Mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan santri sebuah perilaku telanjang kaki (Nyeker Red.) yang mungkin terjadi dikarenanakan sebab. Pertama, kemungkinan seringnya terjadi penghashaban. Kedua, ngirit uang karena sudah biasanya nyeker.

Sebagian santri merasa tidak susah membeli sandal, dan yang ketiga ialah tabi’ (mengikuti) terhadap ulama’ terdahulu. Dalam kontek fiqih, berjalan tanpa alas kaki sangat tinggi kemungkinan terkena kotoran (khubus) dan najis.

Adapun arti dari khubus menurut syara’ adalah sesuatu yang menjijikan yang oleh syar’i diperintahkan untuk dibersihkan. Sedangkan najis menurut lafadz ialah segala sesuatu yang menjijikan, baik hissi, seperti darah, air kencing, kotoran manusia dan semacamnya.

Adapun arti dari khubus menurut syara’ adalah sesuatu yang menjijikan yang oleh syar’i diperintahkan untuk dibersihkan. Sedangkan najis menurut lafadz ialah segala sesuatu yang menjijikan, baik hissi, seperti darah, air kencing, kotoran manusia dan semacamnya.

Dampak positifnya dengan demikian pelaku nyeker akan selalu dituntut untu selalu bersuci dan selalu hati-hati dalam segala hal. Adapun sebuah hadits mengenai “thaharah” ialah : “Bersuci adalah sebagian dari iman” (HR.Muslim, Ahmad, Ad-Darami, Abi daud, An-Nasa’I At-Turmudzi, Ibnu majah , Ahmad dan Malik).

Oleh sebab itu di lihat dari tuntutan thaharah (bersuci) yang berkali-kali karena perilaku berjalan kaki tanpa alas kaki, akan menjadi nilai tambahan tersendiri bagi santri perihal tinjauan langsung dari hadits di atas.

Kemudian bila ditinjau dari segi fiqih tasawuf, perilaku telanjang kaki adalah sebuah bentuk kesederhanaan dan ketawadhu’an yang jelas mengacu serta mencontoh dari sifat para Nabi Muhammad SAW. yang menjadi sebaik-baiknya suri tauladan dari umatNya.

Serta perihal perilaku telanjang kaki telah di terangkan dalam kitab ihya’ ulumuddin, bab tentang menghancurkan dua macam syahwat, dalam hadits Usamah bin Zaid dan Hadits Abu Hurairah yang di kategorikan hadits yang panjang.

Hadits tersebut yang artinya “paling dekatnya manusia di sisi Allah Azza Wa Jalla di hari qiyamat adalah orang yang lama laparnya, dahaganya, dan kesusahannya di dunia, yang berjalan tanpa alas kaki, yang bertaqwa, yang mereka kalau datang niscaya tidak dikenal dan kalau mereka tidak ada niscaya dianggap hilang.

Dengan keprihatinan santri ketika berjalan dengan telanjang kaki, serta di arahkan kebajikan, maka kelak di akhirat nanti kaki tersebut akan di mintai saksi atas apa yang telah kita perbuat niatkan.

Kemudia dalam surat Yaasin ayat 26 juga menjelaskan “pada hari ini kami tutup mulut mereka, dan berkatalah pada kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.

Perilaku telanjang kaki itu di katakan sehat menurut pandangan dari ahli medis, dalam telapak kaki terdapat banyak titik refeksi, yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti (Ginjal, alergi, anemia, asma, awet muda, brongkhitis dll).

Rutinitas santri biasanya kalo hari libur di gunakan untuk tidur (mbangkong. Red jawa) dalam hal ini bisa di netralisir dengan olahraga tanpa beralas kaki karena menyimpan nilai posistif dapat meningkatkan kualitas tidur.

Jadi, berjalan kaki tanpa alas dapat memberikan kesadaran dan membuat tubuh bekerja sebagai pengingat waktu tidur dan bangun alami. Maka dari itu setidaknya berjalan kaki tanpa alas di biasakan paling lama 5 menit agar hidup tetap sehat dan bugar.

Menurut medis juga dapat meningkatkan postur dan keseimbangan tubuh keseluruhan, sehingga berjalan kaki tanpa alas dapat memkasa tubuh untuk melatih dan memperkuat otak-otak kecil di kaki. Otak belajar untuk memperhatikan sinyal yang di kirim oleh kaki.

Kemudian juga dikatakan dapat memperlancar peredaran darah ke otak, yang mempengaruhi sistem kerja otak. Fungsi kerja otak inilah yang dapat berpengaruh pada kewaspadaan indera dengan beraneka ragam jenisnya (semisal, lebih cerdas, lebih kuat hafalan dll).

Namun dalam pandangan medis terlalu sering telanjang kaki, akan menyebabkan cutaneous larva migrans, itu jenis insfeksi parasit yang di sebabkan oleh larva dari kucing atau cacing tambang pada anjing.

Kemudian MRSA (methicillin resistant staphylococcus aureus) itu sejenis bakteri staph yang resisten terhadap banyak antibiotik. Infeksi jamur pada kuku (onikomikosis) atau kulit kaki (tinea pedis) yang lebih di kenal kaki atlet.

Tungiasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh lalat pasir betina atau kutu chigoe yang terkadang di sebut jigger masuk ke dalam kulit dan pada umumnya akan menginfeksi kaki atau tumit dan juga akan menjalar pada jari kaki. Dari jenis penyakit ini di katakan paling menjijikan.

Dapat di simpulkan bahwa berjalan kaki tanpa alas kaki memang memiliki beberapa sisi negatif. Namun di sisi lain juga bertelanjang kaki juga memiliki segudang manfaat bagi tubuh.

Untuk mencegah dari berbagai penyakit sebaiknya mulailah hidup dengan menyeimbangkan dalam perilaku berjalan kaki tanpa alas serta hindarilah benda tajam dan permukaan yang sulit di lalui oleh kaki.