Sabtu, 6 April 2019, seorang pria berusia 54 tahun yang berasal dari Tangerang Selatan ditemukan tewas di Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan. Pria tersebut diduga tewas akibat bunuh diri. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi dari perusahaan tempat korban bekerja dan keluarganya, polisi menduga korban depresi karena belum siap untuk pensiun pada bulan April 2019. (Sumber tirto.id 11 April 2019). 

Usia kelima puluh bagi seorang karyawan pemerintah maupun swasta di Negara kita. Saat karier seseorang mencapai titik puncaknya, rumah sendiri, kendaraan R2 & R4, dan sedikit investasi untuk bekal kehidupan setelah pensiun. Namun, sialnya kondisi seperti itu belum tentu dimiliki seluruh karyawan. Realitasnya, sebagian karyawan dihadapkan kenyataan tanpa pilihan alias baru tergerak bersiap meskipun sisa waktu kerja tinggal beberapa tahun.

Paradigma tersebut bisa terjadi di mana pun, termasuk di tempat saya, Anda, dan lokasi lainnya. Karyawan mengalami phobia, semacam perasaan takut berlebihan terhadap suatu hal yang tidak masuk akal, baik itu objek maupun situasi yang sebenarnya tidak menimbulkan bahaya. Tidak seperti gugup umumnya, seperti gugup berbicara atau tampil di depan umum, tapi kondisi berkaitan dengan hal spesifik termasuk menghadapi pensiun.

Setiap kebijakan perusahaan yang berujung pada penerimaan karyawan baru dianggap sebagai penghambat. Pendatang baru dianggap binatang buas siap menerkam, maka untuk mengurangi perasaan takut dengan berburu. Kasak-kusuk, saling sikut, negosiasi dilakukan sebagai upaya berburu untuk mengamankan posisi dan hegemoni kekuasaan.    

Fenomena aktivisme tagar dilakukan untuk menekan ketakutan. Upaya mencuri perhatian serta dukungan moril publik untuk menunjukkan perlawanan (protes sosial). Agar berdaya sebar tinggi digunakan media sosial, seperti WhatsApp, IG, FB, dan cepat populer. Aktivisme tagar juga memungkinkan perubahan di dunia nyata terjadi.

Berbeda dengan praktik aktivisme pada umumnya, aktivisme tagar tidak memerlukan tindakan apa pun dari pengguna selain ‘berbagi’ atau ‘menyukai’ unggahan di media sosial. Aktivisme ini memberikan kesempatan bagi orang biasa — yang tidak memiliki akses ke bentuk-bentuk kekuasaan tradisional — menciptakan narasi baru maupun narasi tandingan yang politis dan menarik sekutu.

Meski membuka peluang bagi siapa pun, aktivisme tagar khususnya di twitter memiliki mesin logika sendiri. Dalam isu ketenagakerjaan, khususnya tagar #Menolaktua menjadi tidak menarik ketika mesin logika bekerja secara akal sehat. Selain berfungsi sebagai media untuk mengorganisasi dan menggalang dukungan untuk “korban”, aktivisme tagar secara tidak langsung membangun kesadaran publik terkait diskursus dan urgensi konteksnya.

Hal ini terbantahkan ketika aktivisme tagar #Menolaktua tidak memunculkan perbincangan kritis dan ruang advokasi memadai. Sehingga isu phobia pensiun hanya menjadi ranah privat dan alami terjadi pada setiap orang yang bekerja pada institusi maupun orang lain. Hanya ketakutan berlebihan atas kecemasan terhadap situasi atau keadaan tertentu.

Tidak ada penyebab pasti yang dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa mengalami phobia. Genetik dan faktor lingkungan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami phobia. Suatu kejadian traumatis juga dapat menyebabkan phobia, seperti misalnya nyaris tenggelam bisa menyebabkan phobia terhadap air. Terkurung himpitan ekonomi, hilangnya kekuasaan, dan lenyapnya fasilitas perusahaan juga dapat menimbulkan phobia.

Akhir-akhir ini, sedang trend di beberapa perusahaan atau lembaga menyelenggarakan pelatihan bagi karyawannya yang akan memasuki masa pensiun. Mungkin ini bukan barang baru, menariknya adalah pelatihan diadakan bukan satu atau dua tahun sebelum pensiun, bahkan lebih lama lagi. Berkisar usia karyawan memasuki usia kepala ke-5 telah diikutkan pelatihan sejenis.

Sebagaimana disampaikan pada paragraph kedua, bahwa usia lima puluh tahun ibarat atlet olah raga adalah golden age. Berada pada puncak karier, kemewahan fasilitas dengan gaji tinggi. Memang, tidak seluruh karyawan dengan usia selevel memiliki kesempatan sama. Tetapi setidaknya sebagai gambaran profiling nya.

Tiba-tiba, mereka mendapat perintah mengikuti pelatihan semacam di atas. Respons spontan yang saya rasakan saat itu bercampur aduk antara percaya dan tidak percaya. Benarkah secepat ini, tapi dengan berbagai alasan apapun saya harus mengikutinya. Sebuah pendekatan sekaligus harapan baru calon penghuni dunia pensiun saat mengikuti pelatihan ini.

Karyawan aktif baik struktural maupun non, secara manusiawi terkejut belajar ketrampilan selama menganggur alias pensiun. Mbak Kubler Ross melalui kurva perubahan menyampaikan, bahwa psikologi manusia sebelum depresi, diawali dari terkejut, dan penolakan. Lima tahun sisa waktu sebelum pensiun, dimaksudkan memberi kesempatan cukup mempersiapkan diri pasca pembelokan grafik kurva agar tidak sampai menyentuh dasar depresi.

Dari grafik terkejut dibelok memotong ke grafik menerima tanpa melalui proses menolak dan depresi. Tentu proses ini tidak dapat sekejap mata, panjang dan pendeknya waktu tergantung kesiapan masing-masing karyawan. Dan, dengan tarikan waktu yang panjang karyawan akan leluasa dalam menentukan sikap posisi. Atau, jangan-jangan sebelum dua tahun pensiun mereka sudah berada di dunia pensiun sebenarnya.

Proses rekonstruksi dan normalisasi kehidupan pasca pensiun telah dinikmati sekalipun karyawan tersebut masih berstatus aktif (belum pensiun). Sedalam itu mbak Kubler membekali para calon penyandang gelar purnawirawan di dunia ini. Agar kita dapat menikmati dengan kebahagiaan dan keberuntungan.

Ini bukan phobia biasa, melainkan peristiwa penangkapan binatang sekaligus mengubah karakter dari buas ke bersahabat.

Semoga manfaat.

Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo.