Seorang pria tergopoh-gopoh melangkah ke arah gedung. Dia berpakaian kemeja lusuh. Wajah dan badannya berpeluh. Hari sudah mulai sore. Matahari sebentar lagi pamit. Jalan depan gedung itu pun mulai berjubel kendaraan. Masyarakat urban berhamburan pulang kerja. Semuanya terburu-buru ingin sampai ke rumah. Tetapi tidak dengan pria itu.

Ia masih mengenakan helm proyek warna hijau. Ada bekas tanah di bajunya. Entah apa yang baru saja ia kerjakan, mungkin menutup lubang jalan. Akhir-akhir ini memang banyak jalan rusak, dan harus diperbaiki. Walikota sudah meneken dana miliaran untuk itu.

Jalan raya dekat gedung padahal baru setahun kemarin diperbaiki. Pria itu mungkin salah satu pekerjanya. Tetapi, untuk apa dia bergegas ke dalam gedung? Apakah istrinya tak meneleponnya agar segera pulang? Jangan-jangan malah dia belum beristri?

“Siapa pria itu?” tanya Pintu Masuk.

“Mana saya tahu. Dia menghampirimu, artinya dia mau masuk ke gedung ini,” jawab Pintu Keluar.

“Ini waktunya pulang kerja. Tapi kenapa dia kemari?”

“Dia mungkin butuh hiburan,” ledek Pintu Keluar.

“Hiburan?”

“Kamu ini seperti baru jadi pintu kemarin saja. Emang kamu tidak tahu mereka sedang melakukan apa di dalam gedung ini?”

“Tahu. Tapi apakah harus sekarang?”

“Kenapa tidak? Yang jelas dia pasti bukan pria baik-baik, dan kamu telah memasukkannya ke dalam gedung ini.”

“Sialan,” ketus Pintu Masuk.

Pria itu sampai di depan Pintu Masuk. Dia melepas helm proyek warna hijaunya yang kotor. Ia letakkan helm itu di depan Pintu Masuk. Pria itu pun tersenyum. Mungkin dalam benaknya, rasa letih seharian bekerja bisa hilang setelah masuk ke dalam gedung. 

Pintu Masuk semakin kebingungan. Pintu Keluar malah tambah percaya  diri. Ia yakin kalau pria yang baru masuk itu bukan orang baik. Pria itu akan berpesta, pikir si Pintu Keluar. Kalau kepincut perempuan sewaan di dalam, pulangnya pasti larut.

“Orang itu menaruh helmnya di sini?”

“Dia percaya, kalau kamu bisa menjaga helm itu,” jawab Pintu Keluar.

“Jika dia keluar melalui kamu, berarti kamu telah mengeluarkan pria hidung belang,” balas Pintu Masuk.

“Tidak, tidak. Kamu yang memasukkannya ke dalam. Artinya kamu yang harus bertanggung jawab!”

“Itu memang tugasku. Aku dibuat untuk menyambut pria seperti dia,” Pintu Masuk gantian meledek.

“Sialan.”

Matahari baru saja tenggelam. Azan Magrib sayup-sayup terdengar. Pria itu keluar melalui Pintu Masuk. Kali ini ia tak sendiri. Satu wanita ikut bersamanya. Wanita itu memegang erat tangan si pria. Pintu Keluar pun heran. Kenapa pria itu tak memakai jasanya?

Ia ingat, kalau pria itu meninggalkan helmnya di depan Pintu Masuk, lantas memakluminya. Namun siapa wanita itu? Mengapa dia kelihatan sudah sangat akrab dengan si pria?

“Dia menyewa perempuan!” Pekik Pintu Keluar.

“Saya rasa perempuan itu tak terdaftar di tempat ini.”

“Siapa tahu dia mendaftar via daring?” Tanya Pintu Keluar.

Pintu Masuk hanya diam. Ia juga sebetulnya sepakat, apa yang dikatakan Pintu Keluar ada benarnya. Pria itu telah menyewa perempuan. Bahkan wanita itu hendak dibawanya pergi. Bisa jadi ke sebuah apartemen. Dibawa menginap ke hotel. Bisa juga diajak ke rumahnya. Usai berbincang kecil di depan Pintu Masuk, terdengar perempuan itu memanggil “pa” kepada si pria.

***

Pagi hari belum genap pukul sembilan. Pria berjas hitam rapi melangkah menuju Pintu Masuk. Di balik jasnya itu bersembunyi kemeja biru langit. Di kerahnya dasi bermotif sengaja disangkutkan. Entah pria itu bolos kerja atau memang sengaja libur. Hendak apakah dia?

Pria itu berpostur lumayan tinggi. Wajahnya sawo matang. Di dagunya tumbuh jambang yang masih malu-malu. Pria itu menenteng tas hitam di tangan kirinya. Kemudian ia masuk ke dalam.

“Siapa lagi yang baru masuk itu?” Tanya Pintu Keluar.

“Entahlah. Barangkali seorang pengusaha yang mau membeli tempat ini.”

“Mustahil. Pria tadi sepertinya pekerja kantoran. Ia bolos kerja.”

“Tidak. Dia tidak bolos. Saya dengar hari ini semua kantor ditutup. Tak boleh ada yang masuk kerja.”

“Kenapa?” Tanya Pintu Keluar penasaran.

“Mana saya tahu. Mungkin mau ada PHK massal.”

“Tunggu dulu, apa pagi-pagi begini sudah ada wanita yang siap di dalam?”

“Gila kamu! Ini bukan hanya tempat penyewaan wanita. Ini tempat nongkrong.”

“Maksudmu pria tadi hendak bertemu klien di dalam?” Tanya Pintu Keluar lagi.

“Bisa jadi.”

Pagi berganti siang. Matahari mulai menyengat. Sinarnya berhamburan ke jalan raya yang lengang. Bising klakson jarang-jarang terdengar. Pedagang lontong sayur di depan gedung hingga siang belum menunjukkan tanda-tanda lapaknya buka.

Pria berjas tadi cukup lama di dalam. Barangkali ia benar-benar menjajal perempuan. Lebih-lebih pria itu sudah di dalam sekian lamanya. Biasanya pria yang tak kunjung keluar gedung, betah dengan satu sampai dua perempuan.

Setelah cukup lama, pria tadi keluar juga. Kali ini lewat Pintu Keluar. Dia kini bersama pria lain yang tubuhnya agak gemuk. Keduanya bercakap-cakap di ambang pintu. Pria gemuk itu memberikan segepok uang pada pria berjas.

“Koruptor!” Bisik Pintu Keluar.

“Jangan asal bicara! Bisa jadi urusan bisnis.”

“Bisnis apa yang tak ada korupsinya?” Pintu Keluar tak percaya.

“Sebentar. Barangkali dia investor yang mau merenovasi tempat ini.”

“Investor katamu?” Pintu Keluar masih tak percaya.

“Bisa jadi pria berbadan gemuk itu yang punya duit. Dan pria berjas itu perantara yang menerima uangnya untuk diberikan ke pemilik tempat ini. Semacam bagian negosiatornya.”

“Semoga kamu benar.”

***

Hari sudah malam, tempat ramai seperti biasanya. Pintu acap kali buka-tutup. Pria dan wanita dari mana pun keluar-masuk tak terhitung. Seorang wanita turun dari mobil hitam.

Wanita itu memakai gaun gemerlap. Bibirnya  diolesi gincu merah pudar. Badannya tinggi semampai. Postur tubuhnya aduhai dan wajahnya tampak molek. Matanya menatap tajam. Rambutnya tergerai ke belakang punggung. Ia bersicepat melangkah menuju Pintu Masuk.

“Pelacur!” Sergah Pintu Keluar.

“Kamu ini kalau bicara seenaknya!” Jawab Pintu Keluar.

“Andai wanita itu bukan pelacur, mustahil kemari.”

Perempuan itu akhirnya masuk. Pintu Masuk yang agak tua itu berkenyit. Sesosok pria menanti di balik pintu. Ia menampar pria itu. Tamparannya cukup keras, sehingga dari luar pun terdengar. Pintu Keluar terkekeh. Sementara Pintu Masuk mengulum senyum.

Ia sesungguhnya ingin menertawakan kejadian itu. Bagaimana  mungkin seorang pria agak kekar mendapat tamparan di pipi sebegitu kerasnya? Pria itu tak melawan. Justru ia memohon-mohon, berlutut di hadapan si wanita.

Entah apa yang terjadi. Kedua pintu kali ingin enggan menerka-nerka. Perempuan itu pergi lagi selepas menampar si pria kekar. Dia membuka Pintu Masuk. Lagi-lagi Pintu Keluar tak terpakai. Kali ini Pintu Keluar benar-benar muram, semuram-muramnya.

Sekilas ia langsung sadar lagi. Buat apa harus ke Pintu Keluar, kalau Pintu Masuk lebih dekat. Perempuan itu ternyata sudah dinanti pria lain yang menunggu di luar gedung. Ia menaiki motor tua. Barangkali dia adalah pacarnya. Atau jusru kekasih gelap. Bisa jadi pacar baru, dan pria kekar tadi pacar yang lama diputuskannya.

Esoknya, pria proyek yang tempo hari datang, kembali lagi. Dia datang bersama tiga orang temannya. Tangan kanannya menenteng sebuah kotak. Entah apa isinya. Ia datang menghampiri Pintu Keluar.

Pintu Masuk tersenyum, karena dia mengerti pria ini akan membongkar Pintu Keluar. Dua pria sisanya mendekat ke Pintu Masuk. Pintu Keluar giliran yang tertawa. Dia paham kalau Pintu Masuk akan dibongkar juga. Akhirnya kedua pintu itu pun dibongkar. Terdengar obrolan kalau mereka akan dijadikan satu.

Pekalongan, 8 April 2020