Syahrur adalah salah seorang pemikir Islam kontemporer yang berasal dari Damaskus, Syria. Dia menawarkan konsep pemahaman terhadap Alquran dengan pendekatan linguistik dan analisis matematis pada teori batas yang digagasnya.

Dengan pendekatan linguistik, dalam memahami ayat tentang konsep Islam, misalnya pada Q.S. al-Baqarah/2: 62, ia memahaminya dengan sintagmatis. Muslim adalah orang yang percaya adanya Tuhan dan Hari Akhir, serta beramal saleh.

Adapun pemahaman mengenai konsep Iman, misalnya pada Q.S. an-Nisâ`/4: 136. Mukmin adalah orang yang Islam–sebagaimana konsep di atas–dan menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Dengan pemahaman atas konsep Islam dan Iman demikian dapat membimbing kita agar tidak mengklaim sebagai umat beragama yang paling benar di sisi Allah. Apalagi jika dibandingkan dengan agama yang mendahuluinya.

Alquran yang diyakini sebagai kitab suci bagi umat Nabi Muhammad itu mendeskripsikan bahwa ia adalah kelanjutan seruan Tuhan kepada manusia. Hal ini dapat dilihat dalam Q.S. asy-Syu’arâ`/26: 196.

Perkembangan pluralisme di kalangan umat bergantung pada pemahaman mereka tentang perbedaan antara doktrin-doktrin Tuhan yang disampaikan Nabi Muhammad berdasarkan dengan perbuatan aktualnya sebagai seorang manusia yang tinggal dalam suatu masyarakat dan zaman tertentu.

Dari konsep yang ditawarkan Syahrur, dapat ditarik pemahaman bahwa Nabi Muhammad sebagai suri teladan itu bukan berarti harus sama persis dengan apa yang dilakukan olehnya pada masa terdahulu. Namun, yang perlu diteladani adalah bagaimana cara Nabi Muhammad dalam mengambil pilihan tertentu dalam bertindak.

Kesadaran Nabi Muhammad mengenai bagaimana situasi, kondisi sosial maupun geografis yang melingkupi saat itu, sedikit banyaknya tentu akan berpengaruh dalam pemahamannya terhadap wahyu. Hal yang demikian ini pula tentu memeranguhi dalam penerapan pemahaman wahyu tadi pada kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya perbedaan kondisi sosial di masa terdahulu dengan masa sekarang serta perbedaan kondisi geografis yang dapat membentuk watak penghuninya, tentu menghendaki cara penerapan yang berbeda pula. Jika semua cara penerapan wahyu mengabaikan hal tersebut, maka akan ada unsur yang dirasa memaksakan penerapan itu sendiri.

Sehingga, memaksakan kehendak agar adanya persamaan dalam pemahaman adalah sesuatu sangat tidak etis dalam suatu masyarakat. Bagaimana mungkin ia dapat memastikan bahwa pemahamannya saja yang benar di banding yang lainnya?

Padahal yang demikian tadi sangat bergantung dengan background dalam mencapai pemahaman masing-masing. Dengan begitu, upaya untuk saling menghargai pendapat adalah sesuatu yang sangat diperlukan dalam kenyataan suatu masyarakat yang majemuk.

Islam bukan agama yang dibangun dan disebarkan atas dasar pemaksaan ajaran kepada golongan yang berada diluarnya. Apalagi kalau harus dengan kekerasan, tentu akan menciptakan image tidak baik bagi Islam itu sendiri dan justru dapat membentuk Islamophobia ditengah masyarakat.

Manusia hanya berkewajiban untuk menyampaikan, selebihnya adalah urusan Allah. Sebab, Allah memberi hidayah kepada saja yang dikehendaki-Nya, begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang paling berhak berbuat demikian melainkan hanya Allah.

Adapun hal yang ingin ditekankan Syahrur bahwa modernitas bukanlah sebuah dogma baru yang menggantikan yang lama. Tetapi justru berupa penolakan terhadap fanatisme dan menawarkan pluralisme kepada semua anggota masyarakat.

Manusia dipahami berperan sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Keduanya harus dijalankan dan tentu tidak dapat dipisahkan ataupun diabaikan salah satunya. Maka, cara menjalankan kedua peran itu tentu akan berbeda.

Ketika manusia berperan sebagai makhluk individu, ia berhak mengatur apa saja sesuai keinginannya pribadi. Hal ini sah dilakukan sebab ia berstatus sebagai pribadi yang terpisah dari yang lain.

Adapun ketika manusia berperan sebagai makhluk sosial, maka ia tidak dapat berbuat layaknya makhluk individu sebagaimana yang disebutkan di atas. Namun, ia harus memerhatikan kepentingan umum yang berkenaan dengan orang banyak yang terbentuk dalam suatu masyarakat.

Aspek manusia yang berperan sebagai makhluk sosial inilah yang ditekankan dalam pembahasan ini. Sudah lumrah diketahui bahwa manusia dalam kenyataannya tidak dapat hidup menjadi pribadi mandiri tanpa bantuan orang lain, bahkan hingga akhir hayatnya sekalipun.

Pluralisme yang ditawarkan oleh Syahrur ini diupayakannya agar dapat menciptakan kedamaian di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang pemahaman yang berbeda-beda. Dengan demikian, akan tercipta kemerdekaan yang sebenarnya dan demokrasi yang seutuhnya.

Boleh kiranya kita mengambil pelajaran dari pelangi. Bukankah pelangi itu indah meski tersusun dari warna-warna yang berbeda?

Begitu pula seyogianya pada masyarakat. Meski ia terbentuk oleh beberapa golongan yang berbeda latar belakangnya, akan tetapi tetap dapat berdamai karena terdapat kesadaran untuk saling menghargai sesamanya.

Berbeda bukan berarti harus saling menyalahkan atau bahkan menciptakan permusuhan. Sebab, hidup ini bukan untuk saling menebar kebencian, tetapi harus saling menebar kebaikan yang pada akhirnya dapat menenangkan antara satu dengan yang lainnya.