Secara terminologis, pendidikan dalam Islam menggunakan beberapa istilah di antaranya tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan tahzib.[2] Tarbiyah  dari segi bahasa mengandung makna pertumbuhan agar menjadi besar (lebih maju) sehingga dapat memperbaiki, memelihara, dan menuntun ke arah yang lebih baik dan sukses.

Sementara itu An- Nahlawi yang dikutip Wajidi mengemukakan secara lebih rinci bahwa tarbiyah terdiri dari empat unsur: pertama, menjaga dan memelihara fitrah hingga baligh. Kedua, mengembangkan seluruh potensi. Ketiga, mengarahkan fitrah dan seluruh potensi menuju kesempurnaan, dan keempat, dilaksanakan secara bertahap.[3]

Sedangkan ta’lim menunjukan adanya proses yang rutin dan terus-menerus serta upaya yang luas cakupannya sehingga dapat memberi kejelasan kepada muta’allim. Ta’dib berasal dari kata adaba artinya menanamkan perilaku dan sopan santun. Inilah yang disebut mendidik.

Seyyed Muhammad Naquib al-Attas menggunakan istilah ta’dib dalam arti pendidikan Islam untuk menjelaskan proses penanaman adab kepada manusia. Terakhir tazkiyah yang berarti suci, bersih, tumbuh dan berkembang berdasarkan berkah dari Allah SWT.[4]

Abdurrahman an-Nahlawi (dalam bukunya yang berjudul “Ushul al-Tarbiyah” memberikan ta’rif “ al-tarbiyah hiya tanamiyatun fikru al-insani wa tanzhmu sulukihi wa ‘wathfihi ‘la asasi al-dini al-Islami wa biqasdi tahqiqi ahdafi al-islami fi hayati al-fardi wa al-jama’ti'ay fi kuli majalati al-hayati).”[5]

Jika diartikan secara bebas, pengertian pendidikan Islam menurut Abdurrahman an-Nahlawi di atas  adalah menanamkan nilai kemanusiaan dan aturan dalam berpikir yang didasarkan pada nilai pokok agama Islam, yang bertujuan merefleksikan Islam dalam kehidupan individu dan kelompok.

Hasan Langgulung yang dikutip Azyumardi Azra merumuskan pendidikan Islam sebagai “proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.”[6]

Di sini pendidikan Islam merupakan proses pembentukan individu berdasarkan ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammmad SAW. Melalui proses di mana individu dibentuk agar menadapat derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, yang selanjutnya mewujudkan kebahagian di dunia dan akhirat.

Azyumardi Azra memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai “proses bimbingan (pimpinan, tuntutan, usulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, dan institusi), dan raga objek didik dengan bahan materi tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai ajaran Islam.”[7]

Dengan melihat beberapa definisi pendidikan Islam di atas, dapat dikemukakan bahwa pendidikan Islam adalah penanaman nilai-nilai kemanusiaan yang didasarkan pada nilai Islam sebagi bekal kehidupan, baik kehidupan pribadi ataupun  kelompok.

Pendidikan Islam menurut an-Nahlawi landasanya adalah Qur’an dan Hadis.[8] Dengan demikian, konsepsi pendidikan Islam akan selalu menjadikan kedua dasar itu sebagai acuan pokok. Karena al-Quran sebagai acuan utama.

An-Nahlawi menjelaskan juga bahwa dalam Islam dikenal lima istilah hak insan dalam kehidupanya  yaitu; hifzu al-din (hak beragama), hifzhu an-nafsi (hak perlindungan diri), hifzhu al-mal (hak perlindungan harta benda), hifzhu al-‘radlu (hak kebebasan pendapat), dan hifzhu al-‘qlu (hak kebebasan berpikir).[9]

Jika melihat hak dasar manusia, baik sebagai individu atau kelompok, berdasarkan pendapat di atas niscaya kehidupan berbangsa dan bernegara akan terasa penuh dengan harmonisasi.

Pendidikan agama hendaknya menjadi media penyadaran umat. Kenyataannya, sampai saat ini agama masih memelihara kesan eksklusifitas. Sehinggga, di masyarakat pun tumbuh pemahaman eksklusive. Harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat tidak dapat terwujud.

Tertanamnya kesadaran seperti itu niscaya akan menghasilkan corak paradigma beragama yang rigid dan tidak toleran. Padahal sumber dasar pendidikan agama, Quran, memberikan kesan bahwa beragama itu harus toleran sebagaimana termaktub dalam surah al-Kafirun (QS. 109:6).

Menurut KH. Husein Muhammad ajaran Islam menghargai perbedaan agama. Memaksakan agama tidak diperkenankan bagi siapa pun termasuk Nabi Muhammad sekali pun. Allah mengingatkan dalam firman-Nya Innaka la tahdi man ahbabta wala kinna yahdi man yasa (sesungguhnya kamu tidak akan bisa memberikan anugrah atau hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki.[10]

Menurut Abdurrahman Wahid, proses pelaksanaan pendidikan agama telah mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh para pendidik di bangku sekolah dan mimbar dakwah oleh sang da’i. Menurutnya pendidikan keagamaan cendrung bersifat memusuhi, mencurigai, dan tidak mau mengerti agama lain.[11]

Pendidikan pluralisme yang menyangkut kebebasan beragama bukan berarti mengajarkan bebas tak beragama, melaikankan ditanamkan pada peserta didik bahwa keyakinan beragama merupakan hak privat seseorang yang tidak bisa dipaksakan oleh siapapun.

Hal ini ditegaskan oleh Quran bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Tidak menghakimi yang berbeda secara keyakinan atau penafsiran agama sebagai sesuatu yang harus dimusuhi melainkan lebih dikedepankan nilai saling menghargai dan menghormati. Bukankah Tuhan Allah sendiri melarang umat Islam mencaci maki Tuhan sesembahan non Muslim?[12]

Penghargaan pada kebebasan beragama dalam pendidikan ini dimaksudkan supaya proses pendidikan, terutama pendidikan agama, tidak diajarkan secara dogmatis eksklusif; memandang yang tak sepaham dengan ajarannya merupakan kesesatan nyata yang harus dimusuhi kalau perlu di musnahkan.

Pendidikan agama lebih ditekankan pada keterbukaan inklusif. Pendekatan inklusif ini bukan bertujuan untuk mencampuradukkan ajaran agama (aqidah) yang memang tidak boleh dicampur-campur, tetapi lebih bertujuan untuk mengikis paradigma keberagamaan yang ekslusif dan kaku.[13]

Menurut muhammad Ali[14], untuk mencegah agar pemahaman keberagamaan masyarakat yang ekslusif, maka perlu diambil beberapa langkah preventif.

Langkah yang perlu dilakukan adalah membangun pemahaman keberagamaan yang lebih inklusif-pluralis, multikultural, humanis, dialogis-persuasif, kontekstual, subtantif, dan aktif sosial sangat perlu untuk dikembangkan melalui, pendidikan, media massa, dan iteraksi sosial.

Penanaman pendidikan, terutama menyangkut kehidupan sosial lebih ditekankan pada aspek sosiologis atau kultural, bukan aspek teologis. Dengan pendekatan kultural, peserta didik dibawa ke dalam realitas kehidupan.

Seperti apresiasi karya seni yang diinspirasi oleh Islam dan memiliki nilai spiritual mendalam, baik seni fisik seperti beduk, rumah ibadah, tari, nyanyian maupun sayir.

Paradigma keberagamaan yang inklusif-pluralis berarti dapat menerima pendapat dan pemahaman agama lain yang memiliki basis ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan pemahaman beragama seperti ini, pada akhirnya nilai-nilai universal yang terkandung dalam agama seperti kebenaran, keadilan, kemanusiaan, perdamaian dan kesejahteraan umat manusia dapat ditegakkan.

Sejarah klasik Islam mencatat betapa banyak pemikir besar dan kelompok tertentu mengalami ketertindasan, menjadi korban kekerasan, korban pemasungan, pengusiran, dan isolasi, hanya akibat pandangan-pandangan mereka yang berada di luar kerangka ideologi arus utama.

Pandangan ini sering kali mengajukan landasan keagamaan yang mereka yakini kebenaranya. Tetapi segera diketahui, bahwa landasan mereka berangkat dari cara membaca teks-teks keagamaan yang sangat skriptualistik dan konservatif (eksklusif).[15]

Wajar apabila ada yang apriori pada agama, katakanlah seperti Sam Harris (2005) . Hingga dia menulis buku dengan judul The End Of Faith: Religion, Teror, and The Future of Reason. Bahkan Malachi Martin dalam Djohan Efendi beranggapan bahwa:

Keberhasilan agama-agama sudah berakhir. Semua berada dalam keadaan krisis karena sudah tidak mampu memberi jawaban bagi manusia modern terhadap persoalan-persoalan etis mereka. Agama-agama itu tidak mampu mempersatukan umat manusia.[16]

Dengan begitu, diperlukan adanya upaya-upaya untuk mengubah paradigma pendidikan yang eksklusif menuju paradigma pendidikan agama yang toleran dan inklusif. Model pengajaran agama yang hanya menekankan kebenaran agamanya sendiri mau tidak mau harus ditinjau ulang.

Sebab cara pemahaman teologi yang ekslusif dan intoleran pada gilirannya akan dapat merusak harmonisasi agama-agama dan menghilangkan sikap untuk saling menghargai kebenaran dari agama lain[17]. Menganggap agama yang satu lebih baik dari agama lain adalah ofensif, berpandangan sempit.[18]

Pendidikan Islam yang di dalamnya ada ajaran missionaristik (dakwah), yang pada dasarnya dilandasi oleh itikad luhur untuk berbagi anugrah samawi yang diyakini sebagai jalan keselamatan, perlu diimbangi oleh penumbuhan sikap toleran kepada orang lain untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kalau tidak, itikad luhur itu dicedrai oleh tindakan- tindakan yang merendahkan martabat manusia.[19]

Pendidikan Islam insklusif bisa menerima perbedaan-perbedaan dengan arif, karena dalam Islam dikenal ajaran toleransi. Toleransi dalam Islam menurut pemahaman KH. Husein Muhammad menempati posisi tinggi sehingga Islam melarang kaum muslimin mencaci-maki tuhan-tuhan selain Tuhan Allah yang disembah kelompok non-Muslim.

Sang kiai berargumen berdasarkan ayat al-Quran:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka, lalu Dia beritahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Qs.al-An’am, 6:108)[20]

Tampak jelas menurut teks suci ini, bahwa kepercayaan keagamaan seseorang dilindungi Tuhan, keberbedaan ekpresi berkeyakinan tidak membenarkan siapapun untuk mengganggu yang lain. Hal tersebut semata-mata karena kebhinekaan ekpresi keyakinan manusia adalah kehendak Tuhan. Allah berfirman :

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah semua orang dimuka bumi beriman. (Qs. Yunus,10:99)[21].

Dan dalam realitasnya, Tuhan menghendaki keberagaman (pluralitas) dalam keberagaman manusia. Maka adalah logis jika mengatakan bahwa pemaksaan kehendak agar orang lain menganut kepercayan kita adalah sesuatu yang terlarang.[22]

Pendidikan Islam yang pluralis memiliki akar teologis dan historis. Akar teologis sudah dikemukakan di atas, bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Sedangkan secara historis baginda Rasulullah SAW ketika di madinah memberikan contoh toleransi yang sangat tinggi terhadap pluralisme agama yang ada saat itu.

Bahkan Rasulullah SAW membuat aturan hidup bermasyarakat (Piagam Madinah) didasarkan pada nilai-nilai universal kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan. Tidak satupun diktum aturan masyarakat itu yang berbau agama atau sektarianisme.[23]

Berbeda dengan pandangan kaum pluralis di atas dalam hal ini Adian Husaini (2010) dalam bukunya terkait pendidikan Islam yang diberi judul Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab. Bagi Adian Husaini pendidikan Islam itu harus berakar pada konsep tauhid yang eksklusif, karena menurutnya konsep tauhid menolak kebenaran agama selain kebenaran Islam.

Apa yang dikemukakan oleh Adian menggiring pada pemahaman bahwa pendidikan itu seakan harus eklslusive tertutup, dengan argumen Islam sebagai ajaran yang sudah final[24], bukan dalam proses mencari kebenaran[25].

Masih menurut Adian Husaini, pendidikan Islam berbeda atau punya ciri khas tersendiri yaitu harus berdasarkan pada wahyu dan hadis yang bersifat mengikat dan berlaku sepanjang jaman.

Adian sangat menentang konsepsi titik temu kebenaran agama-agama. Baginya kebenaran mutlak hanya ada pada Islam bukan pada agama yang lain. Ia menegaskan bahwa konsepsi pendidikan pluralis mengajarkan relativisme kebenaran.[26]

Adian Husaini juga menegaskan relativisme kebenaran yang diajarkan melalui pendidikan multikultural sangat berbahaya bagi siswa.[27] Bahayanya adalah siswa tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan karena semuanya relatif.

Akibatnya pada diri siswa muncul sikap keragu-raguan (skeptis). Sikap skeptis dan relativisme kebenaran yang dilahirkan dari rahim multikulturalisme harus dijauhi oleh setiap manusia karena merusak sendi-sendi aqidah Islam.[28]

Dalam buku pendidikan Islam yang ditulis Adian Husaini  dengan judul Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab, Adian mengkritisi pendidikan yang pluralis seperti titik temu kebenaran dalam tiap agama.[29] Titik temu kebenaran agama bagi Adian Husaini merupakan sesuatu yang absurd tak mendasar.

Bahkan menurutnya pluralisme agama merupakan racun yang melemahkan keimanan dan keyakinan  Islam.[30] Ketidak setujuan Adian Husaini ini ditunjukan ketika mengkritisi sebuah artikel dalam jurnal Tashwirul afkar  edisi No 11 tahun 2001 tulisan Khamami Zada dengan Tema “Menuju Pendidikan Islam pluralis”[31]

Adian Husaini menyimpulkan bahwa pendidikan yang berbasis pluralis-multikulturalis, di dalamnya mengajarkan  kepada siswa untuk menghargai keragaman budaya, suku, ras, etnis, agama mengalami problem teologis.

Problemnya, yaitu: dekonstruksi konsep Tauhid, relativisme kebenaran, antiotoritas penafsiran. Dengan ajaran yang semacam ini, mindset  siswa juga bermasalah. Karena, selain dia mengakui agamanya sendiri, juga mengakui kebenaran agama lain.[32] Bahkan dengan lugas Adian menganggap pendidikan  agama berwawasan pluralis-multikultural  berusaha menggerus keyakinan eksklusif tiap agama, khususnya aqidah umat Islam.[33]

Argumen Adian Husaini di atas tidak selaras dengan pandangan Abudin Nata bahwa pendidikan agama  tidak hanya dipahamai dengan menggunakan pendekatan normatif, teologis dan ideologis, melainkan juga historis, antropologis, etnografis, psikologis, dan budaya[34]. Dengan itu pendidikan Islam menjadi dinamis, karena diinterpretasikan dari berbagai sudut disiplin keilmuan.

Pendidikan  pluralisme merupakan pendidikan yang mengedepankan keterlibatan aktif dalam keragaman untuk membangun  peradaban bersama. Pendidikan pluralisme masih tetap memelihara perbedaan masing-masing sebagi khas, bukan menerima mutlak relativime agama. Melainkan pengenalan yang mendalam atas yang lain.

Atas dasar  itu pendidikan pluralisme menolak paham relativisme, misalnya pernyataan simplistis, “bahwa semua agama itu sama saja”. Justru yang ditekankan keberbedaan itu merupakan potensi besar, komitmen bersama membangun toleransi aktif, untuk membangun peradaban.

Secara teologis pendidikan pluralisme menghendaki bahwa manusia harus menangani perbedaan-perbedaan mereka dengan cara terbaik (fastabiq-u’l-khayrat), “berlomba-lomba dalam kebaikan”, dalam bahasa al-Quran) secara maksimal, sambil menaruh penilaian akhir mengenai kebenaran pada Tuhan. Karena tidak ada satu cara pun yang bisa dipergunakan secara objektif untuk mencapai kesepakatan mengenai kebenaran yang mutlak ini[35]

-------------

Artikel ini merupakan Sub tema dalam buku yang berjudul Aktualisasi Pemikiran  Pluralisme KH. Abdurrahman Wahid (Program Pendidikan The Wahid Institute)

 

[2] Lihat Abudin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam ( Jakarta: Raja grafindo Persada2014), 16. Lihat juga,  Wajidi Sayadi, Hadis Tarbawai : Pesan-Pesan Nabi SAW tentang Pendidikan, (Jakarta : pustaka Firdaus, 2009),  12. Lihat juga Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam

[3] Lihat Wajidi Sayadi, Hadis Tarbawai : Pesan-Pesan Nabi SAW tentang Pendidikan, (Jakarta : pustaka Firdaus, 2009), 12

[4] Lihat Wajidi Sayadi, Hadis Tarbawai : Pesan-Pesan Nabi SAW tentang Pendidikan, (Jakarta : pustaka Firdaus, 2009), 12-13

[5] اﻟﱰﺑﯿ ﻫﻲﺗﻧﻤﯿﺔ ﻓﻜﺮ اﻹﻧﺴﺎﻦ ﻮﺗﻧﻆﯿﻢ ﺳﻠﻮﻛﻪﻮﻋﻮاطﻔﻪﻋﲇٲﺳﺎس اﻟدﯾﻦ اﻹﺳﻶﻣﲕ ﻮﺑﻘﺼﺪﺗﳓﻘﻖاﻫﺪاف اﻹﺳﻶمﰲﺣﻴﺎةاﻟﻔﺮدﻮاﻟﲨﺎﻋﺔ ايﰲﰻﳎﺎﻵټ اﻟﺤﯿﺎة   Lihat Abdurrahman an-Nahla>wi, Ushulu at-tarbiya>h, Darul al-fikri Damaskus, 2003.27

[6] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Di Tengah Tantangan Milenium III (Jakarta: Kencana Prenada Media group, 2012),6

[7] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Di Tengah Tantangan Milenium III,6

[8] Lihat Abdurrahman an-Nahla>wi, Ushulu at-tarbiya>h, Darul al-fikri Damaskus, 2003,21

[9] Lihat Abdurrahman an-Nahla>wi, Ushulu at-tarbiya>h, 69

[10] Lihat, KH. Husein Muhammad,” Pandangan Islam Tentang “Yang Lain”I, Kelas Islam dan Pluralisme I, Jakarta,  2006. The Wahid Institute, 6 lihat juga al-Quran ﺇﻧﻙ ﻻﺗﻬﺩﯼ ﻤﻦ ﺍﺤﺑﺑﺖ ﻮﻟﻜﻦ ﷲ ﻴﻬﺩﯼ ﻤﻦ ﻴﺷﺎﺀ..... 

[11] Lihat Abdurrahman Wahid, ”Dialog Agama dan Masalah Pendangkalan Agama” dalam Komaruddin Hidayat & Ahmad Gaus AF, Passing Over: Melintas Batas Agama, 52

[12] Lihat Qs. al-An’am ayat 108.

[13]Lihat M. Ainul Yakin, Pendidikan Multikultural: Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), 54

[14] Lihat Muhammad Ali,”Paradigm Shift;Pemahaman Agama”, Kompas, 7 Oktober 2003.

[15] Lihat KH. Husein Muhammad,” Pandangan Islam Tentang “Yang Lain”I, Kelas Islam dan Pluralisme I, Jakarta,  2006. The Wahid Institute, 7

[16] Lihat Djohan Efendi dalam pengantar buku Huston Smith,  Agama-agama Manusia  terjemah  (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011), edisi VI,x

[17]  Muhammad SAW melembangakan Asas-asas Toleransi beragama (Piagam Madiah), yang sekaligus  merupakan suatu piagam pertama mengakui kebebasan hati nurani yang terdapat dalam sejarah umat manusia. Lihat Huston Smith, The Religions Of Man,alih bahasa Saafroedin Bahar (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2011), edisi VI,293

[18]Lihat, M. Shofan,”Pendidikan Bebasis Pluralisme” Harian Seputar Indonesia, 31 Agustus 2007.

[19] Lihat Djohan Efendi dalam pengantar buku Huston Smith,  Agama-agama Manusia  terjemah, edisi VI, xii

[20] Lihat KH. Husein Muhammad,” Pandangan Islam Tentang “Yang Lain”I, Kelas Islam dan Pluralisme I, Jakarta,  2006. The Wahid Institute, 7

[21]Ayat ini juga dikutip oleh Huston Smith ketika menjelaskan kebebasan melaksanakan agama bagi non Muslim pada masa Nabi Muhammad di Madinah (Yatsrib). Lihat Huston Smith, Agama-agama Manusia   alih bahasa Saafroedin Bahar (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2011), edisi VI, 292

[22] Lihat KH. Husein Muhammad,” Pandangan Islam Tentang “Yang Lain”I, Kelas Islam dan Pluralisme I. The Wahid Institute 2006, dalam Transkrip ,Workshop Islam Dan Pluralisme I-V 2006-2008, kerjasama The Wahid Istitute & Crisis Center Gereja kristen Indonesia (CC-GKI). Dalam Riwayat Abu Hurairah , Rasul Bersabda surga merindukan : pembaca Al-Quran, pemelihara ucapan, puasa Ramadan, pembuat kenyang si miskin. Dalam hadits anas bin Malik; seribu hajat hidup seseorang di hari kiamat akan dipenuhi Allah jika  ia bisa  memenuhi hajat hidup orang banyak. Tuhan hanya berpihak kepada siapa yang sibuk menolong  sesama, bagaimana membuat orang lain tentram. Karena itu , jika Allah saja membiarkan keragaman, mengapa orang lain  dipaksa ber-Islam seperti versi kita,  Lihat  Tarmizi Taher, Agama Kemanusiaan Agama Masa Depan: Kontektualisasi Krisis Doktrin Agama Dalam Pembangunan dan Percaturan Global. (Jakarta : Grafindo, 2004), 20

[23]  Setelah melihat keadaan  masyakat Yastrib (Madinah) yang majemuk, Nabi Muhammad  SAW segera mengambil langkah bertemu dengan para elit suku-suku tersebut yang menghasilkan shahifah Madianh . Point-point tersebut berjumlah 47. Dari jumlah itu, tidak ada satupun ada kata Islam, kutipan ayat al-Quran. Point-point ini berisi nilai-nilai universal dalam konteks interaksi kemanusiaan, seperti membangun persaudaraan, perolehan hak dan kewajiban yang sama, semua penduduk Yastrib adalah saudara, supremasi hukum ditegakan pada siapapun tanpa pandang agama dan etnis, kebebasan menjalankan ajaran agama masing-masing, kesejahteraan sandang pangan, dan papan, pendidikan. Dan piagam itu dibuat untuk membela yang benar. Lihat  Said Aqil Siradz ”Kelas Islam dan Pluralisme II : Pandangan Islam Terhadap Umat Agama Lain II”, dalam  Nurul H. Maarif (Ed) Transkip Workshop Islam dan Pluralisme I-V , kerjasama The Wahid Institute & Crisis Center Gereja Kristen Indonesia (CC-GKI) 2006-2008,106

[24] Ajaran Islam sudah final menurut Adian Husaini, di mana Adian berargumen pada pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurut  Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam memiliki worldview yang berbeda dengan pandangan hidup agama/peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: [1] berdasarkan kepada wahyu; [2] tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya; [3] tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi; [4] mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat. Jadi, menurut al-Attas, pandangan alam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth), atau pandangan Islam mengenai eksistensi (ru’yat al-Islam lil wujud). Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final dan telah dewasa sejak lahir.  Lihat Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Beradab & Berkarakter (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2010), 2

[25]  Lihat Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Beradab & Berkarakter, 184.

[26] Lihat, Adian Husaini, “Problem Teologis Pendidikan Multikultural”http://inpasonline.com/new/problem-teologis-pendidikan-multikultural/ di akses tanggal 22 Februari 2015.

[27]Lihat, Adian Husaini, “Problem Teologis Pendidikan Multikultural”http://inpasonline.com/new/problem-teologis-pendidikan-multikultural/ di akses tanggal 22 Februari 2015.

[28] Lihat Adian Husaini, “Problem Teologis Pendidikan Multikultural”http://inpasonline.com/new/problem-teologis-pendidikan-multikultural/ di akses tanggal 22 Februari 2015

[29]   Lihat Adian husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Beradab & Berkarakter (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2010)

[30]  Lihat Adian Husaini, “Pluralisme Agama Musuh Agama-Agama” (Dewan Dakwah Indonesia, 2010), 22

[31] Lihat Adian Husaini, “Pluralisme Agama Musuh Agama-Agama” (Dewan Dakwah Indonesia, 2010), 9

[32] Lihat Adian Husaini, “Problem Teologis Pendidikan Multikultural”http://inpasonline.com/new/problem-teologis-pendidikan-multikultural/ di akses tanggal 22 Februari 2015.

[34] Lihat Abudin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 276-277

[35] Lihat Budhy Munawar-Rachman,  Reorientasi Pembaruan Islam: Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia ( Jakarta, LSAF, 2010), 541