Banyak yang menolong tetapi sedikit yang tertolong. Sedikit yang menolong tetapi banyak yang tertolong. Itulah dua fakta yang kami temukan dalam melakukan aksi kemanusiaan, aksi kepedulian sosial, pendidikan, dan kesehatan ditengah-tengah masyarakat kelas bawah yang juga berada ditengah-tengah level jangkauan kebiasaan lama yang belum bisa move on (bangkit).

Mereka sulit untuk bergerak keluar dari zona nyaman, berat melupakan masa lalu, dan terlebih menganggap terobosan hal baru itu adalah tabu atau pantang dengan budaya lama dan juga bahkan bersikap fanatik yang menganggap itu dilarang ajaran agama yang hanya alasannya bersumber dari satu dua ayat dalam kitab suci, seperti; haram, kafir, sahid, sesat, kezoliman, dan suudzon.

Pola pikir masyarakat kelas bawah tidak akan bisa sinkron dengan pola perasaan hati mereka untuk berhubungan dengan kita sebagai pelaku aksi kemanusiaan itu bila agama dan budaya mulai dibahas dan dipermasalahkan. Untuk itu sebaiknya sebagai agen perubahan positif, sebagai pekerja kemanusiaan yang selalu kerja kerja kemanusiaan, saran saya tetaplah lakukan kebenaran dan berhati-hati dalam bicara tentang agama dan budaya ditengah-tengah mereka. 

Sebab tantangan kita bukanlah apa yang kita kerjakan, tapi apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasakan dengan tekanan perubahan baik yang kita lakukan ternyata itu akan membuat mereka sedikit gusar dengan kehadiran kita dengan pola baru, sebab itu hal aneh bagi mereka dalam cara kita berpikir, cara kita merasakan perasaan hati, dan cara kita bertindak atau berbuat nyata pada mereka, tetapi yakinlah lambat laun pasti mereka juga akan mulai mengikuti cara berpikir kita, cara merasakan hati kita, dan cara mensyukuri Rahmat Tuhan dengan bukti cinta kasih, iman, dan pengharapan kepada Tuhan yang menyertai aksi-aksi kemanusiaan kita, amin.

Terus berjuang!, kita tidak bertanya apa agamamu, kita tidak bersoal adat istiadatmu, tetapi kita bersama-sama melakukan KEBENARAN. Bukankah usaha tidak akan mengkhianati hasilnya?, dan tidak ada jerih payahmu yang sia-sia!.