Beberapa minggu yang lalu, linimasa kita dihebohkan dengan banyaknya orang yang terjerat pinjaman online (pinjol). Beberapa merasa tertipu karena jumlah tagihannya melambung tinggi, beberapa lagi mengalami tekanan dan teror yang cukup membuat depresi.

Data pribadinya diumbar ke orang-orang terdekat dan diinfokan dengan kata-kata yang tidak senonoh. Kekejian tersebut dilakukan tanpa henti sampai si peminjam uang mengembalikan uang beserta bunganya. Mereka menteror tanpa ampun dan memperlakukan si peminjam secara tidak pantas.

Selain hoax yang menjadi persoalan pelik dalam interaksi digital kita hari ini, jerat pinjaman online juga selayaknya menjadi perhatian penting, terutama di Indonesia. Ditengah kondisi ekonomi yang lesu, penawaran pinjaman online semakin marak. Banyak sekali pinjol ilegal yang memberikan pinjaman dengan bunga mencekik.

Masyarakat seolah dibuat tak berdaya atas tipu daya agen pinjol. Ditengah tekanan ekonomi yang berat, pinjol hadir dengan kemudahan pinjaman yang sebenarnya adalah jebakan dikemudian hari.

Rentenir Digital 

Istilah rentenir barangkali sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Di beberapa daerah, profesi rentenir ini juga biasa disebut dengan tengkulak (pemborong hasil panen), toke, ceti, dan lintah darah.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rentenir adalah orang yang mencari nafkah dengan membungakan uang. Dalam kehidupan ekonomi masyarakat kita, rentenir telah lama menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi masyarakat. Namanya seringkali dihujat, tetapi kehadirannya sering kali dibutuhkan masyarakat kita.

Era digital sekarang ini, rentenir telah bertanformasi dan beroperasi secara on line dalam bentuk yang biasa disebut fintech (financial technology). Secara pola serupa dengan rentenir konvensional, yaitu meminjamkan uang kepada orang dengan bunga tinggi atau bahkan sangat tinggi.

Kalau dalam banyak cerita rentenir di pedesaan tidak segan menyita barang yang dimiliki atau bahkan mengusir dari rumah, rentenir on line era sekarang dinilai tidak kalah kejam.

Mereka memberi pinjaman dengan relatif sangat mudah, tidak perlu tatap muka, pinjaman langsung cair. Namun apabila terlambat membayar, penagihan dilakukan terus menerus tanpa kenal waktu dengan bahasa yang cenderung sangat memojokkan, menghina, hingga dirasakan peminjam sebagai teror.

Selain itu juga, meminjam sama halnya dengan menyerahkan data privasi kita pada aplikasi pinjol. aplikasi tersebut ternyata bisa mencuri data pengguna seperti nomor telepon dan beragam jejak digital. Sebuah kerugian yang besar, mengingat era digital seperti sekarang ini data privasi adalah aset yang sangat berharga.

Kecepatan dan Masyarakat Yang Rapuh 

Tinggi dan maraknya masyarakat pengguna jasa pinjol illegal menegaskan bahwa masyarakat kita kian rapuh. Baik secara ekonomi maupun secara mental. 

Tekanan ekonomi membuat orang cenderung mengambil jalan pintas tanpa berfikir dampak selanjutnya. Mudahnya percaya dan tidak berfikir panjang adalah dampak dari persoalan mental masyarakat yang lebih senang hidup dengan pola instan dan cepat.

Paul Virilio, seorang filsuf asal Perancis, dalam bukunya Speed and Politics: An Essay on Dromology (1986) menyatakan, realitas kebudayaan dewasa ini digerakkan oleh logika dan obsesi akan kecepatan.

Kemajuan teknologi yang mendengungkan kecepatan dan akselerasi, seolah tidak memberi pilihan ruang dan semua hal dipaksa mengikuti arus yang serba cepat. Dalam kontek tersebut Virilio menyebutkan bahwa kemajuan juga memiliki cacat, yaitu kecenderungan totaliter.

Diksi “kecepatan” tidak selamanya baik. Justru semakin cepat semakin banyak resiko yang dihadapi. Mudahnya informasi tentang akses pinjol dan bahkan terkadang datang tanpa dicari adalah konsekuesi dari era digital. Informasi bergerak begitu cepat yang kecepatannya mampu membunuh nalar kritis dan reflektif seseorang.

Peminjam diperdaya oleh kemudahan yang hadir dari kecepatan teknologi. Tanpa berfikir panjang dan karena tekanan ekonomi, jerat pinjol pun akhirnya mampu memperdaya. Tidak jarang pula untuk membayar hutang pinjaman, orang menggunakan aplikasi pinjol yang lain untuk membayar. Tutup lubang gali lubang, bagai lingkaran setan dalam simulacrum digital yang tidak berujung.

Gambaran diatas menegaskan bahwa kecepatan yang menjadi ruh era teknologi hari ini bisa sangat mungkin menciptakan kekacauan dan kerusakan harmoni dalam masyarakat. Teknologi menyediakan sarana untuk mencuri data privasi secara mudah dan menjadikannya sebagai bahan teror yang jahat.

Ketika fenomena tersebut tidak mampu dihentikan oleh otoritas tertinggi kita, yakni negara. Maka tidak menutup kemungkinan akan ada kekacaun-kekacaun baru yang secara tidak langsung disebabkan oleh kecepatan teknologi .

Dalam kondisi masyarakat kita yang rapuh seperti sekarang ini. Ekonomi yang lemah, ketidakpastian hukum atas pelanggaran hak privasi dan ketidakmampuan otoritas tertinggi beradaptasi dengan kecanggihan bisa jadi akan menciptakan petaka dasyat yang kita semua tidak akan mampu menghindarinya.  

Dalam kondisi begini negara perlu berperan atas perlindungan warganya. Terutama mereka-mereka yang dilemahkan dan dibuat rapuh oleh kondisi. Baik kondisi yang diciptakan oleh sistem ataupun non-sistem.