My mum has a PhD on Corona Virus from WhatsApp University." —@brownandboujiee

Kepingan kata-kata di atas sempat saya temui (walau tidak secara utuh) di Instagram atau media daring lainnya—tepatnya di mana, lupa. Saya penasaran dan memutuskan untuk melacaknya di Google.

Ada sekitar 9,4 juta hasil pencarian per 31 Maret 2020, tatkala saya menyematkan "PhD in Corona Virus from WhatsApp University" di mesin pencarian tercanggih dan termutakhir itu, atau akrab dipanggil “Tuhan Manusia,” konon!

Ia secara sporadis mengurutkan cuitan @brownandboujiee diurutan paling atas di bilik pencarian itu, dan jika anda tidak salah ingat! Iya, betul—tulisan itu berbunyi seperti ini: "My mum has a PhD on Corona Virus from WhatsApp University," yang kemudian saya adopsi menjadi judul tulisan ini.

Jelas cuitan itu sangat provokatif di tengah ingar bingar pandemi Covid-19. Penulis mencoba menerjemahkannya dan kurang lebih berbunyi demikian: "Ibuku meraih gelar PhD Virus Corona dari Universitas WhatsApp."

Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan mengenai refleksi kemanusiaan saat pandemi Covid-19, dampak pandemi terhadap ekonomi global, etika bersalaman saat pandemi, Covid-19 dan pesan cinta dari Italia, atau the day after Corona. Topik macam itu tampaknya sudah dibabat habis oleh sahabat Qureta lainnya seperti Hutomo Aji Nuswantoro, Farouq Nuzulludien Birawa, Titis Nur Ilmi, Marlin Christina, Erick Ebot, dan Teguh Hindarto.

Tulisan ini diracik antara lain untuk menjawab teka-teki yang muncul dalam benak saya ketika melihat gejala meningkatnya intensitas obrolan yang membahas tentang pandemi Virus Corona (Covid-19) di grup-grup WhatsApp.

Pernak-pernik obrolan di grup-grup WhatsApp itu macam-macam seperti: social distancing, anjuran untuk tidak mudik, berbagi tautan terkini terkait Covid-19, berbagi racikan jamu manjur, memviralkan tagar Di Rumah Aja, anjuran mencuci tangan, ada ahli yang sering update korban Covid-19, perbincangan obat atau vaksin yang sudah ketemu lah, hingga saling lontar candaan seputar virus corona. Mungkin hasil percakapan itu kalau di-print melebihi tebalnya skripsi, tesis, atau disertasi.

Sebuah Sketsa Awal

Saya melihat ada hal penting yang luput dari perhatian orang, yaitu kesadaran bahwa kita tidak sendiri dalam grup WhatsApp. Kesadaran itu perlahan kabur—mungkin karena suatu hal yang berdampak pada menurunnya fungsi otak untuk berpikir secara jernih dan bijak.

Saya teringat nasihat orang tuaku ketika ingin bertamu ke rumah tetangga. Apa yang perlu dilakukan agar tetangga kita tidak terusik berkat kehadiranmu? Kita bisa memulainya (misal) dengan mengetahui jam bertamu, jam ia bekerja, atau istirahat (tidur). 

Menariknya adalah belakangan jam-jam itu seolah tak berlaku lagi di dunia virtual. Pantas saja batas-batas waktu untuk bertegur sapa itu kian cair—akibat tidak adanya kuasa atau tidak terbendungnya hasrat/kenikmatan berkirim pesan.

Dalam konteks lain, Savanna Briscoe (2020) sempat mengguncang pembaca dengan tulisan kontroversialnya itu yang berjudul "Social Media Creates More Hurt Than Pleasure," kalau tidak salah menerjemahkan kurang lebih demikian: "Media Sosial Menciptakan Lebih Banyak Luka daripada Kesenangan."

Apabila saya boleh melontarkan joke sejenak, saya ingin berkata:

"Jika semburan lahar panas itu mulai mendekat, maka menu clear chat di grup WhatsApp adalah kunci!"

"Seandainya semburan lahar panas itu makin tak terperikan—just left group."

Tak bermaksud untuk memutus suguhan kudapan di atas, alasan lain yang mendorong saya menjahit tulisan ini adalah mulanya berangkat dari kegelisahan yang saya temui di bagian Esai Pembuka dalam buku "Post-Realitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika" yang berjudul "Cyberspace dan Cybersemiotics: Melimpahnya Tanda dan Meleburnya Realitas" karya Yasraf Amir Piliang (2004).

Dalam tulisan itu, Piliang cukup tergesa-gesa memaparkan tulisannya, terutama mengenai istilah-istilah yang baru saya kenal, atau barangkali saya saja yang kurang piknik sebelumnya. Itulah yang meninggalkan sedikit bekas agar suatu saat saya mampu mengurai kembali relung pikirannya itu, bisa jadi sekarang ini. Mari kita cermati salah satu materi yang dibahas dalam esai pembuka tersebut.

"Hiper-produksi tanda dan percepatan dalam pergantiannya telah menimbulkan efek pada kapasitas manusia dalam menangkap, memersepsi, memberi nilai, dan memaknai tanda-tanda itu. Tanda, pesan, dan informasi muncul di dalam cyberspace terkadang dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi, sehingga melampaui kapasitas kognitif dalam memahaminya."

Kutipan itu menjadi penjembatan perbincangan yang terdapat dalam paragraf selanjutnya di esai pembukanya. Ia setidaknya menyuguhkan dua basis utama yang menjadi pijakan; (1) basis sosial, dan (2) basis komunitas atau jaringan (network). Saya akan mencoba merelasikan keduanya.

Dalam cyberspace, tanda, pesan, dan informasi yang kita terima tidak mempunyai basis sosial atau ia menyebutnya sebagai tanda lingustik di kehidupan masyarakat—yang memiliki norma atau aturan jelas dan mengikat. Ia kemudian mengartikan cyberspace sebagai ruang artifisial hasil kontruksi teknologis, yang di dalamnya lahir relasi kompleks antara tanda dan realitas.

Basis kedua yang saya sebutkan sebelumnya itu berbanding terbalik dengan basis yang pertama karena sifatnya yang dinamis. Tanda, pesan, informasi yang berupa gambar, simbol, cerita, narasi, atau teks-teks yang kita temui di grup-grup WhatsApp itu selalu dinegosiasikan.

Secara tidak sadar, hampir setiap hari kita selalu dijejali dengan tanda-tanda yang melimpah—berupa teks-teks, gambar-gambar, atau video-video yang bertopik tak jauh dari pandemi Covid-19 dalam grup-grup WhatsApp. Alhasil, otak kita "dipaksa" menerima puluhan atau bahkan ratusan informasi dalam sekejap—tiap detik, lintas waktu, real time, hingga dari belahan dunia—menerobos batas-batas negara.

Tanda-tanda yang "berjumlah besar" dan "berkecepatan tinggi" itulah yang berimplikasi terhadap cara-cara orang berkirim pesan, lebih mengerikannya lagi, ia mampu "mengerdilkan" cara-cara orang berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan dalam berkirim pesan.

Oleh karena itulah, WhatsApp University berhasil meluluskan ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan PhD in Corona Virus atau tepatnya PhD in Covid-19.

#SebuahRenungan