Orang mengetahui piring hanya sebatas alat. Padahal dibalik itu semua, piring memiliki sebuah makna dari periode kehidupan manusia. Tak bisa di pungkiri, Piring sudah sejak lama jadi tempat hidangan manusia di bumi ini. Dari mulai bahan bakunya melalui keramik hingga emas murni.

Ketika kita baca kembali, pergulatan antara Manifes Kebudayaan dan Lekra, ada satu tokoh penting dan memang tak asing di telinga kita. Dia lah pembuat karya fenomenal Tetralogi Pulau Buru.

Pramoedya Ananta Toer harum dicium kaum milineal kala karya Bumi Manusia sudah di Filmkan dan dinikmati oleh ribuan pemuda yang penasaran kisah kelam pram di era lampau hingga harumnya pada hari ini. Namanya kian harum kala bukunya dinarasikan melalui pentas film yang banyak mengundang perhatian.

Pram. Begitulah rakyat memanggilnya. Kekuatannya dalam menulis bukan hanya diacungi jempol, lebih dari itu. Peristiwa bengis dan yang menghujam habis-habisan hidupnya, nampaknya jadi semangat pram untuk terus menerus menanamkan semangat revolusi melalui teks.

Waktu itu, Belanda merasa kepanasan kupingnya, kala Pram membuat karya yang membuatnya menohok berjudul Kranji dan Bekasi Jatuh (1947). Ia pun masuk bui dan resmi keluar kala Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia tiga tahun silam (1950).

Tahanan penuh dengan penderitaan. Aroma busuk yang menusuk hidung sudah menjadi perihal biasa. Hidangan disana tak mungkin bergizi. Sayur comberan dengan potongan kangkung layu, menjadi hidangan di dalam bui.

Walaupun kondisi terjadi sedemikian rupa. Piring besar untuk manusia bui, menjadi idola. Piring jadi saksi bisu para pejuang waktu itu, kemlontang piring besi jadi harapan untuk mengisi perut keroncongan mereka, agar diisi dan kembali meneruskan revolusi melalui tulisan ataupun gagasan yang propagandis.

Kondisi itu, sangat jelas dan kentara di tuliskan dengan penuh kejujuran kala Hersri Setyawan menuliskan memornya berjudul Pulau Buru. Piring, Kejujuran hingga kemanusian, membalut setiap diksi yang menjabarkan kondisi pada waktu itu.

“Pramoedaya Ananta Toer Seorang Individualis”. Begitual Ajip Rosidi menyebut dalam gubahan obituarinya. Pram yang pada waktu itu digadang-gadang sebagai calon peraih nobel, karena karya-karyanya yang begitu mendunia itu, terbelenggua dengan alasan perbedaan latar belakang politis. Mungkin juga usia.

Dilain sisi, hebatnya dia dalam mengguncang dunia atas karya-karyanya dengan mendapatakan penghargaan sastra dari Magsaysay dan Wartheim Awards, ada sisi menarik dimana piring lagi-lagi menjadi saksi bisu kehidupan pram.

Kala Ajip Rosidi sedang asik menulis di ruang tamu, ia dikagetkan dengan kedatangan pram untuk menanyakan menu apa yang ada dalam rumahnya. Pram pernah dililit krisis, hingga istrinya Maemunah diungsikan kerumah mertuanya.

Ajip menuliskan kejadian itu, dengan objek piring, nasi dan mentega, Pram melahap nasi dingin milik Ajip untuk meneruskan hidup, karena tak makan tiga hari. Piring, tak pernah lekang dari kehidupan manusia. Piring bukan hanya dinilai sebagai benda, akan teteapi piring mampu menandakan bagaimana manusia hidup dan meniti hidupnya penuh keberanian.

Piring memiliki nilai estetis, sehingga beberapa rela memajang kumpulan piring di dalam lemari untuk kebutuhan asesoris. Bahkan piring yang mahal buatan China banyak diimpor sebagai cinderamata, sebagai tanda pernah mengunjungi atau minimal pernah meminum segelas teh dengan ditemani seekor panda raksasa.

Novel Gubahan Achdidat K. Mihardja, memberikan sisi menarik mengenai peranan piring dalam perjalanan Rifai menguliti isi kepala setiap tokoh atas dinamika yang terjadi di dunia, dari mulai sosial hingga religi. Gambaran ruangan yang bergaya eropa dengan ditemani tokoh-tokoh kritis, mewarnai piring dan dunia pemikiran dalam novel itu.

Rivai sebagai Jurnalis yang mengatasnamakan dirinya sebagai manusia pasifik yang cinta damai itu, dalam cerita ia diberi kesempatan oleh Rockefeller Foundation untuk bersekolah di Sydney. Orang-orang menganggap tokoh Rifai adalah Achdidat, yang menceritakan kisah hidupnya di Sydney sampai akhir hayatnya. Menarik!

Bahkan dalam bab berjudul Veteran Perang Yang Anti Perang, disuguhkan dengan begitu renyah, bagaimana Rivai begitu elegan dan kritis bercakap dengan veteran perang Mr. Bull, memaknai perang sebagai pembelajaran politik. Meanriknya, Piring dan denting gelas, beriringan mengisi ruh dalam perbincangan malam itu.

Belajar dari piring, melalui novel gubahan Achdidat K. Mihardja, kita dapat mempelajari, bahwasannya piring juga jadi saksi atas proses rivai dalam mendapatkan informasi dan jaringan. Sekali lagi, piring tidak bisa anggap remah sebagai alat makan saja, lebih dari itu.

Bahkan, pengamat ekonomi, Oswar Lewis yang menceritakan Kisah Lima Keluarga dalam belenggu kemiskinan itu, melibatkan piring, kesenjangan dan ketidakadilan di Meksiko. Piring dan kemiskinan, ada irisan menarik sebagai pembelajaran berkehidupan yang dimana dalam buku tak lupa dicontohkan secara antropologi dan sosiologi kemiskinan menghantui mereka.

Piring juga jadi alat analisis, bagaimana status sosial dapat diketahui. Piring mahal yang dipajang diruang tengah untuk kepentingan asesoris, tak mungkin dilakukan oleh orang miskin yang mungkin hanya memiliki piring dengan tambalan di beberapa titik dengan jumlah sedikit. Kondisi tersebut, sebagai kondisi dalam status sosial dalam menampakan eksistensi, miskin atau kaya.

Bahkan bila kita lihat lebih dalam –piring keramik, bisa kita amati sebagai hati. Piring yang terbentur dan pecah, maka terlihat sebagai sampah yang tak berguna. Tetapi, bila itu dijaga dan digunakan sebagai mana mestinya, maka secara nilai akan lebih bijaksana dan terlihat begitu elok. Mungkin seperti itu, piring yang kita anggap simple, jadi luar biasa.