Fenomina glowing merupakan wujud dari panggilan kekinian yang sangat sarat terhadap pendisiplinan kecantikan. Beragam cara bisa dilakukan untuk berjodoh dengan popularitas tersebut.

Upaya yang bisa dilakukan tergantung seberapa budget yang ada atau bahkan hanya cukup bermodal nekat untuk terlihat sebagai individu yang berkelas. Nekat karena tidak segan-segan mengambil jalur alternatif untuk pengadaan modal (ngutang). Dengan begitu, individu akan merasa jumawa karena dianggap telah memenuhi syarat untuk berselancar dengan perkembangan zaman.

Kita tahu, secara mayoritas, diferensiasi kelas masyarakat kita masih banyak yang berprofesi sebagai buruh, serta masyarakat agraris dan nelayan. Secara pendapatan juga masih terkesan hanya bisa untuk makan dan membeli kebutuhan sehari-hari, bisa dikatakan sangat jauh dari kata berkecukupan.

Glowing yang ideal sangat sarat dengan perawatan khusus, minimal dijauhkan dari pancaran sinar uva dan uvb. Jika sudah kinclong dan bening, sedikit banyak mereka akan enggan dengan profesi yang ada sebelumnya. Jadi, selain menguras dompet dan kepribadian, virus glowing juga berpotensi untuk menggembalakan kelas bawah sebagai pemalas berjemaah.

Terkait diskursus ini, sangat tidak bijak kiranya jika kita tidak melibatkan akumulasi yang masif dari momok yang biasa kita kenal dengan istilah sistem kapitalisme. Apalagi semenjak era keterbukaan (globalisasi)  perang dagang produk yang diuntungkan dengan laju situasi kekinian, sebut saja digitalisasi yang diamini oleh sebagian oknum milenial yang salah kaprah.

Penetrasi dari laju globalisasi tersebut seakan menyulap manusia untuk menjelma menjadi dua kutub: antara pemenang dan pecundang. Pemenang karena mampu bersaing dengan laju pancaroba. Sedangkan pecundang karena dianggap stagnan dan gagal paham di hadapan manusia dan penguasa.

Dalam masyarakat komsumtif misalkan, orang sulit membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) . Alasan mengapa orang membeli satu produk atau komoditas tertentu bukanlah didasari atas use values (nilai guna), tapi didasarkan pada sign values (nilai tanda) yang diiklankan secara masif lewat media massa. Dengan demikian, mereka membeli komoditas didasarkan pada prestise, bukan berdasar atas kebutuhan sesungguhnya (critical paedagogy).

Sebagai humanisme konservatif maupun  sosialis, kapitalisme memang adalah sarana yang paling ideal untuk kita belajar membenci terhadap korporasi dan oligarki yang ada. Bagaimana tidak, masyarakat yang tadinya sangat enjoy dengan warna kulit masing-masing, seakan tiba-tiba dihadapkan pada pendisiplinan kecantikan yang ditawarkan melalui reklame dan laju media mainstream.

Sangat kentara, selain persoalan akumulasi keuntungan dan ideologi, glowing juga berpotensi menjadi sarana ekspansi terhadap pemicu rasialisme. Sebagai negara dunia ketiga, warga negara Indonesia merupakan sasaran empuk untuk dikiblatkan pada tawaran yang bersifat westernis.

Di sisi lain, khususnya yang belum tercemari trend dan brand make up, ada yang mengatakan: untuk terlihat cantik tidak perlu dengan obsesi yang berlebihan atau bahkan sampai terseret pada dunia selebritas yang sering muncul di channel-channel tv tertentu.

Selaras dengan situasi Internasional, Zozibini Tunzi asal Afrika Selatan dengan penuh integritas dan kecakapannya mampu menjadi wanita nomor 01 pada acara miss universe dan menggeser beberapa kontestan yang dihadiri oleh berbagai delegasi antarnegara pada Minggu, 8 Desember 2019 kemarin lalu.  

Tidak hanya menjadi putri Internasional, wanita asal Afrika Selatan tersebut juga seakan menjadi ikon untuk meretas polemik tentang ukuran cantik yang masih hangat dan akrab dengan kemolekan tubuh rata-rata warga negara Asia. Di kalangan sosialita Indonesia misalnya, sangatlah bertolak belakang terhadap delegasi putri dari Afrika Seltan tersebut.

Ia berkulit hitam legam dan rambut yang bergelombang atau bahkan memasuki kategori keriting. Namun, bisa dikatakan Zozibini Tunzi adalah representasi cantik yang sebenarnya, karena sudah teruji di lensa kamera dan panggung Internasional.

Sungguh ironis, di saat negara maju sudah berlari kencang kepada pencapaian karakter warga dan kualitas bangsa, di negara +62 malah masih mengurusi hal yang remeh-temeh, tak terkecuali persoalan kemolekan fisik dan pilihan brand kosmetik.

Jika referensi ukuran cantik bagi sebagian orang berada pada rating bintang porno, tentu pemenang miss universe tersebut tidak akan mendapatkan sorak-sorai dan tepuk tangan serta mahkota kecantikan. Namun ternyata kemauan mata Internasional untuk ukuran kecantikan tidak dipandang seberapa bening warna kulit kontestan, akan tetapi lebih ditekankan kepada kualitas dan integritas diri.

Walaupun sebagian penganut make-upisme masih tidak mengindahkan keaslian warna kulitnya, disadari atau tidak, Zozibini Tunzi merupakan jalan pintas untuk kita kembali pada keautentikan diri berdasarkan genetik dan kekhasan masing-masing warga negara.