Beberapa hari yang lalu, saat tengah asyik menonton tayangan talkshow disalah satu siaran televisi kita, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar. Tidak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya, seolah langit berusaha memberi kepuasan kepada bumi, dari dahaga akibat kemarau yang sudah berlangsung selama sebulan lebih. Hati sedikit senang, akhirnya masa kemarau yang membuat semuanya terlihat kering ini, segera berakhir. Namun, saat menatap kembali layar televisi, perasaan tidak karuan.

Saat acara talkshow terlihat lebih menarik, saat topik panas membahas mengenai para koruptor yang seolah mendapat keistimewaan dihadapan hukum negara kita, siaran tiba-tiba menghilang, menyisakan gambar “semut” pada layar televisi. 

Hal yang biasa terjadi memang, jika cuaca sedang berkecamuk diluar sana, siaran televisi menghilang begitu saja, seolah takut tersambar petir yang menggelegar.

Maklum, siaran televisi dinegara kita, masih disalurkan lewat transmisi radio untuk daerah yang dekat dengan pemancar, dan lewat satelit untuk daerah yang jauh dari stasiun pemancar. Penyaluran siaran dengan mode seperti ini, memang sangat bergantung terhadap beberapa aspek, seperti keberadaan stasiun pemancar, juga kondisi cuaca.

Terkadang, karena buruknya kualitas sinyal yang diterima oleh perangkat televisi analog kita, kualitas gambar yang ditayangkan sering berbayang. Para ibu-ibu pecinta sinetron Ikatan Cinta atau Suara Hati Istri, sering bersungut-sungut akibat tampilan gambar yang memperburuk tampang para lakon utama. Belum lagi, saat menonton sepak bola dengan tampilan gambar seperti itu, para fans akan kebingungan melihat sudah dimana posisi bola. Pada akhirnya, yang muncul hanyalah kekecewaan.

Media televisi dan siaran yang diterima, boleh saja masuk kategori kebutuhan tersier secara teori. Namun, dalam kehidupan nyata, televisi dan siaran yang ada didalamnya, sudah masuk kategori kebutuhan primer, setelah makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Dimana saja, asal ada sumber daya (listrik), televisi sudah ada disana.

Menonton televisi sudah menjadi hiburan wajib bagi setiap manusia, mencari berita atau informasi, atau sekedar menghilangkan setres dari hiruk pikuk kehidupan, dengan menonton film atau sinetron. Karena itu, dunia hiburan pun akhirnya begitu menggeliat, dan membuka sumber pendapatan baru bagi siapa saja yang memiliki kualitas dan kreatifitas. Apalagi ditengah pandemi saat ini, yang belum tahu kapan berakhirnya, saat kita disuruh untuk menjaga jarak dan dirumah saja, tentu saja keberadaan televisi tanpa mengesampingkan kualitas siaran yang diterima, sangat penting.

Meski, untuk menonton diera internetisasi saat ini tidak terbatas hanya pada televisi saja, karena keberadaan Youtube plus media sosial sebagai layanan streaming baru bisa memggantikan posisi televisi, namun hanya sejenak. Keberadaan televisi tetap belum bisa tergantikan. Dari TV tabung hingga layar datar, regenerasi televisi seolah tidak ada habisnya, hingga saat ini, kita akan tiba pada era televisi digital.

Kegeraman banyak masyarakat terkait kualitas gambar dan suara dari TV analog, yang sering membuat para penonton kecewa, seakan terobati beberapa saat lagi.

Coba perhatikan running text yang ditampilkan saluran TV tertentu saat kita menonton televisi, disana ada pemberitahuan bahwa chanel mereka akan berpindah ke siaran digital pada waktu yang sudah ditentukan. Artinya, Indonesia saat ini tengah bersiap memasuki era televisi digital, era dimana kualitas sinyal yang akan diterima TV tidak terpengaruh terhadap lokasi stasiun pemancar, sinyal yang disalurkan pun tidak lagi melalui sinyal radio, tapi saluran digital dengan kualitas gambar dan suara yang semakin baik.

Sudah siapkah kita migrasi menuju televisi digital, demi kualitas tontonan yang lebih baik?

Pindah ke TV Digital, yuk !

Menurut penjelasan yang ada disitus kominfo.go.id, migrasi televisi kita menuju televisi digital sudah digaungkan sejak jauh-jauh hari. Namun, yang namanya rencana tentu saja bisa tertunda karena beragam kendala yang dihadapinya. Hingga beberapa bulan lalu, diputuskan bahwa peralihan televisi kita, dari analog menuju digital akan dimulai pada 17 Agustus 2021, tepat pada saat perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke 76, dan jika sesuai jadwal, Analog Switch Off (ASO), atau mematikan siaran analog secara keseluruhan akan selesai paling lambat pada 22 November 2022 nanti. Artinya, pada akhirnya nanti, saluran teresterial kita akan digantikan dengan saluran digital.

Jika selama ini, pada TV analog, siaran yang kita terima disalurkan lewat saluran radio (gambar dari frekuensi AM, suara dari frekuensi FM), maka pada TV analog, siaran akan disalurkan lewat bilangan bit data informasi, 1 dan 0. Yang harus kita pahami, bukan tentang bagaimana TV digital ini beroperasi, tetapi sejauh mana dampaknya bagi masyarakat Indonesia.

Jika selama ini, pada TV analog, setiap masyarakat wajib menggunalan antena UHF atau antena parabola, untuk menangkap siaran free – to – air , maka pada TV digital, hanya dibutuhkan seperangkat alat set box untuk menangkap sinyal digital. Sehingga, peralatan yang dibutuhkan perangkat televisi kita, tidak serumit saat ini.

Dan, yang terpenting dari migrasi ini adalah, kualitas gambar dan suara yang ditampilkan.

Pada televisi analog, jauh dekat dengan stasiun pemancar sangat menentukan kualitas gambar dan suara yang diterima oleh perangkat televisi kita. Namun, pada televisi digital, hal ini tidak akan berdampak meski televisi kita berpindah jauh dari stasiun pemancar. Selama sinyal terdeteksi didaerah kita, maka kualitasnya akan sama seperti mereka yang berada dekat dengan stasiun pemancar.

Kualitas tontonan anda akan semakin baik, saat kualitas gambar dan suara cukup jernih dan memuaskan. Rasio gambar yang ditampilkan pun lebih luas, yakni dengan rasio 16:9, rasio pada tanyangan produksi modern saat ini. Kualitas gambar dan suara yang jernih, rasio yang besar, akan memberikan nilai kepuasan tersendiri saat menonton. Belum lagi, sinyal yang dimodulasikan tidak lagi lewat frekuensi, maka pengaruh cuaca tidak terlalu berdampak. Bisa dipastikan, noise atau bintik-bintik semut, maupun gambar yang berbayang, tidak akan terlihat lagi ditelevisi kita.

Dan, menurut saya sebagai salah satu hal terpenting dari migrasi TV digital bagi kita masyarakat Indonesia adalah, interaksi yang terjadi. Masih dari laman kominfo.go.id tentang TV digital kita, pada televisi digital nantinya, akan ada fitur tambahan seperti EPG (Electronic Program Guide), untuk mengetahui apakah sebuah acara tersebut sudah pernah ditayangkan, dan acara apa yang akan ditayangkan. Jangan sampai, kita bolak-balik disuguhi program acara yang sama, sehingga kita tidak mendapatkan informasi atau ilmu baru yang up to date.

Belum lagi, pada televisi digital nantinya, kita sebagai masyarakat (penonton), bisa memberikan penilaian terhadap kualitas sebuah acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi. Kita bisa memberikan rating atau nilai terhadap sebuah program acara. Dengan begitu, kita berharap sebuah program acara, baik itu film, sinteron, ataupun talkshow, tetap memberikan tontonan yang mendidik dan bermutu, bagi masyarakat kita.

Ada begitu banyak tayangan-tayangan televisi kita selama ini, yang tidak mencerminkan pendidikan karakter bangsa, yang mana, sebagai penonton, kita tidak bisa berbuat banyak apalagi memberi penilaian terhadap kualitas tayangan yang demikian. Kritikan kita pun hanya sebatas prosedural, yakni melayangkan protes lewat KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), yang terkadang didengar, namun mungkin lebih sering diabaikan. Namun, dengan keberadaan Televisi digital dimasa depan, kita punya andil dalam menilai kualitas sebuah program acara yang ditayangkan. Dengan begitu, kualitas tontonan kita akan semakin bermutu dan mencerminkan karakter bangsa. Itu harapan kita bersama.

Memang, migrasi ke televisi digital nantinya akan menemui beberapa kendala, misalnya seperti, masyarakat yang harus kembali membeli televisi yang support terhadap siaran digital yang disalurkan. TV analog memang masih bisa digunakan, namun tetap saja wajib membeli set top box tv digital sebagai receiver atau penangkap sinyal digital yang disalurkan. Artinya, masyarakat terpaksa mengalokasikan dana tambahan, bukan? Bagi masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas, mengganti televisi atau membeli set top box tv digital bukanlah persoalan sulit. Namun, bagi mereka, masyarakat dengan ekonomi yang pas-pasan, tentu saja ini akan menjadi masalah baru. Belum lagi, kondisi ekonomi masyarakat yang sangat sulit, akibat pandemi yang membelit.

Tetapi, kabarnya, pemerintah lewat Kemenkominfo ( Kementerian Komunikasi dan Informasi), akan memberikan bantuan set top box tv digital gratis kepada keluarga miskin di Indonesia, agar keluarga tersebut tetap bisa menikmati tayangan televisi digital, meski televisi yang dimiliki belum support terhadap sinyal digital yang akan disalurkan. Semoga saja, penyaluran bantuan ini tepat sasaran.

Menarik dinanti, bagaimana kualitas televisi digital dinegara kita nantinya, juga, bagaimana sinyal digital bisa diterima hingga seluruh pelosok nusantara.

Sudah saatnya memang, kita beralih ke televisi digital, karena hal tersebutlah yang paling relevan ditengah pesatnya perkembangan dunia teknologi saat ini. Tontonan yang baik pun, bukan  sebatas tayangan yang menarik, melainkan juga, kualitas gambar dan suara yang cantik.

Menarik dinantikan. Yuk, pindah ke televisi digital, yuk !