Pandangan strukturalisme yang mengabaikan manusia sebagai pelaku kebudayaan bisa dikatakan sebagai kebutaan yang disadari oleh Pierre Bourdieu. Menurutnya, kebudayaan bergerak tidak hanya ditentukan oleh sistem makna dan struktur sosial yang mapan, melainkan juga terdapat peran individu di dalam kebudayaan.

Peran individu yang dimaksud bukan peran seperti yang dikatakan humanisme, melainkan peran yang sesuai dengan subjektivitas masing-masing manusia. Ia menyadari bahwa peran manusia tidak bisa dinafikan walaupun terbatas.

Dengan kata lain, Pierre Bourdieu adalah orang yang  dalam perjalanan filsafatnya melaju di antara dua jalan yang berbeda. Hubungan rumit antara subjektivisme dan objektivisme diubah menjadi hubungan romantis di alam pikirannya. Menurut Bourdieu, pengamatan dalam dunia sosial tidak bisa dilakukan jika kita mengabaikan salah satu di antara struktur sosial dan individu.

Dari sanalah muncul pandangan bahwa di dalam praktik sosial selalu terdapat dialektika antara struktur luar dan manusia dengan habitusnya. Di dalam proses komunikasi akan muncul bahasa atau wacana yang digunakan manusia untuk menuju saling paham. Terjadilah penggambaran apa yang dilihat dan didengar (struktur luar) menjadi wacana dan bahasa sejalan dengan habitusnya. 

Habitus sendiri adalah kecenderungan dan kebiasan manusia dalam memahami, berkata, dan bertindak, sehingga seperti pembimbing manusia dalam menjalankan kehidupan. Pengalaman  personal, yaitu keterlibatan manusia dalam dunia sosial, adalah penyebab habitus terbentuk.

Karena masing-masing manusia memiliki pengalaman sosial yang berbeda, maka habitus yang dihasilkan tentu berbeda. Habitus bisa dipahami sebagai hasil dari proses kondisi sosial yang diresapi dan diwujudkan.

Habitus mungkin bisa bertahan lama, tapi tidak selamanya. Hal ini karena manusia tidak selalu berada dalam dunia sosial dengan struktur dan wacana yang sejalan. Ada kemungkinan manusia menerima wacana yang berbeda untuk habitus mengalami perubahan yang dialektis.

Seperti yang dijelaskan di atas, manusia dalam berkomunikasi tidak bisa terlepas dari wacana. Wacana yang akan didengar atau dibaca sesuai dengan subjektivitas penggunanya. Tujuannya agar memperoleh persetujuan dan pemahaman sesuai yang diinginkan. Komunikasi bisa dipahami sebagai proses manusia saling memengaruhi satu sama lain.

Proses tersebut kadang kala bisa dikatakan sebagai pertarungan wacana. Bourdieu menunjukan bahwa wacana merupakan bagian aktivitas sebagian manusia mendominasi yang lain. Artinya, mereka yang memiliki modal linguistik yang lebih besar dapat mendominasi mereka yang mempunyai modal yang lebih sedikit.

Pertarungan ini berlangsung dalam ranah. Ranah yang dimaksud adalah bagian-bagian dari dunia sosial yang terstruktur dan secara tidak sadar mengatur manusia. Di dalamnya terdapat perjuangan manusia untuk merebut dan mempertahankan posisi atau kekuasaan.

Supaya bisa terlibat di ranah pertarungan, manusia harus memiliki modal. Modal yang dimaksud bukan hanya ekonomi sebagaimana pemahaman marxis, melainkan juga termasuk modal budaya dan sosial. Dengan ketiga modal tersebut, manusia dapat memperoleh modal simbolik dan mengoperasikannya.

Melalui modal budaya dan modal lainnya, manusia membentuk wacana yang membuat ia menuai posisi dan kekuasaan, sekaligus merangsang ranah untuk berubah. Ketika sebuah wacana menjadi dominan, maka ia memiliki kemampuan untuk mendefinisikan yang lain. Pendek kata, sebuah wacana memiliki pengaruh besar untuk tatanan, selain memberikan kekuasaan pada pelakunya. 

Dunia wacana yang mendominasi kita disebut Bourdieu sebagai doxa. Doxa dapat dikatakan sebagai semesta makna atau kesadaran kolektif yang diterima dan tidak dipertanyakan lagi. Dominasinya bekerja dengan halus, tanpa disadari. Ia mirip seperti ideologi yang menguasai dan masuk dalam kebiasaan manusia.

Wacana yang menentang doxa dapat disebut sebagai haterodoxa. Biasanya haterodoxa berada di tengah kelompok yang mempertanyakan, sekaligus bertujuan melenyapkan wacana yang sudah mapan. Wacana ini tidak bisa menjadi wacana yang dominan apabila kelompoknya tidak memiliki modal yang memadai.

Selain haterodoxa, ada juga wacana pnedukung doxa yang Bourdieu sebut sebagai orthodoxa. Wacana ini bisa dipahami sebagai upaya pertahanan dan pelestarian doxa dengan cara membungkam haterodoxa. Mereka yang ada di orthodoxa juga bertujuan untuk mempertahankan status quo atau posisi mereka. Akhirnya, di tengah doxa, bertarunglah berbagai wacana dan kelompoknya.

Pada masa Orba, misalnya. Saat itu, pemerintah Orba sangat gencar mempromosikan Pancasila sebagai landasan dan penggerak bangsa. Dengan modal yang besar, mereka berhasil membangun wacana kemurnian Pancasila versinya.

Tindakan mereka juga dianggap konsisten dengan Pancasila oleh sebagian besar orang Indonesia saat itu. Tidak heran apabila Orba dapat mendominasi, bahkan sebagian orang masih menerima sejarah versi Orba.

Selang beberapa lama setelah keruntuhan partai komunisme, muncul haterodoxa lain. Kelompok yang menawarkan wacana ini bersembunyi saat menyebarkan pendapat mereka, karena memiliki modal yang belum memadai. Ketika Orde Baru pecah, kelompok itu muncul dan mengeluarkan wacana untuk meruntuhkan Orba.

Dominasi wacana juga dapat membuat makna baru untuk sebuah kata. Hal ini terjadi di tengah masyarakat Indonesia belakangan ini. Kata “radikal" dan "radikalisme” disamakan dengan fanatisme agama dan intoleran oleh pemerintah. Pertarungan wacana juga berlangsung, karena terdapat mereka yang tidak setuju dengan makna itu, sekaligus menawarkan pengertian yang berbeda.

Pertarungan wacana tentu juga berlangsung dalam proses akademis. Para mahasiswa dan dosen mengeluarkan wacana guna mendukung subjektivitas mereka. Jika salah satu dari mereka berhasil, maka ia bisa mendapatkan posisi yang berpengaruh.

Bagi saya, mungkin proses menguasai dalam penggunaan wacana sebenarnya tidak harus dipandang buruk. Seorang guru atau ustaz bisa saja menggunakan wacana untuk menasihati muridnya dengan maksud yang baik. Singkatnya, proses tersebut bisa berdampak baik karena membantu kita memperbarui habitus.

Namun, kita juga harus ingat bahwa wacana juga memberikan posisi bagi penggunanya. Jika wacana yang digunakan dianggap benar dan menuai praktis dalam hidup, kita berpotensi mengagungkan sumber wacana itu seperti nabi. Oleh karena itu, kita harus tetap waspada.

Selain itu, kita juga harus waspada karena wacana yang disebarkan dapat bertentangan dengan realitas. Seseorang bisa secara persuasif menyebut dirinya sebagai orang yang demokratis, tetapi tindakannya justru mencerminkan fasisme tanpa kita sadari. Yang ingin saya sampaikan bahwa pertarungan wacana juga mampu memisahkan kita dari realitas.

Piere memang tidak hanya memberitahu mengenai pertarungan menggunakan wacana di tengah masyarakat, tetapi juga memberitahu kita tentang kompetisi masyarakat melalui gaya hidup. Menurutnya, masing-masing pelaku di dalam masyarakat menunjukan cara hidup dan konsumsi simbolik berbeda. Kelas bawah yang menyetujui dan memandang bagus gaya hidup kelas atas, tetapi tidak mampu mengikutinya, sebenarnya mengalami kekerasan simbolik.

Hanya saja, dalam tulisan ini, saya fokus pada pertarungan wacana. Jika pembaca setuju bahwa kita sedang bertarung mengggunakan wacana untuk memengaruhi satu sama lain, maka saya telah berhasil. Artinya, saya telah berhasil mengoperasikan modal budaya saya yang menguasai Anda.