Psikolog Feminis
3 minggu lalu · 443 view · 5 min baca · Filsafat 78402_82993.jpg
Ilustrasi: Michael Gallagher/Pixabay

Pikiran Tak Berjenis Kelamin

François Poulain de La Barre: Ketika Pastor Menjadi Feminis Cartesian

L’esprit n’a pas de sexe, demikian kalimat aslinya. Saya terjemahkan di sini sebagai jiwa/pikiran itu tak berjenis kelamin.

Inilah gagasan terkemuka dari François Poulain de La Barre, pastor yang mengusung ide kesetaraan gender pada masa Louis XV. Ia tercatat sebagai feminis laki-laki pertama dari Prancis sekaligus yang pertama mengembangkan filsafat feminis cartesian. 

Filsafat Feminis Poulain

Dengan menerapkan metode dan pemikiran Descartes, Poulain membangun teorinya tentang kesetaraan gender. Secara sistematis dan rasional, ia memperlihatkan bagaimana dualisme tubuh/jiwa ala Descartes mendukung ide kesetaraan perempuan dan laki-laki. 

Perbedaan anatomi antara laki-laki dan perempuan hanya sebatas pada fungsi reproduktif. Perbedaan ini tidak mencapai bagian lain dari tubuh, terutama otak, indra, lengan, dan tungkai. 

Jiwa/pikiran tidak mengenal jenis kelamin, tegasnya. Perempuan sama cakapnya dengan laki-laki dalam berpikir, bernalar, dan bertindak, untuk dirinya sendiri dan dalam lingkungan sosialnya. 

Poulain sebagai Cartesian menolak asumsi bahwa inferioritas perempuan adalah kodrat. Realitas status perempuan dalam masyarakat tidak dapat dijelaskan dengan mengacu kepada kodrat. 

Kita tidak dapat mengenal secara langsung yang dinamakan dengan kodrat. Kita mengenalnya secara tidak langsung, dengan melihat atribut-atributnya. Oleh sebab itu, kita tidak akan mengalami kemajuan berpikir jika menjelaskan sesuatu dengan kodrat. 


Perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang dapat kita amati dalam masyarakat saat ini bukanlah kodrat, tetapi kultural, tegasnya. Meski bukan yang pertama dalam sejarah yang mencetuskan ide ini (sebelumnya sudah ada Christine de Pizan dan Marie de Gournay), baru Poulain yang mengembangkan gagasannya secara konseptual. 

Keunikan Poulain lainnya adalah ia tidak menggunakan kitab suci dan teori-teori filsafat sebagai rujukan sebagaimana yang dilakukan pemikir-pemikir pada zamannya. Ia melakukan penalaran berdasarkan bukti-bukti pengalaman nyata, ala Cartesian. 

Ia juga mengidentifikasi adat/tradisi sebagai salah satu sumber utama pandangan yang bias terhadap perempuan. Demikian pula dengan kepentingan pribadi laki-laki yang menurutnya sangat memengaruhi pandangan laki-laki terhadap perempuan.

“Semua yang ditulis oleh laki-laki mengenai perempuan harus dicurigai, karena biasanya menghakimi dan berpihak,” demikian salah satu perkataannya yang dikutip Simone de Beauvoir dalam bukunya Le deuxième sexe

Siapa laki-laki ini, yang mengambil jarak dari maskulinitasnya sendiri, untuk memiliki jiwa/pikiran yang tak berjenis kelamin, untuk menjadi filsuf rasional yang mengusung kesetaraan radikal antara perempuan dan laki-laki?

Sekilas Kehidupan Poulain 

Poulain lahir di Paris pada tahun 1647. Ia menempuh pendidikan seni di Sorbonne dan meraih gelar master pada tahun 1663. Ia menyelesaikan studi teologi di universitas yang sama tiga tahun kemudian. Tahun berikutnya, ia ditempatkan sebagai pastor di sebuah paroki di Laon. 

Tahun 1667, ia menghadiri sebuah konferensi filsafat Cartesian. Inilah awal perkenalannya dengan Cartesianisme yang mengubah hidupnya. Iman Katolik dalam dirinya ditundukkan oleh penalaran Descartes, meski ia tetap melayani umat sebagai pastor. 

Baru pada tahun 1688, ia meninggalkan paroki (saat itu ia ditempatkan di Picardie) dan beralih memeluk Kristen Protestan. Ia melarikan diri ke Jenewa untuk menghindari murka gereja. 

Di Jenewa, ia menemukan Marie Ravier, pasangan hidupnya. Ia bekerja sebagai pengajar bahasa Prancis untuk penduduk di daerah tempat tinggalnya. Baru pada tahun 1702, ia mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah kampus. Ia meninggal dunia pada tahun 1723. 


Karya-karya Poulain

Tiga karya feminis ditulis Poulain saat ia masih menjadi pastor. De l'Égalité des Deux Sexes: Discours physique et moral où l'on voit l'importance de se défaire des préjugés (Wacana fisik dan moral mengenai kesetaraan gender, yang menunjukkan pentingnya membebaskan diri dari prasangka-prasangka) adalah karya pertamanya (1673). 

Buku keduanya berjudul De l'éducation des dames pour la conduite de l'esprit, dans les sciences et dans les moeurs: Entretiens (1674). Dalam buku ini, Poulain mengulas pentingnya pendidikan yang sesungguhnya untuk perempuan. 

Karyanya yang ketiga, De l'excellence des hommes, contre l'égalité des sexes (Keunggulan laki-laki, menentang kesetaraan gender), terbit tahun 1675. Buku ini menimbulkan kontroversi. Poulain seperti menentang gagasan-gagasan sebelumnya dengan membela pandangan-pandangan seksis. 

Ketiga buku ini awalnya diterbitkan anonim. Poulain khawatir pemikirannya tidak dapat diterima masyarakat. Apalagi jika diketahui bahwa laki-laki yang menulis. Pada zaman itu, seperti yang ia katakan, ketika laki-laki membela atau berbicara hal positif tentang perempuan, selalu dicurigai sebagai cinta (ketertarikan) atau bentuk kesopanan. 

Benar saja, karya-karyanya tidak mendapat perhatian, tenggelam dalam wacana hukum, moral, teologi, dan medis bahwa perempuan lebih mirip ‘binatang’ (reproduksi), tidak mampu bernalar, terlalu sentimental, licik, penggoda, dan berbahaya. 

Buku-buku Poulain diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Italia. Hanya di Inggris, ide-idenya disambut positif. Sayangnya hingga abad 19, mereka mengutip tulisan Poulain tanpa pernah menyebutkan namanya. Poulain pun tidak dikenal, tidak di Inggris, tidak pula di negeri kelahirannya. 

Pada awal abad 20, Henri Grappin menulis artikel khusus mengenai Poulain sebagai feminis yang terlupakan. Pada tahun 1949, Simone de Beauvoir mengutipnya dalam Le deuxième sexe. Namun nama Poulain tetap terkubur. 

Baru beberapa tahun terakhir ini nama Poulain diperbincangkan secara positif. Adalah Marie-Frederique Pellegrin, dosen filsafat di Universitas Lyon, yang menyebarluaskan pemikiran-pemikiran Poulain. Ia juga menulis tanggapan kritik terhadap buku Poulain yang ketiga agar pembaca dapat memahami pemikirannya secara akurat. 

Kesetaraan Gender Bukan Feminisasi: Perlunya Dekonstruksi dan Rekonstruksi Nilai-nilai Feminin dan Maskulin 


Sebagai Cartesian, Poulain menyadari bahwa sebagian besar keyakinan umum hanyalah prasangka; tidak benar-benar demikian adanya. Tetapi manusia tidak pernah mempertanyakan prasangkanya. 

Poulain sendiri jadi bertanya-tanya: Apakah benar kemampuan alami perempuan lebih rendah dari laki-laki atau ini hanya sekadar prasangka? Inilah pertanyaan yang mengantarkan Poulain untuk mengonseptualisasikan idenya tentang kesetaraan gender. 

Dalam upaya membangun konsepnya, Poulain melawan prasangka terhadap perempuan, prasangka yang menurutnya paling kuat berakar dalam masyarakat. Untuk itu, ia mendekonstruksi prasangka, mengupasnya, menelaahnya. Ia mengidentifikasi mekanisme-mekanismenya, berdasarkan sejarah teks dan situasi aktual pada zamannya. 

Ia menyimpulkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kecakapan, kesempurnaan, dan keluhuran yang sama. Perempuan, secara fisik dan mental, sama mampunya dengan laki-laki untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini hanya boleh dilakukan dengan laki-laki. 

Perempuan dapat dan mampu menduduki posisi-posisi kepemimpinan yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Posisi puncak dalam hierarki gereja semestinya terbuka untuk perempuan, demikian tegas Poulain. 

Poulain tidak hendak mempraktikkan filogini (penghargaan, cinta, dan kekaguman berlebihan terhadap perempuan) sebagaimana kritik yang ditujukan kepadanya. Ia tidak bermaksud melakukan “pembalikan” dengan menunjukkan superioritas perempuan untuk melawan misogini. 

Menurutnya, kesetaraan bukan berarti melakukan efféminement yang melibatkan ide feminisasi. Kesetaraan gender tidak akan dicapai dengan menganggap bahwa nilai-nilai feminin yang ada pada saat ini (yang juga adalah hasil bentukan budaya) sebagai superior, dan menuntut laki-laki menampilkan nilai-nilai feminin ini. 

Ia menawarkan konsep baru yang dinamakan Pellegrin (2017) sebagai effeminage untuk menciptakan kesetaraan yang sejati antara laki-laki dan perempuan. Nilai-nilai feminin dan maskulin, menurut Poulain, harus didekonstruksi sebelum akhirnya dapat direkonstruksi. 

Demikian sedikit yang dapat saya tulis untuk memperkenalkan pemikiran luar biasa dari seorang laki-laki feminis yang hidup pada abad 17 dan yang teorinya masih aktual hingga saat ini.

Artikel Terkait