3 November 2020, Amerika Serikat akan menentukan nasib negara mereka lewat pemilihan presiden (pilpres). Walaupun dunia sedang dilanda pandemi Covid-19, namun Kongres tetap ngotot untuk melanjutkan pilpres Amerika Serikat, meskipun banyak warga negara yang protes. 

Ya, wajar saja, Amerika Serikat saat ini adalah juara pertama kasus positif Corona di dunia, yaitu mencapai 7.31 juta kasus dan 208 ribu meninggal dunia, apalagi Amerika Serikat sedang dilanda resesi paling buruk setelah sembilan tahun terakhir.

Namun, apa daya, pemerintah tetap memaksa untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum walaupun dilanda keburukan. Salah satu faktornya adalah selesainya periode presiden Petahana, Donald Trump yang telah menjabat selama empat tahun.

Siapa yang tidak tahu Donald J. Trump? Ya, dia adalah presiden Amerika Serikat yang ke 45, dan sekarang ia mencalonkan kembali sebagai presiden yang didukung oleh partai Republikan. Dan sebagai penantangnya, partai Demokrat menunjuk politisi senior sekaligus mantan wakil presiden dari Barrack Obama, Joe Biden.

Pada sesi debat pertama yang diadakan di Case Western Reserve University Cleveland, Ohio tersebut, terlihat baik Trump dan Biden saling beradu argumen, terlihat Donald Trump selalu memotong pembicaraan ketika Biden sedang berbicara, sampai-sampai moderator debat, Chris Wallace kehilangan kendali atas debat. 

Gentlemen, Stop!” begitulah perkataan Chirs Wallace yang meminta Trump untuk berhenti mengganggu. Sementara, Biden hanya bisa bertahan dan bersikap tenang dalam perdebatan.

Dalam debat pertama bisa kita melihat, bahwa baik Trump dan Biden sama-sama serius untuk menangani permasalahan yang ada di AS, walaupun baik dari kedua kubu tersebut terkadang menyerang secara pribadinya.

Walaupun begitu, dalam debat sesi pertama ini sebenarnya masih belum jelas pilihan masyarakat AS. Ya, terlalu dini untuk menilai siapa yang pantas untuk menjadi presiden AS selanjutnya dari debat pertama tersebut, karena masih ada debat wakil Presiden yang akan direncanakan tanggal 09 Oktober mendatang antara petahana, Mike Pence sebagai wakil dari Trump dan Kamala Harris sebagai wakil dari Biden, yang akan diselenggarakan di University of Utah in Salt Lake City, Kingsbury Hall on President’s Circle.

Selain dari soal debat, ada banyak hal lain yang bisa kita jadikan indikator tentang pilihan masyarakat Amerika Serikat, maka marik kita simak apakah Donald Trump masih dibutuhkan oleh rakyat Amerika? Bagaimana Dunia Melihat AS dan Trump? Dan apakah Tump layak menjadi sebagaai presiden AS kembali?

Yang pertama, apakah Trump masih dibutuhkan oleh rakyat Amerika? Jawabannya bisa iya namun bisa juga tidak. Sebab menurut survei gallup.com (2019), mayoritas warga AS tidak puas terhadap Trump dalam menangani pekerjaannya, bahkan masyarakat menganggap Trump adalah presiden yang terburuk sepanjang sejarah AS, yang mengalahkan Obama, Bush Jr, dan Jimmy Charter. Mereka juga menganggap Trump adalah presiden yang telah gagal dan pembuat kekacauan di AS.

Meskipun demikian, walaupun sebagian masyarakat AS menganggap pemerintahan Trump merupakan terburuk, namun ada juga yang berpendapat bahwa pemerintahan Trump sangatlah baik, terutama di kalangan kolot dan konservatif. Wajar saja, mayoritas pendukung partai Republikan adalah dari kalangan Konsevatif tua, yang selalu berpikiran kuno.

Kendati demikian, ada sisi positif dan sisi negatif dalam kepemimpinan dari Trump. Kita tahu bahwa Trump memang sangat rasis terhadap orang Asia, terutama pada orang Chinese dan Arab, kita juga tahu bahwa Trump tak segan-segan mendeportasi para imigran yang telah lama menetap di AS. 

Namun begitu, di balik kontroversinya beliau, ingat apa slogan Trump ketika Pilpres 2016 lalu? Ya, benar sekali, “American First, Make America Great Again!” ya, menjadi Amerika kembali menjadi negara yang memprioritaskan masyarakat AS dalam segala aspek, karena Trump menilai selama ini mayoritas pekerjaan di banyak sektor telah dipenuhi oleh pekerja imigran yang merantau mencari rezeki di negara adidaya tersebut.

Trump menilai bahwa hal tersebut merupakan ancaman serius terhadap masyarakat AS sendiri, karena semakin sedikit pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat AS. Karena pemerintahan Obama telah membuka lebar-lebar bagi para imigran dari mancanegara untuk tinggal di AS, yang membuat AS sendiri menjadi over populated.

Pertanyaan kedua, bagaimana dunia melihat AS yang dipimpin Trump? Orang-orang di seluruh dunia mempunyai pandangan yang berbeda terhadap AS dan Trump. Menurut survei dari Pew Research Center (2019), dari 33 negara yang telah di survey, kepercayaan terhadap AS dan Trump sangat rendah.

Menurut pandangan global, kepercayaan terhadap Trump sangatlah sedikit, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan presiden sebelumnya, Barrack Obama. Selain itu, dunia menganggap kebijakan luar negeri dari Trump sangat tidak populer, seperti memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem, yang dimana di tentang oleh PBB karena ilegal, memberlakukan Travel ban terhadap 7 negara yang di cap teroris untuk masuk ke AS, dan membuat tembok raksasa di perbatasan AS dan Meksiko guna menghentikan warga Meksiko yang ingin merantau ke AS.

Serta, masyarakat menilai penarikan Trump dari  penarikan senjata nuklir Iran yang sangat negatif, akan tetapi lebih positif tentang negosiasinya dengan Kim Jong Un  mengenai program senjata nuklir Korea Utara.

Terakhir, apakah Trump layak menjadi presiden AS kembali? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita melihat dulu pada situasi di Amerika Serikat saat ini, apalagi dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Kita mengetahui bahwa saat ini Amerika Serikat menjadi negara yang kasus positif Covid-19 yang terbesar di dunia, bagaimanakah respons dari Trump? 

Bukannya memikirkan bagaimana caranya agar menurunkan angka persentase korban Covid-19, justru beliau mengabaikan pandemi tersebut. Bahkan, Trump menyangkal bahwa Covid-19 ini adalah konspirasi.

Ditambah lagi, masyarakat AS sendiri semakin bebal terhadap pandemi ini, bahkan banyak dari mereka turun ke jalan dalam rangka gerakan anti masker dan protokol kesehatan, Ditambah lagi kasus Black Lives Matter yang dimana kasus kekerasan serta bentuk diskriminasi terhadap minoritas warga AS keturunan Afrika, yang mengakibatkan kerusuhan massal di seluruh penjuru AS. 

Apa respons dari Trump? Beliau sebenarnya setengah-setengah dalam menangani kasus tersebut, sehingga masyarakat menganggap Trump lambat dalam menangani kasus ini.

Jadi, kesimpulannya adalah, apakah Trump masih layak terpilih kembali? Ya, mengingat segala kebijakan yang kontroversial dan penilaian dari masyarakat AS maupun Internasional, sepertinya sangat sulit bagi Trump untuk mendapati kursi Ring-1 di White House kembali, karena banyak masyarakat AS telah menganggap pemerintahan Trump telah gagal dalam masa tugasnya. (Adzhlan Muhammad Shah, 2020)