Jika ada pegawai negeri sipil (PNS) yang tersinggung dengan tulisan saya ini, tak apa. Bapak ibu PNS yang hobi nongkrong memang sengaja saya singgung. Semoga saja sebenar-benar tersinggung dan kemudian lahirlah PNS-PNS paripurna. PNS istimewa, sempurna dan ideal sebagaimana seharusnya. Anggap saja ini upaya untuk ikut menyukseskan program revolusi mental. Tentunya untuk Indonesia lebih baik.

PNS nongkrong ini istilah pelesetan dari anak nongkrong, itu gelar untuk anak-anak remaja yang suka kumpul bersama. Lalu mengobrol tentang apa pun yang mereka suka. Kadang melakukan hobi bersama.

Nah, PNS nongkrong ini kurang lebih sama seperti itu. Suka ngumpul, lalu berbincang bersama. Apa yang diperbincangkan? Banyak. Dari hal penting sampai yang tak penting. Dari yang perlu, tak perlu sampai yang terlarang untuk diobrolkan karena bisa saja menambah dosa.

Ada juga yang hobi nongkrong sendiri, melakukan hobi sendirian juga, semisal main game di komputer atau menunaikan kesukaan tidur. Tempatnya bisa di mana-mana. Di ruang kerja, di ruang kosong, ruang untuk beribadah. Pokoknya di mana pun, asal bisa duduk.

Apa yang salah dengan nongkrong? Tak ada yang salah. Sebenarnya malah bermanfaat. Terutama mempererat silaturahmi dan tentu juga menghilangkan stres. Tapi, mungkin kita semua setuju kalau nongkrong di saat jam kerja adalah salah. Ibarat anak sekolah pergi nongkrong di jam belajar. Bolos. Semua orangtua yang tahu anaknya bolos sekolah, tentu marah.

Jika anak sekolah bolos, tentu merugikan diri sendiri. Seharusnya ia bisa mendapatkan ilmu pengetahuan lebih banyak pada hari itu, tapi jadinya tidak. Kalau PNS nongkrong, ruginya bukan hanya ke diri sendiri, tapi merugikan kanan kiri, depan belakang.

Yang sering saya lihat, PNS nongkrong ini akan merepotkan atasan mereka masing-masing. Sebut saja kepala sub bagian, kepala bagian sampai kepala dinas. Awalnya atasan ini mau minta tolong mereka untuk mengerjakan sesuatu. Tapi karena si PNS tak ada di ruangan masing-masing pekerjaan ini terhambat. Alhasil, roda pemerintahan terganggu. Program pemerintah juga tersendat. Padahal PNS digaji kan untuk melaksanakan program pemerintah sebaik-baiknya, ya kan?

Belum lagi kalau PNS ini kerjanya melayani masyarakat. Seharusnya masyarakat bisa cepat menyelesaikan urusan mereka di kantor pemerintahan, tapi karena PNS-nya nongkrong, terpaksa urusan tertunda. Waktu pengurusan harusnya bisa sebentar, malah menjadi lebih lama. Gara-gara PNS-nya nongkrong. Padahal PNS digaji kan untuk melayani masyarakat, ya kan?

Tentu tak semua PNS adalah PNS nongkrong. Banyak juga yang rajin-rajin. Banyak yang mengerjakan pekerjaan mereka dengan sebaik-baiknya. Tapi di sinilah kemudian letaknya ketidakadilan. PNS yang rajin dan PNS yang hobi nongkrong mendapat perlakuan sama. Apalagi ada anggapan PNS itu hampir tak mungkin dipecat. Paling-paling dimutasikan. Ini bagi mereka tak masalah pula, toh masih dapat gaji dan masih bisa nongkrong di tempat yang baru.

Namun, nongkrong  lalu menjadi virus. PNS yang rajin bisa jadi berpikir: untuk apa rajin sementara PNS lain malah asyik nongkrong saja? Alhasil, semakin banyaklah PNS yang tak rajin. Di sinilah mungkin pemerintah memandang perlu revolusi mental. Agar itu terwujud, para atasan tentu harus berani menegur mereka yang nongkrong. Jangan malah nanti ikut-ikutan nongkrong.