Banyak ibu menyusui yang memiliki masalah dengan produksi ASInya. Para ibu beranggapan bahwa ASI dapat digantikan dengan susu formula karena ASInya tidak lancar. Bagaimanakah menanggapi hal tersebut? Lalu adakah cara untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui?

ASI merupakan hal yang penting bagi bayi baru lahir. Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI ekslusif, menjelaskan bahwa setiap bayi harus diberikan ASI eksklusif, yaitu ASI yang diberikan kepada bayi sejak lahir selama 6 bulan, tanpa mendapatkan makanan pendamping.

World Health Organization (WHO) dan UNICEF, mengatakan skala ASI ekslusif bayi usia di bawah 6 bulan adalah 41% dan ditargetkan mencapai 70% pada tahun 2030. Menuruh WHO (2014), pemberian ASI ekslusif dapat mencegah 823.000 kematian anak setiap tahunnya.

ASI memiliki manfaat untuk ketahanan tubuh bayi sebab mengandung zat antibodi. Namun, sering kali masalah datang saat menyusui sehingga menyulitkan prosesnya. Masalah yang sering dijumpai adalah ASI yang tidak keluar atau hanya mengeluarkan sedikit ASI, sehingga kebutuhan bayi tidak dapat terpenuhi.

Berdasarkan hasil Riskesdas, pemberian ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan hanya 40,6%, terpaut jauh dari target nasional yang mencapai 80%. Produksi ASI yang tidak tercukupi menjadi salah satu alasan para ibu memilih susu formula untuk memenuhi kebutuhan bayinya.

Menurut Selasi (2009), bayi yang diberi susu formula memiliki resiko kematian 25 kali lebih tinggi di bulan pertama setelah kelahirannya dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Hal tersebut terjadi karena susu formula tidak memiliki kandungan zat antibodi seperti pada ASI eksklusif, sehingga bayi lebih rentan sakit.

Kurangnya produksi ASI pada ibu menyusui terjadi karena hormon oksitosin yang diproduksi oleh tubuh kurang maksimal. Secara alamiah, rangsangan  dari isapan bayi dapat diteruskan menuju hipotalamus untuk menstimulasi produksi oksitosin. Cara lain yang dapat dilakukan ibu untuk meningkatkan produksi oksitosin adalah dengan melakukan pijat oksitosin.

Pijat oksitosin adalah tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari nervus kelima, keenam, sampai tulang belikat. Pijat oksitosin dapat mempercepat kerja syaraf parasimpatis agar menyampaikan perintah otak bagian belakang sehingga oksitosin keluar. Pijat oksitosin ini merupakan terapi relaksasi yang dapat merangsang refleks oksitosin.

Efek pijat oksitosin adalah sel kelenjar payudara mengeluarkan ASI dan memungkinkan bayi mendapatkan ASI sesuai kebutuhan. Pijatan ini akan memberikan rasa nyaman dan rileks pada ibu setelah mengalami proses persalinan sehingga tidak menganggu sekresi hormon prolaktin dan oksitosin.

Selain memberikan rasa nyaman, pijat oksitosin ini bermanfaat untuk mengurangi bengkak pada payudara, mengurangi sumbatan ASI dan mempertahankan produksi ASI saat ibu dan bayi sakit.

Pijat oksitosin ini dapat dilakukan secepatnya setelah ibu melahirkan bayinya dengan durasi 2-3 menit, frekuensi pemberian pijatan 2 kali sehari. Pijatan ini tidak harus dilakukan langsung oleh petugas kesehatan tetapi dapat dilakukan oleh suami atau anggota keluarga yang lain di rumah.

Cara melakukan pijat okstosin dengan bantuan keluarga, yaitu 1) posisikan tubuh senyaman mungkin, 2) memberikan pijatan pada sisi tulang belakang dengan kepalan tangan, 3) memijat kuat dengan gerakan melingkar, 4) memijat kembali ke bawah sampai dada, mulai dari leher sampai ke tulang belikat, dan 5) lakukan berulang sekitar 3 menit.

Setelah melakukan pijat oksitosin, ibu akan merasakan efek fisiologis sebagai tanda bahwa oksitosin mulai terangsang. Efek yang dirasakan diantaranya yaitu sensasi kesemutan sekitar payudara, kram pada uterus (rahim) saat menyusui, bayi minum ASI lebih banyak saat menyusu langsung, dan ASI merembes saat tidak menyusui.

Untuk mengantisipasi permasalahan pada produksi ASI, sebaiknya ibu menyusui dan memompa ASI lebih sering, mengompres dan memijat payudara, memperhatikan perlekatan bayi saat menyusu, melakukan variasi posisi menyusui, mencukupi kebutuhan cairan, dan menghindari stres.

Ibu juga dianjurkan untuk menjaga asupan nutrisi yang seimbang, memperbanyak konsumsi sayuran, menyusui bayi secara teratur, istirahat yang cukup serta mendapatkan dukungan dari suami dan keluarga untuk meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI.

Banyak masyarakat yang belum mengerti dan memahami cara untuk mengatasi permasalahan tentang produksi ASI. Hal tersebut mencerminkan kurangnya edukasi kepada para ibu, sehingga banyak bayi yang kurang mendapatkan ASI.

Manfaat topik ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar mengetahui pijat oksitosin, manfaat, dan cara melakukan pijat oksitosin. Dari topik ini ibu dapat mengetahui hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI, sehingga  ibu dapat menyelesaikan permasalahannya.

Permasalahan produksi ASI sangatlah sering terjadi pada ibu yang baru saja melakukan persalinan. Tips dan trik untuk ibu menyusui adalah dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menghindari pekerjaan berat, istirahat yang cukup, tidak merokok dan menjauhan diri dari asap rokok.

Dengan mengetahui dan mempelajari pijat oksitosin, diharapkan ibu dan keluarga dapat sesegera mungkin mengatasi masalah produksi ASI seperti, sumbatan ASI dan payudara yang membengkak. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan ibu dan bayi agar tidak mengalami masalah produksi ASI.



Daftar Pustaka

Ummah, F. (2014). Pijat oksitosin untuk mempercepat pengeluaran ASI pada ibu pasca salin normal di Dusun Sono Desa Ketanen Kecamatan Panceng Gresik. Jurnal Surya, 2(18), 121-125.

Asih, Y. (2018). Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap Produksi ASI pada Ibu Nifas. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 13(2), 209-214.

Hanum, S. M. F., & Purwanti, Y. (2016). Efektivitas pijat oksitosin terhadap produksi asi. Jurnal Kebidanan Midwiferia, 1(1), 1-7.

Nufus, H. (2019). Efektivitas Pijat Oksitosin Terhadap Produksi Asi. Jurnal Borneo Cendekia, 3(2), 223-227.

Apreliasari, H., & Risnawati, R. (2020). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Peningkatan Produksi ASI. Jurnal Ilmiah Kesehatan Ar-Rum Salatiga, 5(1), 48-52.