“Mereka yang dilahirkan di era 2000-an adalah generasi mecin.” – Generasi 90-an

Euforia piala dunia tengah melanda seluruh antero negeri, tak terkecuali Indonesia. Sebagai negara pecinta sepak bola, meskipun tidak pernah lolos klasifikasi piala dunia, momen piala dunia adalah suatu hal yang haram untuk dilewatkan. Sepak bola sudah memberikan banyak hal di negeri ini, entah mempersatukan atau membuat keributan, semuanya tergantung bagaimana Anda bersikap.

Tulisan ini tidak ingin membahas piala dunia, mungkin lebih tepatnya tidak tertarik karena saya bukan maniak sepak bola. Tapi ada sesosok manusia yang mencuri perhatian penulis, ialah Kylian Mbappe. Seseorang yang sudah membawa Prancis ke semi final piala dunia serta menjadi pahlawan kemenangan pada laga melawan tim tango. Selain skill apiknya yang membuat kagum, hal yang luar biasanya lagi adalah bocah ini umurnya bahkan belum menyentuh kepala dua.

Mbappe menjadi refleksi dari salah satu pemuda yang berhasil mempermalukan generasi di atasnya. Lantas, bagaimana dengan generasi di negeri kita? Mungkin saat ini sedang galau lantaran Tik Tok baru saja diblokir.

Sejak tahun 2017, tak jarang kita diberikan berita-berita yang terdengar konyol bahkan di luar batas kemampuan akal kita. Mulai dari berita perselingkuhan artis-artis sampai seorang waria yang mendadak terkenal. Mengganggu memang, cuma hal itu dirasa masih bisa ditoleransi.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata berita-berita konyol ini tidak hanya datang dari para selebrita saja, tapi juga dari kalangan remaja. Bahkan beberapa sempat menjadi viral, seperti penghamilan siswi SMP oleh siswa SD. Dan yang akhir-akhir ini sedang trending adalah kasus fanatisme seorang fans bahkan sampai menuhankan seorang remaja yang hobi berjoget dan lip syinc bernama Bowo Alpenliebe.

Berebut Narasi

Indonesia tengah dilanda konflik, bukan tentang siapa presiden yang baru atau gerakan separatis di daerah-daerah. Kita sedang mengalami konflik antargenerasi (90-an dan 2000-an). Ruang publik kita diramaikan dengan saling menyindir antara yang “sok” bijak dengan yang “sok” gaul.

Kasus Bowo Alpenliebe makin menaikkan tensi pertengkaran ini. Ia dianggap sebagai manifestasi rusaknya generasi sekarang. Semuanya saling berebut untuk menentukan generasi mana yang lebih baik, seakan melupakan bahwa mereka dilahirkan di tanah air yang sama.

Berdasarkan badan pusat statistik (BPS), tingkat indeks pembangunan manusia (IPM) meningkat selama satu dekade. Artinya, terjadi peningkatan kualitas manusia antargenerasi.

IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Ini berarti mereka (generasi 2000) lebih sehat, lebih pintar, dan lebih mapan. Lantas jadi pertanyaan besar, mereka yang harusnya lebih berkualitas, tapi mengapa malah bertindak tak pantas? Lantas siapa yang salah?

Pemerintah yang harus bertanggung jawab, keluarga mereka tidak mengawasi, sekolah mereka terlalu cuek, kebanyakan mengonsumsi micin, itulah kalimat yang sering dilontarkan dari generasi tua. Seakan mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Ketidaksukaan akan perbedaan masih menjadi darah daging negeri ini. Kita ini memang ditakdirkan sebagai bangsa yang suka menyalahkan tanpa mau menuntaskan. Tulisan ini dibuat untuk merenungi kebiasaan itu.

Permasalahan generasi saat ini bukan lagi tentang kepintaran, kesehatan, kemampuan, dan lain-lain. Dekadensi moral menjadi problem baru yang lebih menyeramkan dan tengah menyelimuti mereka. Kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi menjadi pelaku sebenarnya kenapa dekadensi moral bisa terjadi.

Banyak sekali penelitian-penelitian terkait pengaruh teknologi dan globalisasi terhadap moralitas siswa. Hampir semuanya menunjukkan arah yang positif. Artinya, teknologi mendorong terjadinya dekadensi moral.

Tampaknya pemerintah sadar akan hal itu. Belum lama ini, aplikasi yang berasal dari Tiongkok yang bernama Tik Tok baru saja diblokir karena banyaknya laporan dari para masyarakat yang resah anaknya menggunakan aplikasi ini.

Pemblokiran beberapa aplikasi menandakan bahwa bangsa kita masih alergi dengan teknologi. Ketidaksiapan struktur sosial kerap berbenturan dengan arus teknologi sehingga menimbulkan friksi yang meresahkan. Globalisasi dan teknologi bukan dilihat sebagai suatu kemajuan tapi malah meresahkan. Pemikiran-pemikiran seperti itu justru yang menghambat perubahan karena tanpa gesekan perubahan tidak akan terjadi.

Penulis tidak berada dalam posisi pertengkaran yang tak kunjung henti antara generasi tua dan generasi muda. Bangsa kita tengah mengalami masa transisi, nilai-nilai baru masuk mendobrak nilai-nilai lama. Hal-hal seperti itu harus dihadapi bukan hanya terus dikritisi tanpa menciptakan sinergi.

Generasi tua menginginkan akhlak sedangkan generasi muda menginginkan otak, lantas mana yang paling penting, akhlak atau otak? Jawabannya tergantung kapan kalian lahir.