87217_44078.jpg
Puisi · 1 menit baca

Peupuesisi

Seorang Gadis Berlumur Getah

Kutemukan kau pada ujung bilah pisau
Teriakan lantang bernada cemas sedikit parau
Kalimat-kalimat bisu itu,
ialah caramu menyebut gelisah
Segala pikiran yang sudah telanjur dipaksa menyerah
Kini hanya tinggal menunggu waktu saja
hingga angin mendorongmu jatuh ke dasar sana
Tidak akan ada yang bisa diselamatkan darimu
selain rasa benci terhadap masa lalu

Berterima kasihlah,
aku masih sempat meraih tanganmu tapi
balasanmu berbeda. Merah pipi kiriku contohnya.
Juga telapak kaki berlumuran darah bekas
perjalanan panjang menujumu.

Tenang,
aku masih menyisakan pipi sebelah kanan jika saja
kau ingin memberi merah dari bibirmu.
Juga rentang tangan yang sewaktu-waktu bisa
kau gunakan untuk pulang.
Dadaku sebagai bantal; merebahkan segala bentuk
gelisah itu juga resahnya.


Cuma-cuma Aku

Sewaktu aku menemukanmu
hatimu beku,
hujan bukan penyebab melainkan dirimu sendiri.
Malam tidak pernah ikut campur
dalam urusan ini,
kau butuh sedikit cahaya dan itu aku.

Kau harus tahu tentang apa yang semestinya lesap
di setiap sesap kretek menjelang tertelap.
Mencintai juga perlu beristirahat, saat mata ditemukan gelap.
Bahagia bukan janji, ia adalah kata
yang dipaksa cerlang agar lebih berarti lagi; agar
kau merasa bahagia juga.
kunamai saja senyummu sebagai pelukan
hangat dan keningmu ialah tempat
bagi kecup bibirku untuk pulang.


Susahnya Menemukanmu

Mencari tidak semudah orang yang tanpa sengaja menemukan.
Sebagai awal, kita butuh beberapa
percakapan panjang di jelang tidurmu.
Meja di ruang pustaka selalu memberi kita kesempatan untuk berdua.
Bertatap lebih lama, hanya dengan sepasang matamu saja
aku ingin meluangkan waktu untuk melihat hal-hal apa saja yang mampu membuatmu bahagia.
Tidak lebih. Sebab mencintaimu tidak butuh waktu lama,
cukup sesuatu yang membuatku merasa sederhana. Bertukar senyum misalnya.
Sungguh.. aku mencintaimu oleh sebab hal baik dan lucu.