Ada sebuah pertanyaan eksistensial yang menjadi pertanyaan besar dalam seseorang memeluk agama. Ada dua pemikiran yang secara umum membahas mengenai hal ini. Kalau kita mau pindah agama, kita belajar dahulu; atau sebaliknya, kita belajar dahulu, kemudian baru pindah?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mungkin jarang terpikirkan oleh kita semua. Namun mari kita melihat hal ini secara lebih detail.

Biasanya, orang yang pindah agama lebih jarang ada ketimbang orang yang dibesarkan di dalam keluarga yang beragama tertentu. Orang Kristen, misalnya, biasanya melahirkan anak-anak yang dibesarkan di dalam tradisi kekristenan.

Keluarga Islam biasanya juga melahirkan dan membesarkan anak-anak yang diajarkan dalam tradisi Islam. Keluarga Buddha biasanya juga melahirkan dan mendidik anak dalam tradisi sang Buddha. Dan agama-agama lain tentu juga demikian, yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu.

Setiap orang terlahir tanpa agama. Itu yang harus kita pahami bersama-sama terlebih dahulu. Agama, secara hakikat, adalah sebuah respons terhadap pencipta. Manusia diciptakan untuk menyembah. Akan tetapi, perbedaan demi perbedaan dalam menyembah bisa diejawantahkan di dalam berbagai agama.

Agama muncul, entah dari mana, untuk sebuah pengabdian. Manusia mengabdi kepada Tuhan melalui agama, bukan politik. Kalau politik, ya itu biarkan kaum Monaslimin saja yang menyembah-nyembah Monas, yang adalah simbol kebudayaan Hindu, yakni Lingga.

Simbol maskulinitas. Itu memang didirikan sebagai tradisi Hindu yang dibesarkan di Indonesia. Biarkan saja para pemuja Monas ini memuja-muja tugu itu. Padahal, di Indonesia, rumah ibadat banyak kok. Mari kembali ke topik awal.

Ada dua pembagian yang kita akan sama-sama perhatikan dalam pemahaman orang yang pindah agama. Saya tidak akan membahas mengenai orang yang dari lahir sampai akhir hidup agamanya sama.

Saya sedang fokus kepada mereka yang memiliki kebimbangan dalam agama awal mereka dan berniat untuk pindah. Jadi mohon, setelah membaca artikel ini, pembaca memiliki niat langsung untuk pindah agama atau berpikir pindah agama. Deal? Mari kita lanjut.

Pindah agama terlebih dahulu, diyakinkan kemudian.

Sekelompok orang semacam ini biasanya memiliki sebuah pemikiran yang cukup sederhana. Pindah agama karena mereka teryakinkan dengan apa yang menjadi pemikiran agama mereka. Atau kemungkinan lain, orang ini merasa tertekan dengan situasi dan kondisi untuk membuat dirinya pindah agama.

Saya tidak mengatakan orang ini adalah sekelompok orang yang berpikir pendek. Tapi mereka bisa saja mengalami tekanan yang tidak bisa mereka tahan selama ini. Sehingga itu memercik kemungkinan orang ini harus berpindah agama. Biasanya, mereka dikondisikan dengan kondisi-kondisi tertentu.

Misalnya kehadiran tokoh penting dan besar dalam hidup mereka, terpercik sebuah statement-statement yang mendukung agar mereka harus pindah agama segera, atau memilih hal yang lain, yakni kematian.

Hal ini bisa saja menjadi sebuah tindakan spontanitas. Agama berbicara tentang ketuhanan. Tidak sedikit agama yang mengajarkan mengenai konsep “wahyu”, iluminasi, penampakan, dan dinamika dalam seseorang berpindah agama.

Ada orang yang bisa saja mendadak berganti agama. Untuk urusan keyakinan agama, didalami kemudian. Tidak sedikit orang yang pindah agama, namun tidak bisa menjelaskan rasionalitas mereka. Tapi inilah fakta yang memang ada di lapangan.

Keyakinan itu ditumbuhkan. Iman itu seperti benih yang ditanam, dan tumbuh kemudian. Merupakan sebuah kepastian bahwa akan tumbuh. Memangnya agama hanya bicara rasionalitas?

Yakin agama terlebih dahulu, pindah agama kemudian.

Tipe orang ini adalah orang yang skeptis, pragmatis, dan berpikir. Biasanya orang ini adalah orang yang mengalami kebimbangan terlebih dahulu. Mereka ini adalah orang yang antisipatif. Mereka harus memahami terlebih dahulu siapa yang mereka ingin percaya. Karena bicara tentang iman, kita berbicara tentang “siapa yang akan kita jadikan tempat pengaduan”.

Di Indonesia, harus diakui bahwa hal ini sedikit sekali dialami oleh orang-orang Indonesia. Budaya di Indonesia pada umumnya adalah budaya “asal telan”. Rasionalitas berada di nomor sekian. Tapi orang-orang semacam ini ada di Indonesia.

Salah satunya adalah Deddy Corbuzier. Dia memeluk Islam, dengan ribuan pertanyaan yang ada di benaknya, untuk dijawab sebelumnya. Urusan bimbang, itu urusan pribadi. Dalam hal ini, Deddy harus diapresiasi. Mengapa?

Karena Deddy juga menjadi sosok yang mementingkan rasionalitas. Agama dan rasio tidak bisa dipisahkan. Menurut orang-orang seperti ini, Tuhan menciptakan rasio, maka Dia bisa dijelaskan oleh rasio, meski rasio manusia terbatas.

Hal ini juga dialami oleh seorang pendeta yang malang melintang di dunia kekristenan saat ini. Dia adalah Pendeta Stephen Tong. Orang ini, ketika muda, juga memiliki kepercayaan-kepercayaan asali yang bukan Kristen. Stephen Tong muda adalah orang yang skeptis terhadap apa pun.

Akan tetapi, ketika dia mendapatkan jawaban dari Tuhan, dia bisa menjelaskan rasionalitas dari sebuah agama. Kekristenan bukan bicara rasionalisme. Rasionalisme dan rasionalitas adalah dua hal yang berbeda.

Jadi, bagaimana pandangan Anda?