Tidak ada aktivitas seksualitas yang lembut. Semuanya memerlukan kekerasan. 

Kontrol seksualitas pada anatomi tubuh dan sistem saraf manusia pada dasarnya dikelola oleh otot lurik yang sangat susah dikendalikan. Maka dari itu, untuk melakukan tindak seksualitas diperlukan rangsang yang bisa dibilang cukup keras untuk membebaskan dari kontrol otot lurik dengan cara-cara unik, mulai dari menggosok,menusuk, mencolek, mencubit, menepuk, hingga menggigit.

Aktivitas seksual terjadi karena adanya rangsangan. Ketika tubuh menerima rangsangan seksual, baik melalui penglihatan, perabaan, penciuman, fantasi, dan sebagainya, maka penerima stimulasi seksual akan segera bereaksi dan mengirim pesan kepada sistem saraf yang dilanjutkan ke otak yang kemudian turun ke bawah melalui medulla spinalis (sumsum tulang belakang).

Selanjutnya, ia akan melewati saraf otonom diteruskan ke jaringan-jaringan erektil yang berakhir mengeras. Sistem otot ini tidak menurut perintah otak, tapi terjadi di luar kesadaran otak (refleks). Hal Itulah yang menyebabkan pada otot ini disebut juga otot tak sadar (otonom).

Otot polos membentuk lapisan pada alat-alat dalam tubuh, seperti dinding usus, pembuluh darah, saluran kelamin, dan dinding rahim. Kemudian otot ini juga disebut dengan otot alat-alat dalam. 

Reaksinya yang lambat dan tidak mudah lelah atau terus-menerus bekerja meskipun kita tidur karena tidak dikendalikan manusia secara langsung atau mampu beraktivitas meskipun berada dalam kondisi tidak sadar manusia.

Baik otot lurik ataupun otot polos memerlukan sinergi yang baik guna menghasilkan apa yang disebut dengan surga seksualitas. Sifat otot polos yang tak sadar, lama berkontraksi, dan lambat merespons akan dilengkapi dan diimbangi oleh kinerja otot lurik yang cepat, sadar, dan sebentar. 

Letak otot polos yang salah satunya mendominasi organ kelamin membuat manusia sering terjerumus dalam ketidakmampuan mengendalikan bagian seksualitasnya.

Fungsi otot ini pada organ tubuh manusia ialah sebagai pemberi kontraksi yang memungkinkan zat dari dalam atau dari organ lain bisa memasuki dan menjalankan proses dalam organ tersebut. Gerak peristaltik otot kelamin juga merupakan berkah otot polos yang berkedut-kedut nikmat tak terkendali.

Sedang, letak otot lurik yang mendominasi organ rangka membuat manusia cepat membuat keputusan-keputusan yang berbentuk aksi seksualitas. 

Kesalahan-kesalahan impuls yang dilakukan otot polos, sejatinya, adalah ketidakmampuan alamia manusia itu sendiri. Tidak ada resep satu pun yang mampu mengendalikan otot polos, pun pembiusan.

Baik yang mabuk ataupun sedang sembahyang, jantungnya tetap berdetak. Baik yang melakukan korupsi ataupun melakukan amal kebaikan, lambungnya tetap terus kontraksi. Pun, baik seorang alim ataupun seorang bangsat, kelaminnya akan menegang bila terangsang.

Itulah kedigdayaan otot polos. Sedang otot lurik adalah eksekutor impuls yang sudah terkumpul. Apakah dia mau menebas, memerkosa, masturbasi, lari, tertawa, ataupun orgasme.

Peran dan dominasi otot polos bidang seksualitas dalam dinamika budaya manusia menghasilkan apa yang disebut dengan naluri berkembang biak. Baik yang bertuhan ataupun tak bertuhan, keduanya setuju untuk hal ini. Walaupun tingkat dan kualitasnya berbeda, ada yang melanggengkan lewat marital, nonmarital, abortus, maupun infetus.

Ketika dinamika kebudayaan dan agama mulai memberikan aturan pidana terhadap keganasan otot polos ini pada sisi nonmaritalnya, mereka seakan memihak kepada otot lurik saja yang tampak tiran. Bagaimana tidak, penilaian otot polos yang melakukan kinerjanya dipandang sebelah mata.

Maksudnya begini, dalam skala besar, misal kesalahan impuls otot polos yang melakukan tindak yang dianggap pidana, misalnya kumpul kebo, tidak disejajarkan dengan tindak otot polos yang bersifat atau divonis minor, seperti pemuasan mandiri atau masturbasi ataupun jalur-jalur lainnya yang sejenis. Bukankah jika begitu, “kumpul tangan” atau masturbasi bisa dikonfrontasikan dengan “kumpul kebo”?

Kesetaraan impuls otot polos yang susah terkendali dalam kumpul kebo atau zina dengan impuls otot polos yang juga susah terkendali dalam masturbasi perlu dicermati juga. Jika akur, maka silakan disahkan juga hukum pidana masturbasi. 

Adalah sangat bijak menimbang kesetaraan kesalahan impuls otot polos yang bisa menyasar pada semua tingkat orgasme. Mimpi basah juga merupakan kinerja otot polos yang menghasilkan orgasme.

Ada sebuah hadis yang mungkin kalau terjadi sungguhan, yaitu tentang telapak tangan berbulu pada pelaku masturbasi; maka ini bisa dijadikan delik pidana masturbasi. Delik untuk menghukum kelakuan otot polos di bidang self-service yang dianggap minor. Berapa banyak terpidana karena masturbasi?

Dalam Islam sendiri, pendalaman tentang keganasan dan liarnya otot polos sudah dinyatakan dalam bentuk-bentuk yang lebih profan, seperti Imam Ahmad bin Hanbal menganggap bahwa sperma adalah kelebihan sesuatu dari tubuh, karena itu boleh mengeluarkannya sebagaimana halnya memotong daging yang lebih.

Mereka tidak membuat delik pidana atas masturbasi. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm. Termasuk ahli fikih Hanabilah. Artinya, semua kelemahan itu harus ditutupi (diselesaikan damai), tidak dengan dipidanakan.

Apalagi wacana-wacana yang aneh-aneh tentang hukuman pemutusan saraf libido seseorang yang dimungkinkan untuk dilumpuhkan tanpa mengganggu kerja saraf lainnya. Apa-apaan ini? 

Selama otot polos menempel dan bekerja pada tempatnya, maka hak-hak alamiah manusiawi tidak bisa diselesaikan dengan potong saraf. Ia akan mencari saluran saraf lainnya untuk menerjemahkan impuls liarnya.