Saat menjelang akhir tahun Desember 2018, seperti biasa saya sangat senang bermain gedget dan membuka beberapa sosial media. Dan dari penelusuran saya, seketika saya merasa ada hal menarik terkait wacana politik bangsa ini yaitu yang berhubungan dengan PILPRES (pemilihan presiden dan wakil presiden) di tahun 2019. Mengingat saat itu wacana politik sudah cukup hangat dibahas dimana saja, tidak hanya di media-media konvensional (eletronik dan cetak) tetapi juga di media-media online. Dan mungkin bagi pecinta kopi, diskusi politik adalah teman ngopi yang asik.

Namun, bukan persoalan politik PILPRES yang membuat saya tertarik. Dan baiknya sebelum menjelaskan apa itu? mungkin akan menyenangkan jika saya menyentil persoalan PILPRES dan secuil dinamikanya.

Ketika menyinggun persoalan politik atau PILPRES, maka hal yang tidak akan terpisah adalah tim pemenangan dan pendukung ideologis mapun pendukung ngambang serta strategi taktik untuk menang. Beberapa hal ini, merupakan pokok pembahasan yang akan selalu menarik dibahas dan bisa membikin emosi bagi mereka yang sangat mencintai salah satu kandidat.

Bagi para pendukung dan mereka yang sekedar menikmati pesta demokrasi, ketika mendiskusikan para kandidat dan strategi untuk menang memang menarik. Mungkin akan sempurna jika mendiskusikan hal lain yaitu seperti realasi perangkat media, issue dan perangkat-perangkat lainnya dalam kontestasi PILPRES. Seketika kita pasti merasa orang yang paling keren kerena dapat membedah dinamika politik ini.

Membedah dinamika politik PILPRES bagi saya sesuatu yang sangat sulit dan pasti tidak akan bisa. Mengingat ketidak mampuan dan keterbatasan informasi saya. Namun sedikit saya akan melihat beberapa hal yang populer dari dinamika politik PILPRES saat ini.

Yang pertama, strategi berita Hoax. Biasa dikaitakan sebagai strategi yang sangat diminati ketika pesta demokrasi. Tentunya tujuannya pencapaiannya yaitu apa lagi kalau bukan mendulang simpati publik dan mendapat dukungan.

Dirut Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto dalam Diskusi Hoax & Pemilu 2019 di Jakarta, menjelaskan Faktor yang mempengaruhi munculnya hoax yaitu antara lain adalah semakin terbukanya demokrasi (Suara.com). Hoax dianggap instrument cukup efektif dalam dinamika politik, Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) mencatat 230 hoaks yang terklarifikasi sebagai disinformasi selama periode Juli-September 2018 (KataData.co.id).

Sarana yang paling banyak digunakan untuk menyusun hoaks itu, yakni narasi dan foto (50,43%), narasi (26,96%), narasi dan video (14,78%), dan foto (4,35%). Dari jumlah tersebut, hoaks paling banyak disebarkan di Facebook (47,83%), Twitter (12,17%), Whatsapp (11,74%), dan Youtube (7,83%) (kataData.co.id).

Dan yang kedua, gerakan-gerakan sosial yang menurut saya syarat muatan politik. Sekedar mengingat kembali gerakan dengan tag line Reuni Akbar 212. Dan gerakan ini cukup sukses dengan dihadiri cukup banyak peserta, mengutip apa yang dikatakan Anthony Giddens. Bahwa gerakan sosial adalah upaya kolektif untuk memajukan kepentingan bersama melalui tindakan di luar institusi yang sudah mapan [1]. 

Mereka adalah salah satu aspek dari bidang politik yang lebih luas di luar pemerintahan yang dapat membawa perubahan sosial besar. Ini bisa dilihat dalam keberhasilan gerakan hak-hak sipil Amerika dan kampanye feminis untuk kesetaraan, misalnya1.

Dinamika politik PILRES memang menawarkan sebuah drama yang menarik namun disisi lain menghasilakn sebuah kejenuhan sosial. Selain apa yang telah disebutkan diatas, penggung akrobatik lain yang ditampilkan adalah seperti beberapa program media elektronik. Membahas topik paling update terkait dinamika politik PILPRES. Selalu menampikan setting panggung dengan konsep Oposisi Biner (Pro dan Kontra). Mungkin yang cukup popular yaitu program ILC yang diusung oleh salah satu media swasta.

Pada program TV ini, ketika membahas topik seputaran dinaminka politik PILPRES. Masing-masing pendukung mulai berparody mendebatkan bahkan menelanjangi kandidat yang mereka cintai. Mulai dari, visi, prestasi, personalitas, kadar intelektualitasnya, ideologi, hubungan sosialnya, latarbelakangnya (perjalanan hidupnya) dan bahkan kehidupan pribadinya.

Dari secuil gambaran dinamika diatas. Apa yang sampai saat ini membikin saya merasa sangat tertarik dari dinamika PILPRES. Yaitu wacana “Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik Nurhadi-Aldo”.

Publik seketika diramaikan dengan kemunculan dua sosok. kemunculan mereka menjadi guyonan politik di media sosial Twitter, Facebook, dan Instagram, dengan tokoh Nurhadi-Aldo. Tentunya sebagai pasangan 'capres' dan 'cawapres' di ajang Pilpres 2019.

Melalui sebuah poster, Nurhadi-Aldo berkampanye layaknya politikus. Slogannya pun sangat menggelitik, yakni 'Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik’. Kemunculan tokoh Nurhadi-Aldo dianggap dapat meredam konflik antarkubu di ajang Pilpres 2019. Kehadiran keduanya menyampaikan pesan kepada masyarakat dalam bentuk banyolan.

Indonesia tanpa 'Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik’. Mungkin akan menjadi panggung pertikaian darah dan perang argument. Kehadiran mereka adalah sintesa atas kekeruhan, pelik dan panasnya panggung parody PILPRES.


REFERENSI :

[1] politybooks.com. ANTHONY GIDDENS & PHILIP W. SUTTON ‘SOCIOLOGY 7TH EDITION’. Chapter Summary for Chapter 22 Politics, Government and Social Movements.