Ayo, coba jawab dari skala 1 hingga 5. Skala 1 untuk sangat sedikit dan terus meningkat hingga skala 5 yang berarti sangat banyak.

Seberapa addicted kita terhadap handphone kita?

Setiap berapa detik sekali kita mengecek handphone kita?

Seberapa panik kita saat menyadari handphone kita tertinggal di suatu tempat?

Seberapa stress kita saat koneksi internet kita terputus?

Well, jika total skor jawaban kalian lebih dari 12, itu tandanya hidup kalian sudah really addicted to your mobile phone. Kalo dalam hubungan antar manusia, ini udah dikategorikan Posesif!

Iya, posesif sama Handphone sendiri! Udah ngaku aja,.. hehe

Guys, sadarkah kita dalam era disrupsi seperti sekarang ini, kelekatan hidup kita terhadap handphone benar-benar membuat diri kita terdistraksi dari kehidupan nyata sehari-hari. Virtual Life dan Real Life adalah dua sisi yang berbeda. Semakin lekat kita denga virtual life, maka real life kita justru akan menjauh. Juga sebaliknya.

Maka seperti teori-teori klasik yang selama ini kita dengar, bahwa menemukan titik keseimbangan atau equilibrium state, atau break even point, atau apalah sebutannya itu, menjadi sangat esensial untuk memiliki kehidupan yang seimbang tanpa candu.

Emang kenapa kalau nggak seimbang?

Well, dimana-dimana yang tidak seimbang itu menimbulkan anomali kan, so does our lifes. Jika atensi kita terhadap handphone -which is mostly the virtual life- melalui berbagai platform-nya amat sangat besar, jelas kehidupan nyata kita jadi akan sedikit teracuhkan. Instead, mengunakan waktu 24 jam sehari kita untuk hal-hal yang bermanfaat, malah bakal habis untuk sekedar enganged to our phones.

Pada level tertentu, addiction to our phone bahkan bisa merusak hubungan sosial kita dengan orang-orang di sekitar. Dengan keluarga pastinya. Bagaimana tidak, saat menghabiskan waktu di rumah, bukannya kita membangun bonding dengan orang rumah, kita malah asik mencari content untuk feeds, atau justru sibuk mendengar dan menyaksikan konten orang lain.

Dan jangan heran lho, being addicted to our phone bisa menyebabkan diri kita terkucil dengan sendirinya. Jadi merasa sendirian walaupun semua content kita mendatangkan million claps dan reaksi dari para netijen dan netijah sekalian. Merasa diperhatikan, padahal hanya sementara. Semu. Saat kembali dalam aktifitas harian kita, tiba-tiba terasa hampa, terasa tidak punya teman yang nyaman, terasa tidak memiliki keluarga yang memahami, dan sebagainya. Kalau ini sudah mulai terjadi dalam hidup kita, please donk jangan menyalahkan orang-orang di sekitar kita. Tetapi coba untuk telaah dan sadari mungkin ini sebab kesalahan pribadi kita sendiri.

Oke, tentu saja kita nggak bisa menafikan kebutuhan teknologi seperti handphone di dunia sekarang kan? Tetapi itu tadi, jangan sampai tenggelam. Koentji dari permasalah ini adalah menemukan keseimbangan antara atensi pada handphone dan kehidupan nyata kita.

Buat Batasan antara Kehidupan Nyata dan Kehidupan Virtual 

Jadi, kalau indikasi-indikasi seperti feeling alone, merasa tidak ada yang bisa mengerti, mudah baper dan insecure, atau mood yang berloncatan bagai kuda di savana, bahkan mulai merasa tidak termotivasi melakukan hal baik dalam kehidupan nyata kita, well it’s time to admit kalau kita sudah candu dengan handphone. Kita udah mulai posesif dan mulai tenggelam.

Di saat seperti ini, please hayuklah sadar untuk bangkit dan mengevaluasi sikap-sikap kita yang menyebabkan berbagai emosi negatif tadi berkumpul menjadi satu dalam hati kita.

#ContentBoundaries

Yang bisa kita lakukan paling utama adalah membuat Batasan yang jelas antara kehidupan nyata dan virtual. Harus ada Batasan! Yes, the boundaries! Kita harus pinter memilih mana yang bisa kita post di virtual life untuk dilihat para netizen sekalian dan mana yang harus kita hold untuk kehidupan nyata kita saja. Ini dari sisi kita lho ya. That’s the very first step.

Kita juga harus mulai selektif nih, dalam memilih akun-akun yang kita ikuti. Yes, technology brings millions benefits, tetapi semua tergantung dari click yang kita lakukan. Pilah-pilah lagi akun-akun positif atau link website-website yang memberikan insight dan menambah faedah dalam hidup kita. Ya, salah satunya tulisan ini, hehe #promosi. Dan let’s remove or even block berbagai akun atau website toxic yang cuma membuat kita merosot kebawah dari sisi moralitas maupun akademis.

Ingatlah, bahwa apa yang kita lihat dan dengar adalah makanan bagi otak kita yang akan menuntun perilaku dan tindakan kita. So, bijaklah memilih content. Pastikan yang kita lihat, kita baca, kita dengar, adalah content full faedah yang bisa menambah motivasi hidup dan kebaikan bagi diri kita. Begitu juga saat hendak mem-publish sesuatu, pastikan lagi “apakah yang akan saya bagikan ini memberi manfaat?”

#TimeBoundaries

Dalam sehari, setiap jiwa yang hidup diberi 24 jam oleh Yang Maha Kuasa. Kita juga diberi keleluasaan untuk mengisi 24 jam tadi dengan apapun yang kita mau. Jika diri kita sudah segitu posesif dengan handphone, maka jangan heran jika separuh bahkan lebih dari 24 jam tadi bisa habis hanya untuk enganged to our handphone, entah main game, nonton youtube atau Netflix, scrolling social media, ngecek online news, dan sebagainya!

Nah, untuk menghilangkan addicted tentu saja kita harus mengurangi frekuensi atau kuantitas waktu untuk enganged dengan handphone.

Buatlah komitmen dengan diri sendiri kapan waktu yang tepat untuk benar-benar off from our phone. Istilah ngetrendnya itu disconnect to reconnect.

Nih, kalo posesif, jelas akan menganggu hubungan kita dengan yang lain. Iya kan? Seberapa sering suami-istri bertengkar karena masing-masing cuma sibuk dengan handphone sendiri?! Seberapa sering anak terlantar karena pengasuh atau orang tuanya sibuk main handphone sendiri?! Seberapa sering anak dan orang tua nggak se-frekuensi gegara sibuk dengan handphone masing-masing?!

Maka ini saatnya untuk bener-bener get off of our phone dan memberi atensi yang optimal untuk orang-orang di sekitar kita.

Komit pada diri untuk tidak menyentuh handphone di saat mendampingi anak belajar dan bermain, di saat baru pulang kerja dan bertemu keluarga, di saat olahraga Bersama, di saat jam-jam beribadah. Cobalah untuk disconnect our virtual life to reconnect our real life.

Beri perhatian nyata pada orang-orang sekitar saat menghabiskan waktu Bersama mereka. Selain tindakan ini menyehatkan mental kita, ini juga akan memberi efek positif bagi hubungan kita. Orang akan merasa dihargai saat kita tidak sibuk memainkan handphone saat bersama mereka. Efeknya tentu saja, kehidupan sosial nyata kita akan menjadi lebih berwarna. Kita tidak akan merasa sendiri lagi, kita akan merasa dihargai dimengerti.

 Jadi, ingatlah Kembali untuk menentekun batas yang jelas antara virtual dan real life kita. Jangan sampai addiction ini membuat kita tenggelam pada kebahagian semu yang menghancurkan kehidupan nyata kita di dunia. Embrace the technology, but be wise to use them