2 tahun lalu · 1357 view · 7 menit baca · Politik 97011.jpg

Pidato Kebangsaan Anies dan Pengakuan Seorang Temannya

Senin, 3 April 2017, Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan berkesempatan menyampaikan Pidato Kebangsaan-nya bertajuk “Persatuan Indonesia”.

Dalam pidato tersebut, sebagaimana tema yang diusung, Anies banyak bicara tentang upaya dirinya bersama Sandiaga Salahuddin Uno merajut tenun kebangsaan, yang akan dimulainya dari Jakarta untuk Indonesia. Dan hal tersebut akan diupayakan dalam 5 tahun ke depan jika pasangan calon ini benar-benar terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2017 – 2022.

“Kita sedang bicara Jakarta, kita bicara Ibukota, tapi apa yang terjadi di Jakarta berpengaruh pada nasional. Insyaallah kita selamatkan Jakarta dan kita menyelamatkan Indonesia,” seru Anies dalam pembukaan pidatonya.

Selebihnya, Anies bicara tentang potret kemiskinan di Jakarta. Bahwa di Jakarta yang 70% perekonomian terkonsentrasi, justru menjadi tempat ketimpangan. Kemiskinan di tempat ini adalah kemiskinan dengan kesempitan, kemiskinan dengan polusi tinggi, kemiskinan dengan tak kepastian pekerjaan, kemiskinan dalam ketimpangan, kemiskinan dalam kesendirian.

Dan ini bukan barang baru menurut Anies. Jakarta tahun 70-an, katanya, ada pameo yang mengatakan bahwa ibukota kadang lebih kejam daripada ibu tiri. Dan sekarang, Jakarta masih keras. Jakarta masih menjadi tempat ketimpangan.

Di wilayah pendidikan, Anies mengklaim bahwa Jakarta punya angka pendidikan 60%, lebih rendah daripada Kabupaten Sorong yang mencapai angka 63%. Itu artinya bahwa 40% anak di Jakarta tidak sekolah/disekolahkan.

Adapun soal pengangguran (pengangguran terbuka), lebih dari 500 ribu orang warga Jakarta tidak punya pekerjaan alias menganggur. Kesenjangan pun, kata Anies, menjadi masalah utama. Orang miskin meningkat meskipun persentasenya menurun.

Ini, lanjut Anies, merupakan problem menahun yang selama ini tidak mendapat perhatian khusus. Karena yang diperhatikan pemerintah hari ini (Ahok) hanyalah pembangunan infrastruktur, pembangunan yang sifatnya benda-benda mati, tidak fokus pada pembangunan manusianya. Padahal, kata Anies, keadilan adalah untuk manusianya. Keadilan untuk masyarakatnya.

Jadi, bagi Anies, ketika kita berbicara tentang Jakarta, bicara tentang keadilan, maka di sinilah bicara persatuan menjadi penting. Bahwa di Jakarta, meski ada ‘kebersamaan’, tetapi tidak ada ‘persatuan’. Persatuannya belum ada. Lantas, bagaimana itu harus dihadirkan?

Pada titik ini pulalah Anies menyinggung bahwa kebhinekaan itu adalah fakta, kemerdekaan adalah fakta, karena itu tidak usah diperjuangkan. Sebagai fakta, ia hanya harus diterima bukan diperjuangkan. Jadi, terangnya, ada kekeliruan konseptual jika ada yang mengatakan memperjuangkan.

Respon Monib

Atas pidato Anies yang menggebu-gebu itu, salah seorang teman Anies bernama Mohammad Monib, tertarik memberikan tanggapan. Beberapa poin yang ditanggapi, seperti soal pendidikan, kaitannya dengan integritas dan keteladanan; soal persatuan Indonesia; konsep kebangsaan; dan citra Anies yang gemar melakukan bullying.

Menurut Sekretaris Yayasan Nurcholish Madjid Society ini, sejumlah poin yang disampaikan Anies dalam pidatonya tersebut hanyalah retorika-retorika yang penuh dengan bualan-bualan.

“Pidato yang katanya pidato kebangsaan itu pada dasarnya tak lebih dari retorika-retorika, bualan-bualan yang memang menjadi ciri khas teman lama saya saudara Anies Baswedan,” ujar Monib dalam keterangannya yang diviralkan melalui jejaring sosial Youtube, Selasa, 4 April 2017.

Melanggar Komitmen

Secara gagasan, Monib memang mengakui bahwa penekanan Anies tentang pendidikan sangatlah menarik. Ia setuju betapa pentingnya bahasan terkait itu. Hanya saja, menurutnya, yang lebih utama adalah keteladanan.

Sebagai teman Anies saat masih di Paramadina dulu—Anies kala itu menjabat sebagai Rektor Paramadina, tentang keteladanan (dalam hal ini tentang integritas) itu tidak ia temukan di diri Anies selaku pimpinan. Inilah yang menjadi alasan Monib mengapa dirinya memilih untuk tidak mendukung Anies dalam Pilkada DKI di mana ia maju sebagai penantang sang petahana Ahok-Djarot.

Monib mengaku bahwa Anies sama sekali melanggar komitmen tentang integritas, yakni komitmen yang mereka (Monib dan Anies) sepakati soal good governance dan anti-KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Ya, Anies berkomitmen untuk menegakkan good governance dan anti-KKN, tetapi justru dia sendiri peletak koncoisme, peletak KKN di Paramadina dengan membawa teman-temannya (mulai dari) Pembantu Rektor 1, 3, dan (sampai) Kepala Biro. Hal inilah, bagi Monib, merupakan pelanggaran komitmen yang sangat mengecewakan lagi tragis mengingat Anies sering bicara tentang pentingnya integritas, tetapi ia sendiri yang justru tidak punya integritas sebagai seorang pemimpin.

Atas hal itu pula mengapa Monib mengatakan bahwa konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Anies adalah konsep yang penuh dengan bualan-bualan semata. Bukankah pelanggaran komitmen (integritas) merupakan pelanggaran tentang akhlaq? Dan akhlaq ini, terutama integritas, adalah titik penekanan ajaran-ajaran dalam pendidikan, terutama dalam pendidikan Islam yang juga sering diujarkan Anies saat di Paramadina dulu.

Maka tak salah jika kuat dugaan bahwa Anies merupakan contoh orang munafik sebagaimana Rasulullah pernah katakan: bila berjanji ia khianat, bila berkata ia berbohong. Inilah tanda dari orang-orang munafik!

Anies Abai

Tema pidato kebangsaan Anies, yakni persatuan, adalah bahasan utama yang menjadi catatan dari Monib teman Anies itu.

Adalah nonsense dan bullshit ketika Anies bicara tentang persatuan di mana para fans, pendukung, supporter, dan simpatisannya jutru melakukan hal yang sebaliknya. Katanya sih ingin bersatu, tapi kok yang tampak adalah upaya pemecah-belahan? Di mana persatuannya?

Monib mencontohkan bagaimana pendukung Anies yang sama sekali melanggar kata-kata dari junjungannya sendiri. Lihatlah ketika ada warga (muslim) Jakarta yang wafat (meninggal dunia), yang kebetulan memilih mendukung Ahok atas kesadaran amal perbuatan Ahok dalam membenahi Jakarta, yang kemudian menyerukan bahwa yang bersangkutan adalah kafir, tidak boleh dishalatkan. Hal ini jelas sebagai bentuk pelanggaran komitmen yang Anies sendiri sampaikan tentang persatuan.

Hal lain yang juga menjadi catatan adalah ketika Anies berbicara bahwa di Jakarta, di bawah kepemimpinan Ahok, sama sekali tak ada perubahan. Terang bahwa Anies mengabaikan fakta dan data yang memperlihatkan bahwa sekitar 70% warga Jakarta puas dengan kinerja perubahan yang dilakukan Ahok. Artinya, Jakarta berubah, Jakarta berkembang, Jakarta diperbaiki. Itu diakui oleh banyak orang.

Tapi mengapa Anies tidak mengakui hal tersebut, yang justru beralih untuk melakukan bullying terhadap Pemerintah DKI hari ini? Kata Monib, itu bawaan oroknya yang memang doyan mem-bully.

Ya, terlepas dari belum selesainya, belum tuntasnya upaya perbaikan ini, tetapi menafikkan, mengabaikan apa yang riil dirasakan oleh warga, sama saja dengan mengabaikan perasaan-perasaan mereka, angka-angka, fakta-fakta sosial ekonomi yang berkembang baik di Jakarta di bawah kepemimpinan Ahok selama ini. Anies abai.

Menyeru Persatuan atau Perpecahan?

Terkait dengan konsep kebangsaan yang diserukan Anies, Monib menegaskan bahwa mau tidak mau, kita harus percaya bahwa teologi yang paling tepat untuk merangkum, mengayomi bangsa ini, bukan teologi yang diusung oleh kelompok pendukung Anies, yakni paham yang radikalistik, puritan, yang bahkan berbau “wahabi”. Itu tidak tepat ketika kita berbicara dalam konteks kebangsaan Indonesia.

Karena bangsa ini ditakdirkan sebagai bangsa yang plural, penuh nilai-nilai keragaman yang dikenal dengan bhinneka tunggal ika, maka yang tepat adalah teologi yang diusung dan dikembangkan oleh Nadhlatul Ulama. Apa itu? Yakni Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Jelas, tak mungkin kita bisa mengayomi, membangun keharmonisan, sebagaimana Anies tekankan dalam pidatonya, jika kita sendiri gemar memfitnah, mengkafirkan yang lain karena perbedaan pilihan politik. Itu tidak mungkin kecuali yang melakukannya memang tidak memahami makna persatuan itu sendiri. Dan apakah Anies termasuk orang yang tidak paham konsep persatuan padahal ia sendiri yang banyak bicara tentang persatuan?

Sulit memang menjadikan Anies sebagai suri tauladan (pemimpin) bagi Jakarta. Selain retorika-retorikanya yang penuh bualan, ia juga secara nyata didukung oleh partai yang dikenal mengusung “manifesto purifikasi”—sebuah pemurnian yang sangat saklek ala kaum Wahabi.

Lantas, untuk apa berbicara tentang persatuan kalau kita sendiri tiap hari ngomong tentang bid’ah, kafir, munafik kepada mereka yang berbeda? Inilah yang disebut dengan persatuan? Lagi-lagi nonsens berbicara persatuan tanpa menghormati tradisi-tradisi lokal, budaya-budaya keislaman yang sudah berkembang luas di masyarakat kita.

Melihat gelagak Anies yang demikian, sebagai teman, Monib menyerukan untuk senantiasa memaknai dakwa sebagai upaya merangkul bukan memukul. Bahwa dakwah yang baik itu adalah menyampaikan dan mengajak, tidak lebih.

Tetapi kalau penuh dengan caci maki, bahasa-bahasa kasar terhadap tradisi-tradisi lokal, tradisi-tradisi keislaman yang sudah lama berkembang di masyarakat negeri ini, maka itu sama saja dengan merusak persatuan bangsa Indonesia sendiri.

Lucu? Tentu Anies terlihat lucu. Ia bicara tentang persatuan, berpidato tentang kebangsaan, tetapi menggunakan jargon-jargon purifikasi, menyerang, mem-bully, agresif. Hal itu sangat terlihat dalam debat-debat yang sudah berlangsung beberapa kali antara Anies dan Ahok sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta. Di situ terlihat bagaimana ekspresi Anies mengabaikan persatuan yang dalam pidatonya sendiri ia coba yakinkan. Benar-benar nonsens.

Memang, sulit memang menjadi tokoh apalagi suri tauladan. Anies belum bisa, bahkan mungkin tidak bisa, menjadi seperti itu. Ia hanya pandai beretorika di mana kemampuannya tersebut lebih tepat sebagai seorang motivator. Dengan kata lain, Anies tidak tepat jika ia harus dipilih sebagai pemimpin Jakarta.

Sebagai jantung dan wajah Indonesia, Jakarta harus ditampilkan beradab, heterogen, mengusung asas bhinneka tunggal ika. Jakarta tidak boleh memberikan ruang kepada orang-orang, kelompok-kelompok, partai-partai yang mengusung jargon purifikasi, fasis, yang penuh nafsu untuk melibas kebersamaan, persatuan, anti-Pancasila, yang ingin menegakkan Jakarta bersyariah.

Begitulah respon (pengakuan) Mohammad Monib selaku teman Anies terhadap dan tentang Anies. Selebihnya, terserah pada pembaca Qureta mau menilai Anies seperti apa. Saya sendiri menyatakan sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Monib tentang Anies di atas, terutama tentang para pendukungnya yang sama sekali tidak mencerminkan budaya kebangsaan Indonesia: bhinneka tunggal ika.