Menyikapi dunia hari ini memberikan sebuah paradigma baru, "Teknologi adalah segala-galanya". Ini beranjak dari efek domino yang ditimbulkan dari teknologi, yang semakin hari semakin menunjukkan taringnya. Teknologi telah menjadi candu yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat. Dan ini akan terus menerus menggerus realitas sosial masyarakat yang yang hidup secara kolektif.

Munculnya teknologi sebagai wujud percepatan pergerakan manusia untuk lebih efektif dan efisien dalam bertindak dan berperilaku. Manusia hari ini menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan. Banyak hal yang orang dulu anggap mustahil, sekarang jadi terwujud dan itu akan berkembang dengan sangat cepat.

Semua ini terbingkai dan saling terkait di era disruptif. Menurut KBBI, Disruptif adalah sesuatu yang cenderung mengubah atau menggangu sistem yang sudah ada. Jadi dapat dikatakan bahwa era disruptif merupakan kurun waktu yang di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang mengubah tatanan dan paradigma masyarakat.

Sederhananya, era disruptif adalah masuk dan munculnya inovasi-inovasi baru yang menggantikan sesuatu yang sudah ada, karena dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya efektifitas dan kecepatan. Contoh konkretnya, ketika kehadiran ojek online menggantikan ojek pangkalan dalam pilihan moda transportasi masyarakat menengah ke bawah. 

Orang yang dahulunya ketika ingin berangkat kerja atau lainnya, tapi tidak mempunyai kendaraan pribadi, salah satu pilihannya adalah dengan naik ojek, dan itu harus jalan kaki terlebih dahulu untuk ke pangkalan ojeknya. Tapi kemudian ojek online muncul sebagai inovasi baru, yang lebih efektif dan efisien.

Begitupun dengan contoh inovasi-inovasi lainnya yang berhasil mengubah struktur pola kehidupan masyarakat. Dan ini terjadi di segala bidang. Kemudian menjadi arena persaingan yang ketat. Siapa yang tidak memiliki inovasi, maka berada pada posisi ketinggalan. Keberanian ambil resiko yang akan memenangkan pertarungan.

Kalau hari ini cuman sebagai pemakai saja, bukan tidak mungkin besok akan menjadi pemakai secara terus menerus, tidak ada keberanian menjadi seorang yang produktif. Dan ketika budaya konsumtif dibiarkan secara terang-terangan seperti ini, maka eksploitasi yang dilakukan oleh produsen akan semakin menggeliat. Konsumen akan selamanya disuapi kalau tidak berani makan sendiri.

Ini disebabkan akibat keengganan menjadi pemikir, membuat terobosan, dan terlalu larut dalam kesibukan "mengurusi orang". Tidak ada niatan menjadi maju, sedangkan orang lain berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Berada dalam kenyamanan tidak akan selamanya seperti itu, akan ada saatnya dimana hari ini akan menjadi penyesalan dikemudian hari. 

Terlalu menikmati apa yang ada, sedangkan "tabungan" esok hari enggan dilakukan. Kemudian merengek meminta belas kasihan, dan itu memalukan.

Menjadi pegawai negeri adalah cita-cita yang entah sampai kapan akan terus dilanggengkan. Sedangkan manusia setiap harinya bertambah dan bertambah. Sampai kapan negara akan menanggung itu semua. Mungkin mendapatkan pensiunan adalah khayalan para pencari kerja. Tapi dia lupa kalau hidupnya hanya sebatas "itu-itu saja". Tidak tertarik pada dunia yang luas ini. Tapi itulah yang diminati, mau apa lagi.

Tapi, di era disruptif ini, budaya seperti itu semakin tergerus, persaingan yang super ketat ini menghasilkan manusia-manusia haus akan perubahan. Inovasi akan terus bermunculan, menganggu kenyamanan paradigma "nyaman" yang sudah tidak relevan lagi. 

Bahkan ke kantor pun tidak wajib lagi, adanya teknologi yang memberikan fasilitas informasi dari berbagai cara bisa dilakukan di mana saja. Tinggal kerja ini dan itu, tidak perlu berfokus pada satu tempat. Menjadi usahawan pun tidak perlu modal "materi" yang banyak, cukup modal "keberanian" dengan memanfaatkan fasiltas teknologi yang ada sudah bisa menjadi tolak ukur suatu pencapaian.

Lihat saja, sudah berapa perusahaan raksasa yang tumbang akibat tidak berani keluar dari "status nyaman" yang mereka genggam dulu. Contoh saja, Nokia yang dahulu sangat perkasa di pasaran teknologi komunikasi akhirnya bangkrut, karena tidak matang dalam melihat masa depan yang akhirnya tergeser oleh android. 

Begitu pun Yahoo yang pernah merajai pangsa pasar mesin penelusuran dan juga surat elektronik, yang akhirnya kalah inovasi dengan Google. Dan juga Kodak di pasar kamera, kalah saing dengan kamera digital.

Contoh kegagalan perusahaan-perusahaan yang pernah menjadi raja di eranya tidaklah telah terlepas dari ketidakmauan maupun ketidakmampuan melihat persaingan yang ada. Terlalu nyaman dengan predikat "terbaik" sehingga lupa akan persaingan inovasi yang sangat dinamis dan menantang. Layaknya ketika lomba lari, berhenti sebentar saja, sudah pasti akan disalip oleh lawan, walaupun sudah unggul. Karena dunia mencari pemenang akhir.

Terlepas dari itu semua, era disruptif ini harus dimaksimalkan secara matang, jangan sampai hal sekecil apapun terlewat. Terlalu semangat tapi tidak dibarengi konsep dan perencanaan secara menyeluruh, ujung-ujungnya akan gagal akhirnya. 

Walaupun setangguh dan seunik apapun inovasi yang dihasilkan. Janganlah berhenti untuk berproses selagi masih bisa, karena pengecut bukan terlahir dari kegagalan tapi terlahir dari ketidakmauan.