Penulis
8 bulan lalu · 87 view · 4 menit baca · Politik 45235_39504.jpg
Tribunnews

Pilpres 2019: Adakah Kami di Lobi-Lobi Kalian?

2018 adalah tahun yang ramai, tahun yang sangat sibuk bagi negeri ini. 

Setelah disibukkan dengan hiruk pikuk dan keramaian ibukota dari berbagai media serta adu kuat para buzzer dalam Pilkada ibukota, kemudian dilanjut dengan persiapan ASEAN Games dengan berbagai pembahasan dari segi infrastruktur dan kesiapan lainnya tentunya, dan beberapa hari ini kita dipertontonkan kembali drama politik kaum elit dari berbagai media massa dan media sosial tentang pendaftran Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Di 2018, semua hal bisa dengan mudah menjadi viral, setiap kata bahkan bisa jadi bahan bagi setiap orang untuk diperbincangkan. Platform media sosial yang semakin berkembang seperti Instagram, Twitter, YouTube, Facebook, bahkan LinkedIn, dapat membuat dengan cepat dan tersebar luasnya berbagai informasi, tak terkecuali perihal politik. 

Hari ini, tak ada lagi rasanya pengecualian bagi kita yang awam untuk tidak tahu tentang politik negeri ini, walaupun hanya sedikit. Semua platform sangat mendukung kita untuk mendapatkan informasi politik elektoral negeri ini. Tak terelakkan pula, hashtag #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi menjadi viral di media sosial.

Beberapa hari ini semua media tertuju pada pemilihan presiden yang sebetulnya baru tahun depan akan dilaksanakan, bahkan hampir mampu mengalahkan fokus kita dalam kemeriahan ASEAN Games. Mahfud MD, Kiai Ma'ruf, Cak Imin, AHY, Ustaz Abdul Somad, TGB, Gatot, Habib Salim, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, setidaknya itulah nama-nama yang muncul di lini masa kita berselingan. 

Berita dari berbagai platform bergantian menyebutkan nama-nama tersebut sebagai pendamping dari Calon Presiden terkuat saat ini, Jokowi sebagai petahana dan Prabowo sebagai penantang.

“Dalam hitungan detik, drama dalam politik berubah, tak ada yang pasti dalam politik.” Setidaknya kalimat itulah yang sering disebutkan para politisi di layar kaca maupun media massa. 

Beberapa hari belakangan, kalimat tersebut benar-benar dengan gilanya terjadi. Caki Imin yang sudah lama mendampingi Jokowi berseliweran ke sana kemari dan bahkan lebih sering terlihat dibanding wakil presiden saat ini Jusuf Kalla, ternyata harus menerima bahwa arah angin beberapa hari sebelum pendaftaran mengarah kepada Mahfud MD. 

Gilanya lagi, beberapa jam sebelum deklarasi yang bahkan Mahfud MD dikabarkan sudah menyiapkan baju untuk deklarasi, ternyata seketika berubah haluan ke nama Kiai Ma’ruf.

Beda cerita dengan Jokowi, Prabowo bisa dibilang terlihat lebih kompleks dalam memilih pasangan. Koalisi yang saling ngotot untuk mengajukan nama menjadi batu krikil tersendiri untuk Prabowo. Ijtima’ Ulama yang dibawa oleh PKS menghasilkan nama Habib Salim dan UAS, namun UAS tidak bersedia hingga hari terahir sebelum deklarasi. 

Munculnya nama AHY sebagai pendatang baru di koalisi pun tak serta-merta diterima oleh partai-partai yang terlebih dahulu mendukung dari awal, walaupun SBY sudah turun tangan. Hingga detik-detik akhir, muncullah nama Sandiaga Uno sebagai nama pendamping dari Prabowo.

Tapi, rasa-rasanya ada yang mengganjal bagi kami kaum awam dan masyarakat biasa ini. Dalam setiap interaksi pasti ada yang dibahas. Datang dan bertemunya ketum-ketum partai politik dan elite-elite lainnya tentu dalam 1 pembahasan besar, yaitu siapakah wakilnya?

Yang kami tahu, penentuan nama Calon Wakil Presiden dan bahkan memunculkan kembali Calon Presiden adalah satu proses panjang yang dilalui melalui interaksi dan lobi-lobi politik antar elite-elite partai politik. Nama-nama yang muncul di televisi dan media massa kami bukanlah hasil sekadar undian atau kocokan ala ibu-ibu arisan, melainkan proses panjang dari berbagai kesepakatan.

Lalu, adakah kami-kami ini dalam pembahasan dan lobi-lobi kalian? Ataukah hanya sekadar membahas politik elektoral yang hanya mengerucut pada nama saja? Selesaikah pembahasan pada satu hal menang dan kalah saja?

Kami yang awam ini tak akan paham memang apa yang ada di balik semua drama yang dipertontonkan kepada kami melalui berbagai platform media massa. Yang kami tahu bahwa saat ini pendidikan belum serta-merta merata, harga pangan dan kebutuhan dapur banyak yang masih melonjak dan tak terjangkau oleh dompet kami, pengangguran dan lapangan kerja atau pembinaan tak berbanding lurus.

Belum lagi ketimpangan sosial, masyarakat terpecah belah dikarenakan ulah buzzer yang tentunya ada yang memerintahkan. Belum lagi narkoba masih merajalela, korupsi dan nepotisme masih berjalan dan bahkan masih sangat dekat dengan kami, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya.

Adakah permasalahan yang kami rasakan ini dalam lobi-lobi kalian? Karena sejujurnya yang lebih kami butuhkan dari hanya sekadar nama-nama adalah apa dan bagaimana hidup kami ke depan.

Kontestasi elektoral ini hanya sampai 9 bulan lagi, maka selama itu pul lah kami akan dicekoki buzzer-buzzer dan media saling tuduh serta kampanye-kampanye tak bermanfaat lainnya.

Padahal, yang kami butuhkan adalah pasca 9 bulan ini. Bukan hanya sekadar menang dan kalah dan siapa yang akan memimpin kami, tapi bagaimana nasib kami dan bangsa ini kedepan ada dalam pembahasan di momen penting ketika para elite-elite politik bertemu. Karena kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang hebat yang tentunya memiliki pandangan dan ide-ide baik untuk kesejahteraan kami kaum awam ini. 

Tapi, apa dayalah kami ini pun mungkin hanya sebagai objek, 9 bulan ke depan kami harus menelan semua berita. Di hari pemilihan lagi dan lagi hanya akan menjadi kambing-kambing yang digiring menuju bilik dengan berbagai cara kalian supaya kami mau memilih. Perihal kami dan nasib kami ke depannya, lagi dan lagi itu urusan nanti, yang penting kalian dulu menang dan senang.