Ketika lahir di dunia ini kita tidak dapat meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan di keluarga mana atau lahir sebagai apa. Apakah kita ditakdirkan menjadi anak tunggal atau menjadi anak sulung atau menjadi anak tengah atau justru terlahir sebagai anak bungsu.

Dalam lingkungan masyarakat kita, kadang anak tunggal sering digambarkan sebagai sosok yang manja dan egois. Kemudian anak sulung dituntut untuk menjadi anak yang kuat, mandiri, dan harus bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya.

Anak tengah yang sering dianggap sebagai pemberontak dan penenentang. Sedangkan anak bungsu sendiri sering kali dilihat sebagai sosok yang selalu manja, tidak mandiri, dan kadangkala dianggap egois.

Kemudian tercetus pertanyaan dalam benak saya, sebenarnya jika anak tunggal, sulung, tengah dan bungsu dapat bertukar peran, orang-orang akan memilih menempati posisi apa? Saya tanyakan itu kepada teman-teman saya pada suatu siang saat jam istirahat pelajaran berlangsung .

Kebetulan orang-orang yang sedang berdiskusi dengan saya mempunyai peran yang berbeda sebagai anak. Si tunggal menyeletuk, apa pun posisinya, dia akan terima asalkan tidak menjadi anak tunggal.

Lalu saya menanyakan pada dia kenapa tidak memilih untuk tetap menjadi si tunggal. Saya berpikir bahwa menjadi anak tunggal cukup menyenangkan. Dia tidak usah repot-repot berbagi apa pun dengan saudara-saudaranya. Apa pun yang dia inginkan pasti akan selalu dituruti.

Menurutnya, menjadi sosok anak tunggal tidak semenyenangkan apa yang saya bayangkan. Dia tidak bisa leluasa menceritakan masalah keluarga kepada orang lain. 

Menjadi sosok tunggal berarti menjadi sosok satu-satunya yang paling diharapkan oleh orang tua. Ketakuan terbesarnya adalah ketika dia tidak dapat memenuhi ekspektasi orang tuanya..

Kemudian saya beralih pada si sulung. Dia memilih menjadi posisi apa pun kecuali menjadi anak sulung. Lantas saya membatin, bukankah enak menjadi anak sulung. Dia bebas menyuruh adik-adiknya melakukan ini dan itu. Di awal juga pasti merasakan limpahan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya sebelum adik-adiknya lahir.

Dia mengatakan bahwa menjadi sulung tidak sesederhana apa yang saya katakan. Baginya, sosok sulung menjadi pemeran pengganti dari orang tuanya, dia harus menjadi tumpuan besar bagi orang tua dan panutan bagi adik-adiknya meskipun kadang ia merasa belum pantas untuk dijadikan sebagai panutan.

Sulung dituntut menjadi sosok yang tegar dan tangguh. Ia diharapkan bisa menjadi penengah bagi adiknya. Kadang sulung juga sering diminta untuk mengalah pada adik-adiknya.

Beda lagi cerita dari si tengah. Ketika saya bertanya padanya, ia dengan jelas memilih menjadi peran apa pun asal jangan menjadi anak tengah. Padahal menurut saya ia berada di posisi yang menyenangkan karena bisa mempunyai kakak yang akan memanjakannya dan adik yang bisa disuruhnya ini dan itu.

Menurut pandangannya, menjadi anak tengah berarti siap untuk terabaikan. Orang tua kadang fokus memberikan yang terbaik bagi si sulung dan memanjakan si bungsu hingga kadang mereka lupa bahwa mereka juga punya si tengah. Ia sering kali terpaksa mengalah untuk kakak maupun adiknya.

Parahnya, ia sering kali membuat kegaduhan untuk menyadarkan kedua orang tuanya bahwa dia juga masih eksis di dalam keluarga. Semata-mata agar dia juga bisa mendapatkan perhatian yang sama seperti yang didapatkan oleh kakak dan adiknya.

Kemudian saya beralih pada diri saya sendiri sebagai anak bungsu. Orang-orang banyak yang mengingikan posisi ini. Kalau jadi si bungsu berarti selalu dimanja dan paling disayang, baik sama orang tuanya maupun kakak-kakaknya.

Padahal kenyataannya tidak. Selalu menjadi bahan bandingan ketika kakak justru lebih berhasil. Ruang gerak dalam mengekspresikan diri pun terbatasi, selalu harus patuh. Kadang kalau kakak dianggap sudah gagal dalam meraih ekspektasi orang tua, bebannya pindah ke si bungsu dan membuat dia juga menjadi dituntut dewasa sebelum waktunya.

Bungsu akan selalu dianggap “anak kecil” dalam keluarganya, tidak peduli berapa pun usianya. Kadang kala suaranya untuk berpendapat dibatasi karena dia selalu dianggap “kecil”.

Semua perasaan yang dialami oleh saya dan teman-teman saya yang mempunyai peran berbeda membuat saya terbuka akan prespektif baru. Apa pun perannya, entah itu sebagai tunggal, sulung, tengah ataupun bungsu, semua mempunyai suka dukanya sendiri dalam menjalani perannya.

Apalagi peran kita  juga dipengaruhi latar belakang masalah yang berbeda-beda. Hal yang perlu kita sadari adalah kita lahir di dunia ini dengan mengorbankan nyawa orang lain, jadi jangan pernah beranggapan bahwa kita tidak berarti.

Kita harus berusaha untuk menikmati porsi kita sesuai dengan peran masing-masing. Dengan itu kita bisa tetap bersyukur meski kadang hidup terasa tidak adil bagi kita. Kita tidak bisa menuntut kebahagiaan terhadap orang tua karena bahagia itu tanggung jawab masing-masing dan sifatnya personal.

Orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya meskipun sering kali ditunjukkan dengan cara yang keliru. Baik anak maupun orang tua harus saling terbuka dan membuka komunikasi yang baik. Keduanya saling merendahkan ego dan tidak hanya sekadar meminta didengar tapi juga siap untuk mendengarkan orang lain.