Mama saya seorang janda, sampai sekitar satu tahun beberapa bulan yang lalu. Sebelum itu, beliau dan Papa menjalani kehidupan perkawinan selama sekitar nyaris seperempat abad, yang mana sebagian besarnya – belasan tahun? Hell, I can’t remember anymore – dijalani dalam suasana perang dingin.

Tidak pernah ada adu fisik yang parah, memang, tapi satu langkah atau kata salah artinya bom akan meledak. Bom yang akan membuat saya menutup telinga dan merasa ingin menjerit-jerit. Kadang saya betul-betul menjerit. Kadang saya juga memaki.

Waktu saya masih kecil, prospek perceraian orangtua terasa seperti mimpi paling buruk. Every little kid’s nightmare. Ada satu waktu di mana Papa yang terlihat sudah putus asa bertanya, bagaimana menurut saya jika mereka bercerai. Saya jawab, tidak boleh. Pokoknya tidak boleh.

Tapi ketika sudah lebih besar, kira-kira usia remaja, saya mulai menyadari bahwa perceraian mungkin adalah solusi yang jauh lebih baik daripada menjalani kehidupan berumah tangga dalam suasana yang sama sekali jauh dari kedamaian. Ada jurang yang begitu lebar membentang di antara Papa dan Mama, yang sampai sekarang tidak bisa saya pahami betul bagaimana sesungguhnya awal mulanya.

Tidak ada orang yang menikah untuk bercerai. Semuanya pasti menikah dengan harapan menggapai “happily ever after”. Kecuali kawin paksa, kawin kontrak, dan pernikahan anak, sepertinya, dan itulah mengapa ketiganya (seharusnya) termasuk tindak kriminal.

Baru-baru ini, saya membaca tulisan ini. Judulnya “This is How We Raise Our Sons”. Isinya adalah tentang bagaimana semestinya kita membesarkan anak-anak lelaki kita, dan bagaimana selama ini masyarakat telah “salah” memberi teladan soal itu pada kita. Anak-anak lelaki secara tradisional dibesarkan untuk menjadi penakluk. Anak lelaki dibesarkan dengan permainan “penaklukan” dan kompetisi: balapan otomotif, perang-perangan, pistol, robot, superhero, pangeran yang menyelamatkan putri yang tertawan.

Ketika mereka sedikit lebih besar, kenakalan yang bersifat penaklukan (terhadap gender yang lain) juga dianggap wajar: mengintip isi rok teman-teman perempuan, menarik rambut dan mengisengi anak perempuan sampai menangis, mencium anak-anak perempuan cuma karena iseng. Ketika tumbuh dewasa, mereka diajarkan untuk menjadi penakluk asmara: berapa banyak mantannya, sudah sampai base berapa pacarannya, sudah berapa yang “dijebol”, dan seterusnya.

Nama-nama hasil taklukan dibandingkan sebagai trofi. Sementara itu, anak-anak perempuan diajarkan untuk berlaku sebaliknya: bersikap lembut dan tidak pecicilan, menutup kaki baik-baik saat memakai rok, menjadi yang menunggu, bersikap pasif dan tidak “gatelan”, tidak boleh nembak duluan, tidak boleh genit atau caper, tidak banyak mulut, menjaga “kemurnian” untuk pangeran yang akan datang, berlatih merawat dan mengabdi dan setia, harus bisa masak, dan seterusnya.

Yang menarik perhatian saya lebih jauh adalah salah satu komentar di bawah artikel itu. Bunyinya kurang lebih mengungkapkan ketidaksetujuan atas sudut pandang penulis artikel yang berbau “Barat”. Di Indonesia, debat si pemberi komentar, anak-anak lelaki juga diajarkan untuk tidak berhubungan seksual sebelum menikah, sama seperti anak-anak perempuan. Jadi soal ajaran penaklukan seksual itu tidak sepenuhnya benar.

Di satu sisi, si komentator itu memang ada benarnya – kalau dilihat dari kacamata yang naif. Masyarakat kita yang religius – hiperreligius, malah – memang mengajarkan demikian, setidaknya secara normatif. Tapi apakah realitanya sesuai?

Ada beberapa contoh yang mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa secara seksual, masyarakat kita tetap saja bersikap sangat bias terhadap perempuan. Persoalan tes keperawanan, misalnya, yang katanya untuk menjaga moralitas seperti di lingkungan kepolisian dan di lingkungan pendidikan.

Selain fakta bahwa tes keperawanan adalah sesuatu yang tidak berguna dan tidak memiliki validitas apa pun secara medis, tes tersebut sangat diskriminatif terhadap perempuan – like, kalau keperawanan disebut sebagai indikator moralitas yang begitu pentingnya, bagaimana dengan keperjakaan? Kenapa tidak ada yang meributkannya?

Apa karena yang nyolok dianggap tidak berbekas dan hanya sedang berburu trofi kejantanan, lantas ia jadi lebih bermoral dari yang ia taklukkan – yang, by the way, adalah manusia juga, bukan sesuatu barang yang layak jadi obyek penaklukannya? Padahal ML, sejauh konsensual di antara kedua belah pihak, ya, ML saja. Kalau sudah pernah, ya, sudah pernah saja.

Contoh lainnya, yang mengingatkan saya pada keluarga saya sendiri, adalah perihal para janda. Perkara status seorang perempuan sebagai janda sudah menjadi bahan lelucon standar dalam masyarakat kita sejak zaman baheula. Kalimat “kutunggu jandamu”, misalnya.

Meski kelihatannya romantis seperti perjuangan cinta yang luar biasa – Tak bisa terima kau pergi dariku/ aku masih tetap cinta/ lalu kuputuskan kutunggu jandamu (lirik lagu Irwansyah, “Kutunggu Jandamu”) – ungkapan ini sebetulnya punya resonansi yang merendahkan perempuan berstatus janda. Tak apalah biar janda, seolah-olah status janda adalah sesuatu yang tidak akan diinginkan oleh orang lain – cukup dia sebagai si pencinta heroik yang masih mau menerima. (Kau janda pun aku mau – lirik lagu yang sama.)

Selain itu, tentu, kita semua pasti sudah pernah mendengar, membaca, atau menonton penggambaran janda yang sangat berbau seksual – janda seksi, janda kembang, janda kegatelan, janda penggoda suami orang, janda yang begitu butuh dipuaskan secara seksual sampai mengambil berondong, janda yang dalam salah satu lelucon diceritakan mengatakan pada pencuri yang menyambangi rumahnya dan memerkosanya, “Mau pulang apa mau ulang?”

Sungguh berbeda dengan status duda. Status duda sering digambarkan sebagai lelaki yang telah matang dan mapan, baik secara ekonomi, psikologis, maupun seksual. Sama sekali bukan bekas siapa-siapa. Malah dianggap berpengalaman. Kadang-kadang malah menjadi idaman dan incaran, seolah-olah duda itu seorang Richard Gere untuk Julia Roberts seperti dalam film “Pretty Woman”.

Susahnya jadi janda. Jadi janda, salah. Janda yang menikah lagi, juga salah. Aneh juga jika pria yang berstatus duda seringkali didorong-dorong untuk cepat-cepat menikah lagi, sementara janda sebaliknya: kalau menikah lagi “terlalu cepat”, either dianggap tidak menghormati mendiang suami atau kegatelan setelah ditinggal suami. Label yang diberikan dengan begitu mudah tanpa secuil pun memahami apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan orang yang dilabeli itu.

Dalam kasus Mama, beliau juga sempat menjalani hidup dengan penuh kekhawatiran akan stigma. Sebagai orang Katolik, pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, karena tergolong sebagai sakramen. “Sakramen” artinya tanda perjanjian dengan Allah sendiri.

Gereja Katolik tidak mengizinkan perceraian karena sudut pandang sakramen ini. Sebagai alternatif, dapat diajukan pembatalan perkawinan, namun harus memenuhi persyaratan tertentu dan harus dinilai lewat penyelidikan kanonik atau penyelidikan hukum Gereja yang bisa makan waktu tahunan. Jadi, pasangan yang bercerai mengemban status sebagai semacam “terdakwa” atas nama hukum Gereja – meski tidak sampai didiskriminasi.

Selain itu, Mama juga merasa bahwa status jandanya adalah sesuatu yang memalukan secara profesional. Selama beberapa lama, Mama menyembunyikan status perkawinannya dari orang-orang di kantor, termasuk saat ia harus mengisi dokumen-dokumen resmi. Mama juga sekian lama tidak mengganti Kartu Keluarga kami karena malu harus menghadap Pak RT.

Harus saya akui bahwa setelah Mama bercerai dengan Papa, keadaan di rumah menjadi lebih baik. Papa juga sudah menikah lagi, dan memiliki kebahagiaan lagi dengan keluarga barunya setelah bertahun-tahun hidup tertekan. Setelah bercerai, Papa dan Mama justru menjadi lebih mudah berkomunikasi satu sama lain, misalnya soal anak-anak.

Yang hebat dari Mama adalah upayanya menanggung seluruh kebutuhan ekonomi rumah tangga kami pasca perceraian, kecuali biaya sekolah saya dan adik saya yang sudah disepakati untuk dibagi dua dengan Papa. Manajemen keuangan Papa dari dulu memang tidak pernah terlalu baik, apalagi sekarang ia punya keluarga baru, sehingga Mama sudah lama terlatih mandiri secara finansial.

Mama juga masih harus mencicil uang pembayaran rumah bagian Papa, karena kesepakatan mereka berdua adalah – alih-alih menjual rumah dan membagi dua uangnya sebagai harta gono-gini – Mama dan anak-anak akan tetap menempati rumah yang sudah saya dan adik saya tinggali sejak kecil, dengan setengah harga rumah beserta tanah dibayarkan Mama kepada Papa. Keputusan itu diambil demi saya dan adik saya, agar kami tidak perlu pindah rumah.

Mama pun memiliki masa-masa beratnya setelah perceraian. Selain kelelahan bekerja, hidup sendirian tanpa pendamping lama-lama terasa kosong. Mama juga mulai mengkhawatirkan masa depannya bila ia sendirian. Setelah beberapa tahun, Mama akhirnya menikah lagi. Ayah tiri saya, juga seorang Katolik, juga sudah lama bercerai, jauh lebih lama dari Mama.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana, tidak dengan sakramen karena proses penyelidikan kanonik keduanya belum selesai. Prosesi perkawinan hanya dengan pemberkatan seorang pastur yang dihadiri keluarga setelah melalui proses persiapan dan pendampingan yang sangat lama.

Selama masa pacaran mereka berdua – Mama tidak pernah nyaman mengucapkan kata “pacaran” – keduanya sedikit menarik diri dari lingkungan aktivis gereja karena takut menjadi bahan omongan. Kalau mereka jalan bersama, saya atau adik saya hampir selalu ikut serta, karena kata Mama “tidak enak dilihat orang atau kalau ketemu kenalan”. Setelah menikah, mereka tidak menerima komuni saat perayaan misa di gereja selama kurang lebih setahun, atas anjuran pastur sebagai semacam konsekuensi telah “melanggar” hukum Gereja.

Perkawinan Mama yang kedua ini rupanya juga tidak mulus-mulus saja. Ada perbedaan karakter yang cukup tajam di antara Mama dan ayah tiri saya, yang sering menimbulkan konflik, termasuk antara ayah tiri saya itu dengan saya dan adik saya, anak-anak Mama.

Suatu saat, Mama pernah menceritakan kepada saya satu sesi konsultasinya dengan pastur yang dulu memberkati perkawinan mereka berdua. Mama berkata kepada pastur itu, “Saya, Romo, kalau memang sangat harus memilih, pilihan saya sudah jelas. Saya akan memilih anak-anak saya. Sebab mereka cahaya hidup saya.”

Saya tidak tahu apakah Mama akan menjadi janda untuk yang kedua kalinya. Saya tentu saja berdoa, semoga tidak sampai begitu. Sebagai anak yang tertua, saya pun merasa tidak tega jika Mama hidup sendiri di hari tuanya, saat saya dan adik saya sudah punya hidup masing-masing. Saya ingin ada yang menjaga Mama. Tapi, ya, cuma Mama, ayah tiri saya, dan Bapa di Surga yang tahu.

Yang saya tahu pasti cuma ada dua. Satu, Mama pernah berkata bahwa ia tidak mau menjadi penghalang bagi anak-anaknya. Bagaimanapun keadaan perkawinannya, kami berdua akan selalu menjadi prioritasnya. Dua, jika ada orang yang beranggapan bahwa harga Mama sebagai manusia menjadi lebih rendah karena ia (pernah) berstatus janda, saya akan menyuruh orang itu untuk get a life dan mengurusi hidupnya sendiri.

Soal dosa, surga, dan neraka, memang cuma Tuhan yang kuasa. Tapi janda atau bukan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta segala yang sudah dialaminya, Mama saya adalah seorang ibu yang baik. The storm is roaming, the shits are happening, dan Mama tetap selalu berusaha tegak berdiri, melakukan apa yang harus ia lakukan sebagai orangtua yang baik. Dan, you know what? Perihal itu, hanya saya dan adik sayalah, anak-anak Mama, yang berhak memberikan penilaian. Bukan orang lain.

#LombaEsaiKemanusiaan