Panitia Workshop
1 bulan lalu · 189 view · 5 menit baca · Info 18240_96837.jpg

Pohon-Pohon yang Menanam Peradaban

Berbeda dari Workshop & Kelas Menulis Qureta sebelumnya, di momentum kali ini, kami menempatkan kunjungan lapangan sebagai agenda di hari pertama. Ini karena para peserta diharapkan bisa mengenal terlebih dahulu, secara langsung dan detail, tentang dari dan bagaimana kertas itu bermula.

Diterangkan Program Manager kami, Evi Rahmawati, penggalian pengetahuan seputar kertas di awal akan jadi bahan tulisan utama bagi para peserta. Dimaksudkan sebagai penunjang tujuan penyelenggaraan Workshop & Kelas Menulis Qureta-APP Sinar Mas di Riau kali ini, yang bertitik tekan ke pencarian penulis-penulis berbakat.

“Ada harapan besar untuk kegiatan tahunan ini bisa melahirkan orang-orang yang cakap di dunia tulis-menulis. Mereka harus bisa memberi wawasan ke khalayak luas lewat karya-karya tulis, mampu bercerita tentang peran dan fungsi kertas dalam membangun peradaban. Ini sesuai dengan tema yang kami usung, Cerita Kertas.”

Bicara tentang kertas, tentu kontribusi APP Sinar Mas tidak bisa kita nafikan. Sudah tak terhitung lagi jumlah produk kertas beserta turunan lainnya yang perusahaan ini hasilkan, melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, memberi sumbangsih besar bagi kemajuan peradaban manusia. Alasan itulah yang mengantarkan para peserta memulai Workshop & Kelas Menulis dengan kunjungan ke salah satu anak perusahaan APP Sinar Mas di Riau, yakni PT Indah Kiat Pulp and Paper.

Pabrik kertas ini berlokasi di Perawang, Kec. Tualang, Kab. Siak. Dan tentu bukan hal yang mudah menempuh lokasinya. Butuh waktu normal sekitar 3 jam dari tempat kami menginap. Naik bus dari Pekanbaru ke Siak adalah perjalanan yang cukup menguras energi.

Beruntung kiranya kami disambut hangat oleh sang Direktur, Hasanuddin Tse. Sambutannya jadi pengobat rasa lelah tersendiri, terutama karena tujuan yang hendak peserta cari ada dalam sambutan berbalut materi seputar kertas. Ini jadi pintu masuk awal untuk peserta mengenal lebih jauh tentang kertas, tak sekadar menggunakannya lagi di kemudian hari.

Beberapa benda begitu dekat dan lekat dengan keseharian kita, baik saat belajar, bermain, menyalurkan hobi, bekerja, maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Satu di antara benda itu adalah kertas,” paparnya.

Bermula dari Pohon

Sejak diperkenalkan pertama kali oleh Tsai Lun pada era Dinasti Han di Tiongkok sekitar abad I Masehi, hingga berkembang menjadi berbagai jenis bentuk, ukuran, serta fungsinya, kini kertas telah menjadi bagian dari kehidupan dan keseharian manusia. Semua, kertas dan produk-produk turunannya, bermula dari pohon-pohon yang ditanam khusus di areal yang kini disebut Hutan Tanaman Industri (HTI).

Ada dua jenis pohon yang jadi bahan baku kertas di perusahaan ini, yakni akasia dan ekaliptus. Dalam rentang 5 tahun sejak penanaman, tiap batang pohonnya telah siap panen. Dan di pabrik, batang-batang pohon berbentuk kayu yang telah dipanen itu kemudian diolah. Kulit-kulitnya dikupas bersih.

Meski sekadar kulit, bukan berarti tidak bermanfaat lagi. Kulit-kulit itu diolah kembali jadi bahan bakar biomassa. Sementara isinya, kayu-kayu yang sudah bersih, dicacah hingga jadi serpihan atau woodchips. Serpihan-serpihan kayu inilah yang kemudian dimasak dalam tangki raksasa bertekanan tinggi, serupa proses pencernaan dalam tubuh manusia.

“Hasilnya, dalam bentuk yang lembut, serat kayu yang dibutuhkan akan terpisah dari kandungan lainnya. Sementara bubur kertas atau pulp akan mulai terlihat bentuknya dari sana.”

Sesuai kebutuhan, untuk pulp, ada yang dikeringkan hingga berbentuk padat dan siap dikemas. Ada pula yang langsung diproses ke tahap selanjutnya, yakni dengan mencairkan pulp hingga berbentuk bubur, yang dikenal dengan tahapan wet end.

Setelah itu, bubur-bubur kertas tadi dialirkan ke mesin-mesin di mana pulp diperas dan ditekan sedemikian rupa. Ini tahapan dry end, hingga terbentuklah lembaran kertas seperti yang kita kenal dalam bentuk gulungan raksasa.

Dari gulungan itulah kemudian dilakukan pemotongan sesuai ukuran dan jenis produk yang dikehendaki. Berlanjut ke pemilahan dan pemeriksaan kualitas. Diakhiri dengan proses pengemasan dan pengiriman ke berbagai tujuan ke seluruh penjuru dunia.

“Produk kertas dari Indonesia seperti Asia Pulp and Paper telah terekspor ke lebih dari 120 negara. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kertas urutan ke-6 di dunia dan ke-10 dunia untuk pulp. Selain itu, industri pulp dan kertas sendiri telah menjadi gantungan hidup bagi lebih dari 1 juta orang.”

Imbasnya ke Kesejahteraan Masyarakat

Selain bersumbangsih kertas beserta produk-produk turunannya bagi kemajuan peradaban, PT Indah Kiat Pulp and Paper ternyata memilih juga tanggung jawab yang besar, yakni mencipta kesejahteraan masyarakat di sekitar konsesi, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Salah satu bentuknya adalah dengan pengadaan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

Program DMPA ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat yang dikombinasikan dengan pelestarian alam dan lingkungan sekitar. Masyarakat diarahkan dan difasilitasi mengelola lahan secara agroforestri serta berkesempatan meningkatkan kehidupannya.

“Program ini mengarahkan masyarakat agar mengelola lahan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” terang Yudha Profitian, Media Affairs APP Sinar Mas Jakarta.

Dijelaskan pula soal target capaian dari program ini. Bahwa selama 5 tahun sampai dengan tahun 2020 ke depan, ditargetkan 500 desa di 5 provinsi, yakni Riau (236 desa), Jambi (88 desa), Sumatra Selatan (109 desa), Kalimantan Barat (37 desa), dan Kalimantan Timur (30 desa).

Masyarakat sekitar konsesi pun mengaku merasakan langsung manfaat dari program DMPA. Seperti dikisahkan Herman, salah satu petani holtikultura di Perawang, program DMPA dari PT Kiat Indah Pulp and Paper memicu peningkatan produksi tanaman.

“Sebelum ada program DMPA, saya terkendala masalah jalan. Jadi tanaman tidak bisa kita tanam seluas mungkin, tidak bisa akses karena jalanan rusak. Jadi sekarang, karena jalan sudah dibuat, kita bisa menambah kapasitas tanaman. Tadinya setengah mobil, sekarang lebih, sampai 2 mobil,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Kelompok Cendawan House yang membudidayakan jamur tiram.

“Kami sebelumnya sudah ada budidaya jamur tiram, tapi dengan skala kecil. Produksi kami itu sangat tersendat-sendat, tidak lancar. Tapi dengan program DMPA, produksi kami meningkat sampai 10 ribu per blok. Bisa produksi minimal seminggu sekali.”

Agus, seorang nelayan sungai, juga mengaku meningkat dari segi pendapatan ekonomi karena program tersebut. Program DMPA memfasilitasinya berupa alat-alat canggih untuk menangkap ikan.

“Selama ini hanya menggunakan alat tradisional, hanya menggunakan pancing biasa. Bantuan DMPA membuat nelayan seperti saya menjadi lengkap alat-alatnya. Pendapatan ekonomi nelayan jadi meningkat.”

Demikian halnya dengan Siswanti, pengusaha tape. Jika dulu pemasarannya hanya di wilayah Perawang saja, tapi dengan adanya program DPMA dari perusahaan, pemasaran tapenya sudah bisa menembus wilayah terjauh hingga ke Kerinci.

“Penghasilannya pun dua kali lipat dari sebelumnya.”

Ini membuktikan bahwa industri penghasil pulp dan kertas seperti PT Indah Kiat Pulp and Paper tak sekadar menanam pohon-pohon sebagai bahan baku produksi belaka, melainkan pula menanam peradaban, menebar kesejahteraan untuk masyarakat, terutama yang berlokasi di sekitar konsesi. Pohon-pohon jadi pemicu kenapa program kesejahteraan tercanangkan di sana.