Hubungan asmara mungkin suatu hal yang wajar di kehidupan sosial manusia khususnya di kalangan remaja. Semasa menjalin hubungan, biasanya mereka akan menemukan dan lebih mengenal bagaimana cara menunjukan rasa cintanya antara satu sama lain.

Hubungan asmara pada zaman dahulu dan sekarang sangatlah berbeda, kita pasti pernah mendengar cerita dari orang tua kita tentang bagaimana cara mengekspresikan cintanya, jika ingin berkomunikasi saja harus menggunakan surat dan rasanya sangatlah canggung bila ingin berjumpa dan melakukan kencan.

Hubungan asmara pada masa sekarang jauh lebih terbuka dan berani untuk mengungkapkan perasaannya dengan lebih mudah, dikarenakan perkembangan zaman yang terus meningkat, dan di masa sekarang ada satu istilah dalam hubungan asmara yaitu “Love Language”.

Bahasa cinta atau love language pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman pada 30 tahun yang lalu, dalam bukunya yang berjudul five love language yang meneliti bagaimana cara seseorang dalam mengekspresikan cintanya ke dalam berbagai jenis hubungan. 

Namun baru belakangan ini love language marak diperbincangkan di berbagai media sosial, yang sebagaimana baru disadari oleh kalangan remaja bahwa ada bahasa cinta yang bisa membantu memahami karakter pasangannya dalam menjalin hubungan. 

Banyak pendapat jika love language tidak didapatkan seseorang, maka seseorang tidak akan merasa dicintai, Sebaliknya, mereka yang memiliki love language akan merasa lebih dicintai pasangannya. 

Karena kecocokan pasangan dianggap menjadi salah satu kriteria kesuksesan dalam berhubungan guna untuk memberikan rasa nyaman dalam sebuah hubungan.

Love language memiliki banyak cara dalam mengekspresikan bentuk cinta, salah satu caranya adalah melalui sentuhan fisik (physical touch). Biasanya dengan berpegangan tangan, memeluk pasangan atau bahkan berciuman yang akan menjadi sebuah cara untuk menjadikan nya intim.

berpegangan tangan adalah hal yang sangat mudah dilakukan oleh pasangan, lalu memeluk orang yang dicintainya merupakan tindakan ekspresif yang membuktikan bahwa pasangan selalu ada untuknya. 

Namun, terdapat pasangan yang mengekspresikan cintanya dengan berciuman yang memberikan kehangatan, ciuman bisa diberikan di tangan, kening, dan terkadang di bibir.

Terdapat alasan fisiologis mengapa physical touch yang diberikan pasangan dapat menumbuhkan rasa bahagia. Karena kontak dari kulit ke kulit dapat melepaskan hormon dopamin, serotonin, dan oksitosin yang mempunyai keterkaitan terhadap kebahagiaan.

Sepasang kekasih melakukan physical touch karena ingin menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya, ada rasa kegelisahan jika pasangan  tersebut tidak dapat memberikan sebuah sentuhan kepada pasangannya tersebut.

Namun, tidak selamanya physical touch ini mengarah kepada hal yang positif. Banyak orang yang tidak bisa membedakan mana sentuhan cinta dan mana sentuhan nafsu, saat sedang dimabuk cinta ada rasa yang menggebu-gebu yang membuat seseorang melakukan apa saja supaya pasangan nya bahagia.

Secara sederhana, bisa diambil dari contoh memeluk pasangan dengan penuh kasih akan menghasilkan kebahagiaan dan ketenangan. Jika didasari oleh nafsu akan menghasilkan sebuah pikiran negatif yang mendorong untuk melakukan hal yang berlebihan.

Dilansir dari CNN, adapun data tentang kasus kekerasan seksual akibat dari nafsu seseorang terhadap pasangannya sendiri. Kasus kekerasan seksual dalam pacaran ini menempati posisi 3 di ranah privat terbanyak setelah kasus kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap anak perempuan.

Dilansir dari Magdalene, contoh kasus ini kebanyakan diterima oleh seorang wanita akibat nafsu dari pasangannya dengan memanipulatif untuk melakukan apa yang diinginkannya, dan korban menuruti keinginan pasangannya demi mempertahankan hubungan mereka.

Umumnya, tawaran seorang pasangan untuk melakukan manipulatif physical touch yaitu cuddling, ciuman, atau aneka macam sentuhan lain yang dapat meningkatkan keintiman dalam suatu hubungan. Sayangnya, manipulatif ini bukanlah bentuk untuk mengekspresikan cinta.

Mengapa tidak keluar saja dari hubungan itu? ada pertanyaan tersebut yang ramai dibicarakan di media sosial. Salah seorang korban wanita mengaku bahwa sebenarnya korban merasa kesulitan untuk keluar dari zona tersebut.

Kebiasaan tersebut membuat korban kesulitan untuk membedakan apa yang diberikan kepada pasangan itu atas persetujuannya atau tidak, karena korban tidak menyadari bahwa sedang dimanipulasi oleh pasangannya berkat rasa cintanya tersebut.

Kesadaran dalam menjalin hubungan asmara harus lebih ditingkatkan oleh pasangan itu sendiri agar keduanya merasa aman, karena pasangan yang melakukan tindakan seperti itu tidak menyadari bahwa sebenarnya apa yang dilakukan itu salah. Maka dari kasus tersebut terdapat istilah cinta itu buta.

Definisi cinta adalah tentang hubungan emosional yang berarti ingin menghabiskan waktu bersama pasangan sambil melakukan pelukan atau percakapan agar keduanya merasa saling terhubung, sedangkan nafsu adalah tentang hubungan fisik di mana nafsu lebih tertarik dan berpikir tentang bercinta daripada hanya sekedar melakukan percakapan.

Gairah yang timbul terhadap pasangan adalah hal wajar, tapi memaksa atau sampai memanipulasi untuk mendapat apa yang diinginkan itu tidak boleh dilakukan. Jika seseorang tulus menyayangi pasangannya,  dia mampu memahami sebuah perbedaan antara cinta dan nafsu.