Dosen
1 tahun lalu · 446 view · 5 menit baca · Agama 69953_89390.jpg
CBS Boston

Pilihan Berjalan Bersama: Mayoritas, Minoritas, dan Toleransi

Mari bicara jujur. Berapa grup WhatsApp yang kamu tinggalkan atau berapa teman yang kamu unfollow sepanjang dinamika pilkada Jakarta tahun 2016-2017?

Pilkada Jakarta memang seperti membangunkan macan tidur. Si macan adalah bias berbasis Suku, Ras dan Agama (SARA) yang sudah lama menjadi tabu untuk dibicarakan.

Macan itu bangun karena suara-suara menggelegar dari berbagai akun media sosial yang menyerukan berita bohong atau pun provokasi yang akhirnya memakai nama agama untuk membela suatu kubu. Misalnya saja, setidaknya ada 2000 akun di dalam komplotan Saracen, suatu kelompok usaha yang membisniskan hoax dan provokasi dengan materi-materi berbau pertentangan antar agama dan ras. 

Kelompok Saracen ini memiliki kurang lebih 800.000 akun pengikut yang dapat membagi seruan-seruannya kepada entah berapa banyak orang lagi. Pengkubu-kubuan ini lama-lama sukses mempertentangkan konsep ‘toleransi’ dan ‘iman’, di mana ketika orang yang menyerukan ‘toleran’ saat ini cenderung diasosiasikan dengan kubu yang lebih liberal.

Padahal, jika ditelaah lebih jauh, intoleransi bukan tentang bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang berbeda dengan kita (termasuk berbeda iman), tetapi lebih kepada bagaimana grup mayoritas memperlakukan grup minoritas yang berbeda. Jika minoritas dipaksa toleran kepada mayoritas, inilah persekusi dan abuse of power.

Jika mayoritas dipaksa toleran terhadap minoritas, inilah konsep afirmasi yang bersandar pada asumsi bahwa lebih sulit bagi minoritas untuk membela haknya di sistem demokrasi yang cenderung memenangkan mayoritas. Jika kita menerima hal ini, maka belajar bagaimana menghadapi intoleransi adalah belajar bagaimana mayoritas memperlakukan minoritas.

Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia memiliki mayoritas penduduk yang bergama Islam. Namun, pada saat yang sama, pada tataran global, Islam adalah kelompok minoritas jika dibandingkan dengan populasi dan keberadaan kelompok-kelompok non-muslim. 

Keadaan ini unik karena pada saat yang sama, masyarakat muslim di Indonesia menjadi mayoritas di rumahnya sendiri, namun menanggung beban sebagai minoritas di tataran global yang sering kali berhadapan dengan ketidakadilan perlakuan. Pada saat yang sama pula, masyarakat muslim di Indonesia dituntut untuk dapat melakukan toleransi kepada minoritas namun merasa butuh ditoleransi oleh mayoritas dunia. 

Dinamika ini sangat tidak biasa sehingga pembelajaran mengenai toleransi di Indonesia pun berbeda. Saya sendiri harus merasakan menjadi minoritas dahulu untuk dapat benar-benar memahami peran saya, seorang perempuan Padang-Jawa beragama Islam yang sedari lahir sudah menyandang status sebagai bagian dari mayoritas di Indonesia.

Sore itu saya sedang menikmati membaca buku di salah satu bangku di antara pepohonan di Washington Square Park Kota New York sembari membiarkan angin yang mulai menghangat menjelang musim semi menerpa kerudung yang menutupi kepala saya. Hari itu waktu berjalan lambat seakan mengizinkan saya untuk rehat dari bacaan ratusan halaman yang biasanya memenuhi hari-hari mahasiswa S2 jurusan hukum untuk menikmati taman tempat manusia New York yang bermacam-macam itu bercengkerama di kala senggang. 

Sekitar jam 3 sore, telepon genggam saya menerima surat elektronik berisikan peringatan keamanan dari universitas. Ternyata, beberapa menit sebelumnya, telah terjadi pemboman di Boston Marathon, tempat ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan sampainya para pelari di garis akhir pada salah satu ajang maraton utama di dunia. 

Saya malu untuk mengakui ini. Pikiran pertama yang melintas bukan tentang korbannya, tetapi malahan “mudah-mudahan pembomnya bukan orang Islam”. 

Anehnya, pikiran yang sama kembali melintas lima tahun kemudian ketika saya membaca berita tentang penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog Trihanggo di Sleman tanggal 11 Februari 2018 yang lalu. Saya malu untuk mengakui ini. Pikiran pertama yang melintas ketika itu adalah “mudah-mudahan motivasinya bukan agama, tapi hal lain macam hutang”.

Segera setelah menerima surel peringatan keamanan, saya kembali ke apartemen untuk memantau berita. Praktis semua saluran TV menayangkan betapa kacaunya keadaan di tengah-tengah keramaian Boston Marathon. Orang-orang berlarian saling mencari, petugas kesehatan dan pemadam kebakaran terlihat wara wiri mengangkut para korban. Tak lama nama-nama korban tewas maupun terluka mulai teridentifikasi, didominasi oleh nama-nama kaukasian. 

Spekulasi mengenai pelaku dan terorisme bermotif agama mulai dilontarkan. Rasa simpati tiba-tiba ditambah dengan rasa was-was. Saya ingat mendengar kisah-kisah warga muslim mengalami diskriminasi dan serangan acak setelah runtuhnya Twin Tower pada 9/11. Kali ini, akankah reaksi yang sama muncul? 

Boston tidak jauh, dan serangan teror di tempat yang familiar mungkin membangunkan memori warga New York. Meski tidak berwajah timur tengah, sangat jelas bahwa saya adalah seorang muslim dari kerudung yang saya pakai. Rasa was-was itu semakin menguat hingga saya batalkan janji bertemu dengan kawan. Saya takut ke luar rumah.

Keesokan harinya, kelas diselenggarakan seperti biasa. Masih dengan rasa was-was, saya pergi ke kampus untuk beraktivitas. Tentunya topik utama pagi itu adalah tentang peristiwa Bom Boston dan kemungkinan motif pelakunya. Tak lama setelah kelas dimulai, saya menerima surel dari perkumpulan mahasiswa muslim di universitas. 

Pesannya tidak panjang, namun sungguh tak terduga bagi saya. Isinya menyampaikan pesan dari perkumpulan mahasiswa yahudi yang menawarkan anggotanya untuk berjalan dengan mahasiswa muslim jika ada yang merasa tidak aman di kota New York. Tawaran yang sangat sederhana tanpa perlu banyak persiapan maupun dukungan materi. Namun, inilah yang dibutuhkan ketika itu: pesan bahwa kami bersama denganmu. 

Pesan dari grup yang menyandang status sebagai bagian dari mayoritas kepada mereka yang berada di dalam grup minoritas bahwa perlindungan akan datang. Seketika rasa was-was saya tergantikan oleh rasa bersyukur karena ada yang mengerti kekhawatiran saya.

Apa yang membuat mereka mau menyatakan kebersamaan mereka dengan saya? Apa yang membuat mereka memilih untuk tidak ikut menyalahkan saya dan mencap saya sebagai ancaman sementara bangsanya sendiri sedang terancam oleh orang-orang yang mirip seperti saya? Jika mereka percaya kekerasan dibalas kekerasan, tentunya cerita akan berbeda.

Sungguh mengkhawatirkan bahwa Survey International NGO Forum for Indonesia Development (INFID) tentang Persepsi Anak Muda terhadap Radikalisasi dan Ekstremisme dengan Kekerasan akhir tahun 2017 lalu menyebut bahwa 22,2% responden setuju kekerasan sebagai cara yang tepat hadapi kaum kafir. Artinya, 22,2% anak muda akan membuat rasa was-was yang saya alami di New York kala itu menjadi ketakutan yang nyata, karena mereka memilih untuk tidak mau berjalan bersama.

Padahal, ketika salah satu tindakan pertama Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat adalah memberlakukan travel ban kepada negara-negara mayoritas Muslim, publik di Indonesia merasakan kemarahan dan berbagai organisasi seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengecam kebijakan tersebut.

Ketika warga Rohingya di Myanmar yang beragama Islam mengalami persekusi dan diskriminasi sehingga jutaan orang lari mengungsi, publik di Indonesia merasakan ketidakadilan yang teramat sangat sehingga menuntut Pemerintah untuk menuntaskan konflik ini.

Jika kita paralelkan keadaan ini, maka yang terjadi adalah mayoritas di Amerika bersikap intoleran kepada minoritas melalui travel ban, pemerintah Myanmar bersikap intoleran kepada minoritasnya melalui diskriminasi kewarganegaraan. Lantas, jika masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim bersikap intoleran dengan golongan masyarakat lainnya, apakah yang membedakan kita dengan Donald Trump atau Pemerintah Myanmar?

Pikiran awal saya tentang kedua insiden teror itu nampaknya salah. Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev, imigran dari Kirgistan, meledakkan bom di Boston karena ingin membela Islam dan membalas serangan Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan yang dimulai 10 tahun sebelumnya. 

Suliyono, yang pernah mengurus paspor untuk ikut berperang ke Suriah dan berjihad ke Poso, menyerang gereja dengan samurai dengan dugaan motif agama. Belum ada bukti bahwa mereka semua merupakan bagian dari organisasi teror. 

Bukti yang ada sampai saat ini malahan menunjukkan bahwa ketiganya merupakan individu-individu yang bergerak sendiri berdasarkan kepercayaan mereka sendiri. Bedanya? Tsarnaev Brothers adalah minoritas, Suliyono bagian dari mayoritas. Bagian yang manakah Anda?

Artikel Terkait