Researcher
2 tahun lalu · 187 view · 4 menit baca · Keluarga pokemon-go-release-date-beta-image.jpg.optimal.jpg

Pokemon Go dan Pentingnya Pendidikan Melek Media

Sebuah aplikasi game android bernama “Pokemon Go” akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan. Game yang dirilis oleh The Pokémon Company ini tak lama banyak digemari oleh para pengguna smartphone. Hanya dalam 24 jam setelah dirilis, “Pokemon Go” meraih posisi "Top Grossing" (paling populer) di klasemen App Store.

Game ini juga masuk jajaran atas pada App Store dan Google Play, mengalahkan game-game ternama sebelumnya. Dalam 2 hari setelah dirilis, menurut SimilarWeb permainan ini telah terpasang pada lebih dari 5% dari semua perangkat android di Amerika Serikat, Informasi yang dilansir oleh Ubergizmo, pemakaian aplikasi Pokemon Go di AS mencapai 60 persen..

Di Indonesia sendiri, sampai hari ini aplikasi “Pokemon Go” belum dirilis. Namun sejumlah penggemar yang penasaran telah mengunduh aplikasinya secara “ilegal”. Mereka mengunduh game ini melalui APK (Android application package) yang disebar di situs-situs teknologi dan game. Walau belum dirilis secara resmi di Indonesia, menurut data SimilarWeb, jumlah pengguna Pokemon Go di Indonesia mencapai 2% dari total pengguna Pokemon GO secara global.

Dan pengguna Pokemon Go di Indonesia meliputi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, kawula muda, sampai pejabat publik. Para pengguna banyak berburu pokemon di tempat-tempat terbuka, seperti di taman-taman kota, sampai di berbagai sentra wisata dan lingkungan kerja.

Dan kabar yang santer terdengar dari pemberitaan media masaa bahwa game pokemon ini syarat akan kepentingan intelijen. Dimana permainan ini menggunakan sistem pemosisi global (GPS) yang dapat merekonsiliasi data citra fisik untuk memetakan setiap sudut wilayah sehingga yang ditakutkan data tentang geospasial ini dapat disalahgunakan untuk kepentingan geospatial intelligence, terutama untuk kepentingan intelejensi negara tertentu.

Maka sejumlah instansi pemerintah telah memberlakukan larangan bermain Pokemon Go di lokasi-lokasi tertentu seperti istana negara, kepolisian serta lingkungan instansi pemerintah lainnya. Hal ini berkaitan dengan bentuk kewaspadaan nasional dan mengantisipasi timbulnya potensi kerawanan di bidang keamanan dan kerahasiaan instalasi pemerintah serta aparatur negara.

Namun apabila memotret fenomena boomingnya Pokemon Go hanya berdasarkan perspektif ketahanan nasional dan keamanan dirasa tak cukup. Karena pengguna Pokemon Go terdiri dari berbagai kalangan. Terutama anak-anak yang juga perlu mendapat perhatian terkait penggunaan game Pokemon Go ini.

Dari pengguna usia lainnya, anak-anaklah yang paling rawan untuk terkena dampak negatif dari adanya game ini, karena perkembangan kognitifnya yang dianggap belum matang. Sehingga kemampuan dalam dirinya untuk menghindar dari dampak negatif terbilang sangat kecil.

Dan ini berjangka panjang apabila dipandang bahwa anak-anak adalah generasi penerus bangsa, yang perlu dijaga pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga pertumbuhan kognitif dan afeksinya berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dampak bagi Anak-Anak

Aplikasi game Pokemon Go adalah sebuah aplikasi yang diadopsi dari karakter Pokemon yang lebih dulu muncul dan digemari oleh banyak orang. Di Indonesia, Pokemon dikenal sebagai sebuah anime, yang muncul dalam bentuk program serial TV dan sempat menjadi tontonan yang booming pada waktu itu. Tokoh yang populer dalam animasi ini ialah Pikachu, monster virtual yang menggemaskan yang banyak disenangi oleh anak-anak.

Sedangkan alur permainan dari game Pokemon Go itu sendiri ialah pemain harus menangkap Pokemon di tempat-tempat yang sesuai dengan jenis Pokemon tersebut; misalnya, Pokemon jenis air biasanya akan ditemui di tempat-tempat yang dekat dengan air seperti di sungai, kolam, dan sebagainya. Sehingga pemain harus berjalan-jalan di lingkungan sekitar untuk berburu Pokemon

Dalam permainan ini, dapat dikatakan pemain bisa merasakan sensasi menangkap Pokémon seperti di dunia nyata. Karena permainan ini berbasis augmented reality yakni sebuah teknologi yang menggabungkan lingkungan dunia nyata dengan objek virtual.

Dapat dikatakan, teknologi ini membuat permainan Pokemon Go menjadi sebuah kesatuan yang terbentang diantara lingkungan nyata/fisik dan lingkungan virtual yang membuat pemain terasa benar-benar berada bersama Pokemon. Sehingga bagi pemain game ini, Pokemon adalah sesuatu yang nyata, yang bukan lagi hanya semata-mata imajinasi dan fiksi belaka. Pokemon hadir di tengah lingkungan yang ada di kehidupan nyata mereka sehari-hari.

Mungkin inilah yang disebut Jean Baudrillard sebagai dunia Hiperrealitas dimana realitas dengan fantasi, fiksi dan halusinasi melebur menjadi satu, yang membuat orang sulit membedakan antara realitas nyata dan realitas maya. Bahkan dalam game Pokemon Go ini, fantasi atau fiksi telah menjadi realitas. Ia seakan-akan hadir di lingkungan nyata pemain.

Dalam permainan ini, pemain dihadapkan dalam kenyataan terintegrasinya dunia fiksi (pokemon) dengan lingkungan nyata mereka yang ditransformasikan ke dalam ruang layar. Sehingga melalui media layarlah pemain bisa bersentuhan dan akrab dengan dunia fiksi (pokemon) tanpa adanya relasi kebertubu­han. Di tengah meleburnya realitas nyata dan dunia fiksi inilah, game Pokemon Go dapat menggiring pemain ke dalam situasi “ekstasi” dan “ketaksadaran”.

Membuat pemain tenggelam ke dalam “ilusi optik” dan tak sadar dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dalam situasi inilah, tindak kriminalitas seperti penculikan dan peristiwa kecelakaan kerap menimpa para pemain game Pokemon Go ini. 

Hal itu akan semakin berbahaya bagi anak-anak, mengingat anak-anak belum begitu memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang maya. Anak-anak mudah tergiur dan tercekau dengan hal-hal yang fiktif dan fantastic. Sehingga potensi bahaya dari game ini justru besar terjadi pada diri anak-anak.

Ditambah anak-anak ketika dalam kondisi keasyikan bermain kerapkali tidak memiliki kontrol akan potensi bahaya dari permainan yang ia mainkan. Untuk itu, perlu sekirannya ada upaya penanggulan potensi bahaya game ini bagi anak-anak.

Pentingnya Pendidikan Literasi Media

Upaya penanggulangan potensi bahaya dari game Pokemon Go ini tak bisa semata-mata hanya berupa larangan menggunakan aplikasi game ini. Mengingat perkembangan media dan teknologi itu sendiri tak bisa dibendung atau ditolak begitu saja kehadirannya.

Kita tak bisa hanya berhenti menyalahkan perkembangan teknologi yang dianggap berjalan tak sesuai dengan moral narasi kita. Akan tetapi perlu adanya upaya preventif yang bisa mencegah potensi bahaya dan dampak negatif dari adanya game ini.

Untuk itu, pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan perlu sekiranya memberikan pendidikan melek (literasi) media, terutama kepada ibu-ibu rumah tangga, karena ibu lah pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Terutama membekali ibu-ibu kemampuan untuk mengakses, menganalisa dan mengevaluasi konten yang termuat dalam media-teknologi.

Sehingga terbangun kesadaran kritis pada diri orang tua ketika berhadapan dengan media, yang kemudian memungkinkan orang tua dapat membimbing anaknya untuk cerdas dalam menggunakan media-teknologi. Termasuk agar anak bisa memilih sendiri fitur dan layanan yang baik untuk perkembangan mentalnya. Dari upaya ini pula, kita bisa menghindarkan diri dan melindungi anak-anak dari bahaya dampak negatif perkembangan media-teknologi.