sebagai sebuah sarana pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh membatasi gerak pemikiran seseorang. Selagi segala sesuatu itu bisa dibuktikan secara ilmiah dan tidak menyalahi kaidah-kaidah keilmuan, maka dalam dunia akademik hal itu dapat diterima.

Maka saya kira apa yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan meluluskan disertasi tersebut, sudah tepat dan sesuai dengan tujuan utama sebuah kampus, yaitu sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan.

Sekalipun nanti pembebasan gerak pikir seseorang itu akan menimbulkan berbagai macam persepsi dan memunculkan berbagai macam pendapat, maka hendaknya persepsi itu dibangun secara ilmiah pula dan tidak menyalahi kaidah-kaidah kelimuan.

Sehingga jika sebuah karya tulisan lahir, bagi yang tidak menyetujuinya boleh pula membantah dengan membuat karya tulis tandingan. Sehingga dengan demikian dapat menambah dan memperkaya khazanah keilmuan kita.

Keempat, disertasi kontroversi yang ditulis oleh Abdul Aziz ini hendaknya merangsang semangat berpikir cendikiawan Muslim lainnya. Sehingga dengan hadirnya disertasi Abdul Aziz ini akan melahirkan karya-karya lainnya, baik yang pro terhadapnya maupun yang kontra.

Kita masih ingat bagaimana dulu ketika al-Ghazali yang mengkritik sangat keras terhadap para filsuf, sehingga lahirlah karyanya yang berjudul Tahafut al-Falasifah (kerancuan dari para filusuf). Lalu apakah sampai demikian? Ternyata tidak.

Pada era berikutnya, muncul seorang Ibnu Rusyd yang membantah apa yang ditulis oleh al-Ghazali itu dalam karyanya yang berjudul Tahafut at-Tahafut (kerancuan dari kerancuan).

Oleh karena itu, maka jangan jadikan perbedaan sebagai ajang untuk bermusuhan dan perselisihan, tetapi jadikanlah sebagai ajang untuk berlomba-lomba dalam menggali dan mengembangkan keilmuan. Sehingga dengan perbedaan kita akan menjadi pemikir-pemikir yang produktif hendaknya.

Terakhir, saya ingin sampaikan bahwa ini adalah opini saya pribadi. Pembaca yang budiman boleh setuju dan boleh pula tidak setuju. Andai tidak setuju tidak masalah, kalaupun setuju tidak apa-apa.