uang-rokok.png
Gaya Hidup · 1 menit baca

Pilih Makan atau Rokok?

Fenomena isu naiknya harga rokok menjadi perbincangan hangat dalam sepekan terakhir. Hal ini menjadi viral ketika sebagian masyarakat mengunggah foto harga rokok yang sedang ditampilkan di salah satu gerai minimarket. Seketika masyarakat memberikan reaksi pro dan kontra dalam menyikapi masalah ini.

Bagi sebagian masyarakat, ini merupakan hal baik yang menjadikan masyarakat Indonesia lebih sehat. Namun di sisi lain masyarakat banyak yang tidak setuju mengenai kebijakan yang sudah diterapkan pemerintah ini.

Seperti yang dilansir di media mengenai harga rokok yang selangit membuat para perokok aktif harus berpikir dua kali dalam membelanjakan uang mereka untuk sekadar membeli rokok. Faktanya rokok tidak hanya menjadi kebutuhan bahkan sudah menjadi gaya hidup.

Baru sepekan kebijakan ini digaungkan oleh pemerintah, banyak aksi-aksi yang menjadi viral di media sosial. Seperti beberapa masyarakat sengaja membeli rokok dalam jumlah yang tidak sedikit dengan alasan untuk persiapan beberapa bulan ke depan.

Seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan hal ini juga menimbulkan reaksi bagi para perokok pasif atau masyarakat yang tidak mengonsumsi rokok. Pilih makan atau rokok?

Dilema memang jika para perokok aktif ditempatkan pada posisi yang mungkin saja membuat mereka berpikir dua kali, memilih makan tapi tidak merokok atau merokok saja tapi tidak makan. Miris memang ketika rokok sudah menjadi gaya hidup. Berapapun harga yang diterapkan seolah tidak mempengaruhi para perokok untuk "membakar" uang mereka.

Beberapa masyarakat berasumsi, "Mengapa tidak ditutup saja pabriknya? Daripada harus menaikkan harga rokok menjadi membumbung tinggi." Hal ini menjadi perhatian serius karena perusahaan rokok di Indonesia menjadi perusahaan besar yang mampuh meraup keuntungan yang tidak sedikit.

Belum lagi perusahaan rokok di Indonesia menjadi sponsor resmi berbagai event olahraga. Bayangkan di satu sisi kita paham bahwa rokok sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Tapi rokok menjadi sponsor utama dalam kegiatan tersebut.

Tingginya minat masyarakat yang tinggi terhadap rokok membuat pemerintah harus berpikir keras mengenai sosialisasi buruknya dampak rokok bagi tubuh. Mulai dari mengganti kemasan dengan gambar yang mengerikan. Bahkan dengan menaikan harga rokok yang selangit. Belum lagi kebijakan pemerintah sebelumnya yang menyatakan bahwa rokok hanya dapat dibeli oleh masyarakat di atas 18 tahun.

Apa pun kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, kita sebagai warga negara yang baik harus dengan bijak menyikapi persoalan ini. Kebijakan ini secara tidak langsung memberikan pilihan bagi masyarakat apakah uang  mereka akan digunakan untuk memberi rokok atau digunakan untuk membeli dua porsi nasi lengkap dengan buah dan sayur? Jadi,silakan pilih makan atau rokok?