Kini, dunia sedang diguncang oleh seorang remaja putri. Ia terkenal dengan pertanyaannya yang menusuk para pemimpin dunia, "How dare you?!" Begitu menarik, sampai pertanyaan ini menjadi objek meme di internet. Begitu menusuk dan berani, sampai diangkat sebagai Time Person of the Year 2019. Sudah ketebak kan siapa dia? Iya, ia adalah Greta Thunberg.

Gadis Swedia ini adalah seorang aktivis lingkungan yang sedang hype. Ia adalah pencetus dari gerakan School Strike 4 Climate (SS4C). Dari Swedia, gerakan ini viral dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. 

Pada September 2019, Greenpeace dan 50 komunitas peduli lingkungan lainnya melaksanakan aksi Climate Strike sebagai respons terhadap kerusakan lingkungan (Alfarizi dalam tekno.tempo.co, 2019).

Aksi mogok sekolah untuk menyelamatkan iklim bumi? Arrant nonsense

Menurut penulis, peserta didik justru harus belajar dengan giat di sekolah untuk menjadi agen perubahan. Be change makers, not strikers. Sehingga, setelah mereka lulus, alumni ini akan menjadi anggota masyarakat yang memulai peyelamatan lingkungan dari dirinya sendiri. Bukan dengan mengungkit-ungkit kesalahan pihak lain di luar diri mereka.

Selain melakukan aksi mogok, Thunberg dan remaja-remaja lain juga hadir di berbagai konferensi tingkat tinggi dunia. Salah satu yang paling disorot adalah kehadirannya di UN Climate Summit tahun kemarin. 

Pada kesempatan itu, Thunberg melancarkan sebuah serangan emosional kepada para pemimpin dunia. Dengan raut wajah dan ekspresi yang dirundung amarah, kesedihan, serta ketakutan, ia mengatakan demikian (Gajanan dalam time.com, 2020):

How dare you? You have stolen my dreams and my childhood with your empty words, and yet, I’m one of the lucky ones. People are suffering. People are dying. Entire ecosystems are collapsing. We are in the beginning of a mass extinction and all you can talk about is money and fairy tales of eternal economic growth. How dare you?” 

Ketika kebanyakan kaum muda dunia bersimpati dengan pernyataan ini, penulis justru menjadi antipati. Mengapa? Sebab ini menunjukkan bahwa Thunberg (despite her brilliant intellect) sudah lupa akan sejarah. 

Apakah ia  tidak mengetahui bahwa negara-negara komunis dengan ekonomi terpusat justru mengalami kerusakan lingkungan yang sangat parah? Kalau negara-negara dengan ekonomi terbebas justru memiliki kualitas lingkungan yang paling bagus? Sungguh mengecewakan.

Belum lagi kehadirannya pada World Economic Forum (WEF) 2020 di Davos. Kali ini, Thunberg meminta pemimpin bisnis dan pemerintahan besar di dunia untuk segera mengakhiri penggunaan bahan bakar fosil (ecowatch.com, 2020). 

Penulis sendiri setuju dengan pernyataan ini. Akan tetapi, ada kesan bahwa Thunberg ingin agar pemerintah memilih pemenang dalam persaingan energi. Sebuah venture yang berbahaya bagi kapitalisme pasar bebas.

Inilah yang tidak bisa diterima kebanyakan kalangan konservatif seperti penulis. Orang-orang yang peduli lingkungan, konservasionis konservatif yang ingin menyelamatkan lingkungan dengan aksi nyata. 

Munculnya aksi dan retorika seperti ini memberikan kesan bahwa if you're against her movement or not joining her bandwagon, you're the enemy of our environment. Selain itu, posisi politiknya juga memberikan impresi bahwa gerakannya bernada pesimis, scare-mongering, dan anti-kapitalisme pasar bebas. 

Presenter otomotif ternama dunia dan mantan climate change skeptic, Jeremy Clarkson, menjadi contoh dari sikap ini. Tahun kemarin, proses syuting serial Grand Tour: Seaman di Vietnam dan Kamboja mengubah sikapnya. 

Kini, ia percaya dengan urgensi perubahan iklim dan dibutuhkannya berbagai inisiatif untuk mengatasinya. Bahkan, kini ia membangun sebuah peternakan sebagai upaya konservasi. Namun, ia melontarkan kalimat ini ketika ditanya tentang Greta Thunberg (driving.co.uk, 2019).

“Greta hasn’t got any answers. ‘Ooh, we’re all going to die.’ Right, tremendous. Now go back to school. But I genuinely hope people are working on what on earth to do about it.” 

Pada kesempatan lain, Clarkson bahkan mendeskripsikan Thunberg sebagai mad and dangerous. Menurut penulis, Thunberg tidak gila, she's mentally healthy youth. Tetapi, penulis setuju bahwa ia berbahaya. Mengapa?

Ini berhubungan dengan dampak aksi, retorika, dan posisi politiknya. It played into the hands of climate change skeptics and environmental bigots within conservative groups. 

Suara dan pendirian mereka menjadi makin dominan dengan munculnya Greta Thunberg. Semua media menyorot mereka. Sehingga, suara konservasionis yang rasional dan ingin menyelamatkan lingkungan ciptaan Tuhan terpinggirkan.

Dengan kata lain, argumen Greta Thunberg diperalat para climate change skeptics. Untuk apa lagi kalau bukan menjauhkan masyarakat dari upaya penyelamatan lingkungan. 

Lantas, mereka makin mampu membingkai isu ini dengan trade-off sederhana nan keblinger, "Kemakmuran melalui pertumbuhan ekonomi atau penurunan standar hidup untuk menyelamatkan lingkungan?" Kini, trik ini berhasil menipu banyak orang konservatif.

Hasilnya, isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi makin partisan. Dan Greta Thunberg menjadi polarisator terparah dari isu tersebut. 

Kini, makin kuat stigma bahwa orang-orang konservatif/sayap kanan adalah bigots yang menentang ide perubahan iklim dan konservasi. Mereka hanya peduli soal kemakmuran materi. This is so far from the truth, yet Greta Thunberg foster this stigma among her sympathizers.

Lingkungan bumi ini tidak dimiliki oleh kelompok politik tertentu. Ia milik kita semua. Setiap individu harus menjaganya, tanpa peduli apa aliran politiknya. Namun, Greta Thunberg telah menghancurkan premis ini dengan polarisasi yang dilakukannya. Partisanship rushes in like a tsunami into environmental issues, thanks to her.

Padahal, kerja sama antar kelompok politik adalah kunci kesuksesan peradaban ini untuk menyelamatkan lingkungan dan menyelesaikan krisis iklim ini. Oh God help us all.