Pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul pada lingkungan kita setiap tahun di Indonesia, selain pertanyaan “kapan menikah”, yaitu pertanyaan “nanti masuk jurusan IPA atau IPS ya..?”

Ternyata disisi lain, kebanyakan orangtua justru malah tidak terlalu memperdulikan pertanyaan ini. Padahal ini adalah salah satu pertanyaan yang bisa mengusung atau yang membuka landasan filosofis pendidikan di Indonesia ke depannya.

Anak IPA mengatakan tentu saja bahwa, yang lebih baik itu adalah jurusan IPA, kalau masuk jurusan IPA nanti universitasnya bisa milih nanti. Bisa milih masuk IPA, bisa masuk IPS, bisa masuk Keagamaan, atau bisa masuk yang lainnya. Karena orang-orang IPA terbiasa menggunakan logikanya, kemudian nanti jenjang kariernya juga jauh lebih baik, dan nanti ketika sudah berkarir pun gajinya besar, lebih besar daripada anak-anak IPS. Begitu kata anak-anak IPA.

Tetapi kemudian anak-anak IPS tentu saja membantah. Karena sehebat-hebatnya anak IPA, mereka tetap akan ada di bawah naungan anak-anak IPS. Misalnya kalau anak IPA jago Farmasi, yang menjual obatnya, yang menjadi manajernya, yang punya pabrik, yang memegang manajerial, memegang pemasaran, dan perusahaannya, yang jadi ahli hukum, orang-orang yang berkemampuan atas ilmu-ilmu sosial itu adalah anak IPS, bukan produk ilmu-ilmu alam.

Nah saya sendiri, sebagai guru yang pernah juga mengajar di IPA, dan pernah juga mengajar di IPS mengalami hal yang semacam itu. Jadi, dalam tulisan ini, saya akan coba berbagi pengalaman kepada pembaca tentang alasan perdebatan ini, dan bagaimana konklusinya. Ditambah dengan beberapa belas referensi yang akan nanti saya sampaikan.

Ada banyak alasan untuk pembahasan tentang isu ini. Supaya tidak terlalu panjang, kali ini kita ulik satu saja...

 Pertama, Syamsir kuno ketika mereka mulai memformulasikan matematika, astronomi, dan kedokteran terkenal. Kenapa harus Mesir kuno? Bukankah peradaban-peradaban yang lain juga menghasilkan ilmu pengetahuan yang sama? Tentu saja kita harus mulai dari Mesir kuno, karena kita memang harus terikat pada nilai yang namanya ilmu-ilmu yang disebutkan tadi.

Tampaknya kita harus sepakat bahwa, ilmu pengetahuan itu berbeda dengan kepercayaan. Ilmu itu adalah sistem pengetahuan yang memiliki metodologi, yaitu definisi; karena ilmu itu harus memiliki metodologi, makanya, tidak semua bangsa memiliki itu. Metodologi apa yang dimaksud? Di antaranya adalah harus empiris, kemudian di antara yang lainnya adalah harus memiliki catatan. Catatan yang dimaksud itu tidak dimiliki oleh bangsa yang lain, kecuali bangsa Mesir kuno.

Bangsa Mesir Kuno adalah bangsa pertama yang pernah tercatat dalam hal memformulasikan sains, di waktu yang bersamaan bangsa Mesopotamia juga melakukan hal yang kurang lebih serupa dengan bangsa Mesir. Sehingga mereka menjadi induk dari peradaban dunia.

Meskipun Mesopotamia merupakan peradaban baru yang akhirnya di kodifikasi, yang jelas di masa Yunani kuno ini sudah mampu memproduksi nilai skeptis, metafisika, fisika, astrologi, astronomi dan lain sebagainya.

Peradaban Yunani tumbuh pesat dan kemudian dilanjutkan oleh Romawi. Sayangnya di abad ke-3 dan abad ke-4, orang-orang Romawi mengalami kemandegan sampai 1000 tahun gara-gara penerimaan atas dogma Kristen pada waktu itu. Dan inilah yang namanya zaman kegelapan, Maaf. misalkan kalau ada yang tersinggung ya.., dalam buku sejarawan manapun yang menjelaskan bahwa orang-orang Eropa memang mengalami zaman kegelapan di abad ke-3 atau abad ke-4 sampai 1000 tahun, gara-gara hegemoni pemikiran gereja.

Meskipun demikian, sains itu pindah ke kawasan Timur, ketika Kaisar Roma mengharamkan adanya sains dan filsafat. Akhirnya sains pindah ke dunia Islam, dan di dunia Islam malah berkembang dengan sangat pesat, kemudian ilmu pengetahuan berkembang lebih jauh, dan lebih variatif lagi.

Sayangnya apa yang terjadi di dunia Kristen, juga terjadi di dunia Islam. Sekelompok orang-orang ahli hukum atau sekelompok orang-orang yang terlalu taat pada agama itu malah merusak agama dari dalam, dan akhirnya Islam juga mengalami kebekuan sama seperti orang-orang Kristen.

Sayangnya lagi adalah ketika Islamnya meredup, orang-orang Eropa-nya berhasil membebaskan diri dari dogma Kristen, dimulai dari renaissance, reformasi gereja, penjelajahan, aufklarung, revolusi industri, revolusi Perancis dan sebagainya. Nah, rangkaian tersebutlah yang menyebabkan sains yang tadinya sempat terhenti selama 1000 tahun berkembang lagi di Eropa sampai detik ini, sampai saat ini.

Makanya kebanyakan hal-hal yang terkait dengan sains, biasanya memang berhubungan secara akut dengan peradaban Eropa, berbeda dengan ilmu alam atau sains yang berurusan dengan sosial. Karena sosial sains itu muncul belakangan.

 Anggaplah kalau sains itu adalah ibu dari pengetahuan, dan filsafat itu adalah Ayah dari pengetahuan, maka sosial sains itu adalah anak bungsunya, dan kakak-kakaknya adalah sains humaniora, etika, sudah muncul paling duluan. Mengapa seperti itu, karena orang-orang baru menyadari beberapa hal ketika manusia mengalami lonjakan peradaban yang sangat kuat.

Semisal ketika Revolusi Perancis atau revolusi industri, orang-orang baru berpikir bahwa ternyata psikologi, atau penjelasan tentang manusia pun harus dijelaskan. Karena interaksi manusia satu dengan yang lain, dan hubungan hirarkis, itu harus dijelaskan, harus dirumuskan. Akan tetapi masalahnya, manusia itu terlalu rumit, manusia itu terlalu otentik, dan satu individu dengan individu yang lain berbeda.

Pada waktu itu (modern) karakteristiknya adalah ilmu modern, bukan postmodern. Artinya segala sesuatu itu harus terukur, terstruktur, dan teratur. Jadi semuanya harus terdefinisikan, maka ini menyebabkan kesulitan untuk menjelaskan interaksi manusia yang sangat kompleks di kala itu.

Untunglah muncul tokoh yang namanya Auguscomte, yang berusaha untuk menciptakan satu metodologi tertentu untuk membahas interaksi manusia dengan manusia yang lain. Maka lahirlah sosiologi dengan landasan positivistik. Walaupun sebenarnya ilmu-ilmu sosial sudah dikembangkan sejak zaman kuno, tetapi perkembangannya memiliki metodologi yang pasti itu sejak munculnya ide Auguscomte tersebut. Lalu disusul oleh Emil Durkheim, Karl Marx, Max Weber dan lain-lain sebagainya.

Ketika ilmu-ilmu sosial sains berkembang ke arah yang lebih pesat, dan lebih maju lagi. Humaniora (ilmu sejarah), geografi, antropologi, yang paling akhir adalah ilmu ekonomi, dan sebagainya itu, jauh hari sebelumnya sudah lama ada. Lalu dimasukkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu sosial. Dimaksud ilmu paling akhir adalah muncul tahun 1900-an.

Sekarang ilmu sosial sudah berkembang menjadi lebih pesat lagi. Ilmu komunikasi, ilmu manajerial, ilmu hukum dan sebagainya itu adalah kini sudah bisa digabung ke ilmu sosial (IPS).

Sekarang tanyakan pada dirimu sendiri, mana yang lebih baik, pilih masuk jurusan IPA atau masuk jurusan IPS? atau sebenarnya, pertanyaan yang lebih relevan adalah mana yang lebih bisa mengantarkan kita kepada karier yang lebih baik?

Renungkan dan berdo’alah, karena dirimu dan Tuhanmu-lah yang menentukan semuanya...