10 bulan lalu · 847 view · 5 menit baca · Agama 40899_91385.jpg
aswajamuba.blogspot.com

Peyorasi dan Bias Makna Hijrah

Autokritik dan Sebuah Refleksi

Apa tafsirmu tentang hijrah? Bagaimana tadabbur-mu terhadap maknanya? Wa mā adrāka mal hijrah? Kenapa gerangan hijrah pada masa kini? 

Rentetan pertanyaan-pertanyaan tersebut bagai peluru yang memberondongi celah-celah di sudut benak saya. Berkelindan, satu per satu saling menagih haknya masing-masing.

Baru-baru ini, saya menemukan suatu ilustrasi fenomena salah hijrah yang berisi sebuah refleksi:

Sebelum hijrah, “Aku pendosa, aku penuh dosa.” Setelah hijrah, “kalian pendosa, kalian penuh dosa, bid’ah, sesat, ahli syubhat!” (sumber: akun Instagram @ala_nu)

Seakan-akan, dari ilustrasi yang dibikin meme di atas, hijrah merangsang orang untuk menjadi kaum puritanisme. Memaksakan segalanya, mulai dari ibadah sampai mu’amalah, haruslah suci, murni, dan tanpa noda dan nihil dosa sama sekali. Angan di atas angan.

Maka, atas dasar demi pemenuhan HAP (Hak Asasi Pertanyaan) dari diri sendiri, saya pun menelaah kembali tentangnya. Namun, tidak berniat menguraikan arti etimologisnya secara panjang lebar. Lebih ke core, atau makna terminologis dari tema hijrah.

Dahulu, istilah hijrah dipakai oleh Rasulullah ketika melakukan perjalanan dari satu tempat (kota) ke tempat lain. Kaum yang ikut beliau berhijrah, kelak disebut muhajirin. Meskipun, secara historis-linguistik dalam bahasa Arab, akan diketemukan pula term ini, hanya saja penggunaannya yang berbeda. Yaitu ada “hijrah fisik” dan hijrah secara “nilai”.

Tatkala mengamati suatu hadits, Rasulullah saw. ternyata mengisyaratkan makna hijrah sebagai demikian,


“Hakikat seorang muslim (yang sejati) adalah terhindarnya umat Islam lainnya dari lisan dan tangannya. Sedang hakikat orang hijrah ialah orang yang meninggalkan larangan Allah.” (HR. Bukhari)

Otomatis, nilai hijrah yang dikemukakan dalam hadits, lebih terutama menyangkut dimensi “esoteris”. Bukan sekadar ranah “eksoteris” atau yang tampak dari luar. Ini sama sekali bertolak-belakang dengan pandangan mainstream yang akhir-akhir ini sempat digemborkan. Bahwa hijrah seakan diteladani sebagai perubahan tampilan thok.

Peralihan dari gaya A ke style X. Dari tak berjilbab menjadi berjilbab, dari tak berjanggut, sampai memaksakan diri untuk menumbuhkan janggut, umpamanya. Betul kalau hal yang seperti ini memang baik.

Namun esensi dari hijrah tidak cuma berhenti pada persoalan yang primordial, atau urusan permukaan. Hijrah, secara substansial, ia melampaui batas-batas ‘penampakan-luar’ yang malah kerap jatuhnya hanya sebagai “pseudo-performancean sich—yang sering menipu dan mengelabui.

Kalau benar begitu, maka maling “kelas teri” yang mulanya berpenampilan ala preman, kemudian ia melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Lantas setelah lulus, ia kembali mencuri—korupsi—dengan teknik pencurian yang semakin canggih bin dahsyat, sehingga ia pandai berkamuflase, dan menunjukkan mimik wajah yang seolah tanpa dosa, bahkan sekalipun akhir kisahnya telah terdakwa sebagai koruptor.

Maka gambaran di atas pun akan layak disebut sebagai hijrah, jika bias makna dan peyorasi ini masih dipertahankan.

Contoh lain, tidak sedikit pula yang mengasosiasikan makna hijrah ke nikah muda. Terlebih si pemantik wabah hijrah yang diasosiasi-maknakan dengan “nikah muda” ini, telah bercerai justru di usia pernikahan yang seumur ‘bayi saja belum’.

Lagi-lagi ini semakin membenihkan bibit lumut kegelisahan di akal. Kemudian ada yang menyahut, loh, kenapa gitu aja kok gelisah? Kan bisa memilih untuk abai? Iya, bisa saja. Namun maaf sebelumnya, bagi saya, tanda kewarasan manusia adalah justru dengan adanya kegelisahan pada dirinya—asalkan dengan dosis dan kadar yang wajar.


Bahkan lebih jauh lagi, diakui ataupun tidak, sikap abai atau perilaku “apatisme” sama sekali tidak akan memberikan dampak dan solusi apa pun, kecuali mempercepat irama pembusukan dan akselerasi dekadensi moral dalam kebudayaan dan peradaban suatu bangsa, especially di Ibu Pertiwi, Indonesia.

Juga, kalau “keabaian” dipelihara, bisa-bisa nanti ujung-ujungnya menjadi sebuah katalisator laju dari reffren proses penghancuran anasir-anasir mulia dalam nilai luhur perikemanusiaan yang selama ini dipertahankan, hingga sampai hari esok yang jauh.

Itu sama saja kita menabung kerusakan demi kerusakan di hari depan. Atau secara halusnya, sama saja kita menambal lubang dengan linggis, membalut luka dengan belati, memangkas rumput dengan ilalang. Berniat membenahi, tetapi hanya cuek berdiam diri. Sungguh hal yang muspro belaka.

Memang, menilik persoalan di jaman now ini mengundang rasa takjub sekaligus heran. Banyak hal yang mengalami pendangkalan-pendangkalan, istilah-istilah mesra, merdu, asyik hingga rindu dipolitisir sedemikian rupa—untungnya para penyair tidak mudah gusar.

Tidak jarang pula kata yang menderita ‘kebuntuan-nilai’, pembalikan makna, tereduksi, dan distortif. Konotasi didenotasikan, dan sebaliknya, denotasi dikonotasikan. Yang besar dikecilkan, yang luas disempit-sempitkan, yang luhur disepelekan, yang remeh-temeh diagung-agungkan. Tik-tok diviralkan, video edukatif dipinggirkan.

Aih, bagaimana mau maju dan damai kalau masih begini?

Sebab, kalau dalam kajian The Psychology of Hatred (Psikologi Kebencian) itu mayoritas diakibatkan oleh minimization, maximization, over-generalization, dan catastrophic thinking. Bagaimana bisa rukun dan tidak bias makna, jika menghindari salah satu dari faktor-faktor tersebut saja, kita masih keteteran?

Boleh jadi, malaikat Isrofil pun, sang Peniup Sangkakala, akan gatal-gatal melihat tingkah-polah dan pemikiran manusia abad postmodern ini. Hingga mungkin beliau sampai-sampai tidak sengaja kelepasan meniup Alarm Kiamat yang ada di ‘tangannya’ itu—wewenangnya sesuai job-desc—sebelum masanya tiba.

Lalu Tuhan pun membentaknya, sambil geleng-geleng tertawa. Betapa akan lucu bin konyol bila hal demikian benar-benar terjadi.

Ini sekadar banyolan, dagelan, sekaligus pasemon. Sindiran yang dimaksudkan agar pihak yang dituju menyadari untuk memperbaiki apa yang disindirkan padanya. Bukan berarti saya merasa paling benar. Tidak. Karena, toh, saya sepakat dengan Pidi Baiq, “kalau kamu benar, jangan merasa paling benar. Aku saja kalau salah, tidak merasa paling salah.”


Lantas, kembali ke hijrah.

Dari beberapa uraian di atas, bagaimana kira-kira hijrah yang sesungguhnya? Jawaban yang saya peroleh, untuk sementara ini, hijrah ialah berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kegelapan menyongsong cahaya, dengan tanpa menyengajakan “amnesia” bahwa kita ini tetap manusia—yang tak lain merupakan gudang salah dan lupa. Kita ini bukan malaikat, Kisanak.

Kemudian jika kita berniat hijrah, physically and spiritually, kenapa tidak hijrah ke Kulon Progo, atau menjadi relawan di Asmat sana, atau terjun bersama BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di Lombok, setelah rinjani meletus dan gempa susulan sertelah erupsi terjadi sebayak 124 kali hingga data terbaru dicatat telah bertambah dahsyat menjadi 459 kali pasca erupsi?

Tidakkah itu lebih bermanfaat dan mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain—yang outputnya akan pula membahagiakan diri kita sendiri? Kan, kita sama-sama pernah membaca percikan kalimat dari Mark Twain, bahwa “cara terbaik untuk membahagiakan diri sendiri, adalah dengan membahagiakan orang lain.”

“Menyenangkan seseorang dengan suatu tindakan adalah lebih baik daripada ribuan kali menundukkan kepala dalam doa.”

-Saa’di, penyair Persia-

Artikel Terkait