Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengeluarkan peraturan baru terkait pendidikan di masa pandemi. Peraturan ini diputuskan bersama oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian dalam Negeri, pada 15 Juni 2020.

Keputusan tersebut berisi pola pembelajaran di masa transisi New Normal pandemi Covid-19 tahun ajaran 2020/2021. Sekolah yang berada di daerah zona hijau akan menerapkan sistem pembelajaran tatap muka pada bulan Juli mendatang.

"Jadi pertama kabupaten kota itu harus zona hijau. Kedua, Pemda harus memberikan izin. Jadi pemdanya pun harus setuju. Dan yang ketiga, satuan pendidikan telah memenuhi... yaitu sekolahnya telah memenuhi semua ceklis (kriteria) dan yang ceklis daripada persiapan pembelajaran tatap muka," ujar Nadiem dalam telekonferensi yang disiarkan di akun YouTube Kemendikbud, Senin (15/6/2020).

Nadiem menegaskan selama pandemi ini belum berakhir maka, kesehatan guru dan siswa merupakan prioritas utama. Sehingga dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka perlu menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang ketat.

Ditinjau dari YouTube KompasTV penerapan protokol kesehatan ini dilakukan dengan menerapkan jarak fisik, memakai masker juga pelindung wajah, tersedianya toilet bersih, dan sarana tempat mencuci tangan dengan air mengalir.

"Dalam situasi Covid ini yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan para murid-murid kita, guru-guru kita dan keluarganya murid-murid kita, dan prinsip dasar itulah yang kita gunakan," ujar Nadiem Makarin dalam YouTube KompasTV, pada (16/6/2020).

Dalam channel YouTube tersebut Nadiem menjelaskan bahwa salah satu cara terpelan untuk membuka sekolah yaitu dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka secara bertahap, sehingga keaaman itu tetap diperioritaskan. Berikut tahapan pembelajaran pada jenjang pendidikan sekolah.

Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B.

Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A dan SLB.

Tahap III: dilaksanakan dua bulan setelah tahap II: PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal.

Ketiga tahap ini dilakukan dengan catatan jika ada penambahan kasus/level risiko daerah naik, maka satuan pendidikan wajib ditutup kembali. Sedangkan pada jenjang perguruan tinggi dimulai pada bulan Agustus 2020 dan pendidikan tinggi keagamaan dilaksanakan pada bulan September 2020 dengan sistem daring.

Kecuali, pada mata kuliah praktik yang  mengharuskan mahasiswa untuk beraktivitas di kampus seperti penelitian di laboratorium seperti skripsi, tesis, disertasi, tugas laboratorium, prakikum, studio, bengkel, dan kegiatan akademik/vokasi serupa. Tetapi, tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Alasannya adalah universitas punya potensi mengadopsi belajar jarak jauh lebih mudah daripada pendidikan menengah dan dasar. Semua perguruan tinggi masih online," ujar Nadiem Makarim pada, (15/5/2020).

Untuk pendidikan berstandar asrama seperti pondok pesantren, meskipun berada di zona hijau, pembukaan asrama tetap dilakukan secara bertahap. Hal ini karena asrama dianggap menjadi tempat berisiko tinggi penyebaran Covid-19. Maka, tidak dibuka secara gegabah.

Dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka di masa transisi New Normal ini, pemerintah tetap melibatkan orang tua atau wali murid untuk menentukan sistem pembelajaran yang diinginkan baik itu daring ataupun tatap muka. 

Untuk menerapkan sistem pembelajaran tatap muka di masa transisi New Normal ini, Nadiem Makarim juga membatasi peserta didik dalam kelas. 

Pada tingkat SD, SMP dan SMA dibagi menjadi 50% dari jumlah peserta didik di setiap kelas. Sedangkan, untuk jenjang pendidikan SLB dan PAUD maksimal 5 orang di setiap kelas.

Di sisi lain mentri pendidikan dan kebudayaan ini juga mengatur jarak peserta didik saat di kelas. Untuk tingkat SD, SMP dan SMA minimal 1,5 meter. Sedangkan untuk tingkat PAUD berjarak minimal 3 meter.

Meskipun sekolah kembali dibuka tetapi kegiatan di dalam sekolah hanya sebatas belajar mengajar, tidak untuk kegiatan ektrakulikuler atau kegiatan diluar KBM. Hal tersebut berlaku bagi kantin sekolah yang tetap ditutup untuk mengurangi kontak fisik dengan siswa lainnya. 

“Jadi seperti kantin itu tidak boleh buka. Juga kegiatan olahraga dan ekskul juga belum boleh. dan aktivitas lain seperti KBM (kelompok belajar-mengajar) belum boleh saat masa transisi. Jadi apa pun aktivitas yang perkumpulan sifatnya itu belum boleh di masa transisi ini,” ujar Nadiem, pada Senin (15/6/2020).

Terawan Agus Putranto, Mentri Kesehatan (Menkes) menjelaskan, apabila ada peserta didik atau guru yang terkena Covid-19, maka pihaknya akan melakukan tracing di lingkungan sekolah dan bekerja sama dengan puskesmas atau dinas kesehatan kabupaten/kota.

"Kalau ada kasus positif di sekolah, maka otomatis puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota akan koordinasi sekolah itu untuk menjaga agar tidak ada penyebaran lebih lanjut dan aktivitas sekolah akan dihentikan dulu sementara," ujar Terawan, pada Senin (15/6/2020).

Seperti yang sudah dijelaskan oleh Nadim Makarin, bahwa pola pembelajaran ini masih dalam tahap percobaan New Normal. Maka, jika di tengah penerapannya yang berada di zona hijau berubah menjadi zona kuning, oranye, dan merah sekolah akan ditutup kembali,

Jika keadaan kembali normal atau kembali zona hijau maka proses kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan kembali.